BRUSSELS, RABU — Untuk ketiga kalinya, Ukraina menyerang Jembatan Kerch yang dibuat Rusia. Memakai 1,1 ton bom, serangan itu bagian dari kejutan Ukraina. Serangan dilancarkan kala Amerika Serikat terus menjauh.
Indikasi AS menjauh antara lain ketidakhadiran Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam forum di Brussels, Belgia, pada Rabu (4/6/2025). Seorang pejabat pertahanan AS yang menolak identitasnya diungkap menyebut bahwa Hegseth sama sekali tidak ikut dalam forum negara-negara pendukung Ukraina tersebut.
Hegseth tidak akan hadir secara fisik atau via telekonferensi. AS hanya akan diwakili Panglima Komando Operasi Eropa Jenderal Christopher Cavoli.
Sementara itu, Juru Bicara Dephan AS Sean Parnell menyatakan, Hegseth akan ke Brussels pada Kamis. Di sana, ia akan ikut pertemuan para menteri pertahanan anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Setelah itu, ia ke Normandia, Perancis, untuk memperingati pendaratan pasukan Sekutu di Perancis pada Perang Dunia II.
Forum di Brussels hari ini diinisiasi pemerintahan AS era Joe Biden. Tujuannya mengumpulkan para penyokong Ukraina dalam perang menghadapi pendudukan Rusia. Menhan AS era Biden, Lloyd Austin, selalu hadir dalam forum itu.
Dalam forum itu ada 50 negara yang telah memberikan bantuan bernilai 126 miliar dollar AS ke Ukraina. Hingga 67 miliar dollar AS diberikan Washington DC.
Dampak ketidakhadiran
Sejak Donald Trump menggantikan Biden, AS terkesan terus menjauh dari Ukraina. Bahkan, AS melepaskan kepemimpinan forum penyokong Ukraina. Kini, Jerman-Inggris jadi ketua bersama forum itu.
Ketidakhadiran Hegseth dinilai bisa berdampak negatif. Hal itu disampaikan Liana Fix, peneliti Eropa di Council on Foreign Relations, dan Michael Kimmage, profesor sejarah Universitas Katolik Amerika di Washington.
Dilansir dari Foreign Affairs, dampak ketidakhadiran AS di forum itu bukan tambahan pencaplokan Rusia atas Ukraina. Dampaknya, Eropa mungkin kehilangan kemauan politik berhadapan dengan Rusia.
Menurut mereka, perang melawan Rusia tanpa dukungan teknologi AS akan sangat sulit. Kesulitan tetap ada meski Eropa mau membantu. ”Kepemimpinan Ukraina tahu apa yang dipertaruhkan, dan tahu apa yang diharapkan. Kyiv harus membuat pilihan sulit tentang wilayah mana yang dapat dipertahankan,” kata mereka.
Mereka menilai keengganan AS hadir di Belgia sebagai langkah awal keluar meninggalkan payung pelindungan untuk Eropa. Padahal, AS telah mendapatkan konsesi pengelolaan mineral di Ukraina.
Kondisi itu bisa menguntungkan Rusia. Meski sudah tiga tahun berperang di Ukraina, militer Rusia dinilai tetap lebih unggul dibandingkan militer negara-negara lain di Eropa.
”Moskwa mungkin tergoda menakut-nakuti Eropa agar tunduk. Beberapa pemimpin Eropa mungkin memilih bersikap lunak daripada mengambil risiko kemarahan Rusia,” lanjut mereka.
Rusia mungkin saja membuat kampanye soal langkah lanjutan terhadap Eropa. Salah satu dari negara Baltik, bahkan mungkin sampai Romania, bisa jadi sasaran.
Presiden Rusia Vladimir Putin dituding akan memakai alasan sama dengan yang digunakan di Ukraina. Alasan itu adalah para penutur bahasa Rusia di Baltik atau negara lain sedang terancam. Karena itu, Rusia harus bertindak menolong orang-orang tersebut.
Di sisi lain, Fix-Kimmage tidak yakin Rusia mampu merebut wilayah lain di luar Ukraina. Hal terjauh yang bisa dilakukan Rusia adalah memecah belah anggota NATO dan Uni Eropa. Rusia juga bisa jadi merusak ambisi Eropa punya kemampuan pertahanan mandiri dari AS.
Serangan lanjutan
Ukraina terus melancarkan serangan kejutan ke Rusia. Untuk ketiga kalinya sejak invasi Rusia ke Ukraina tahun 2022, Ukraina menyerang jembatan di Selat Kerch, Selasa (4/6/2025).
Badan Keamanan Nasional (SBU) Ukraina mengklaim menggunakan 1,1 ton bahan peledak untuk menyerang jembatan buatan Rusia itu. Bom-bom itu merusak pilar-pilar jembatan penghubung Semenanjung Crimea dengan wilayah lain di Rusia.
Moskwa menduduki Crimea pada 2014. Sampai sekarang, pendudukan itu tidak diakui komunitas internasional.
SBU menyebut, serangan dirancang beberapa bulan lalu. Pada Selasa pagi waktu setempat, bom yang dipasang diam-diam itu diledakkan.
Lalu lintas jembatan yang menjadi jalur pasokan vital bagi militer Rusia itu sempat dihentikan pada pagi hari, tak lama setelah ledakan terjadi. Akan tetapi, otoritas Rusia menghentikan kembali lalu lintas di atas jembatan tersebut pada Selasa sore.
Selain menangguhkan lalu lintas di jembatan tersebut, otoritas Rusia menghentikan sementara lalu lintas laut di perairan lepas pantai Sevastopol, kota terbesar di Crimea, menurut media pemerintah RIA Novosti.
Tingkat kerusakan akibat ledakan tersebut belum jelas. Meski begitu, serangan tersebut adalah contoh upaya militer Ukraina untuk memberi kejutan terhadap militer Rusia sekaligus memperlihatkan bahwa mereka tidak akan menyerah begitu saja dalam perang tersebut.
Sehari sebelumnya, SBU melancarkan serangan menggunakan pesawat nirawak terhadap sejumlah jet tempur pengebom milik militer Rusia yang ditempatkan di sejumlah lapangan udara Rusia. Vasul Malyuk, Kepala SBU, mengklaim, serangan itu merugikan Rusia hingga 7 miliar dollar AS.
Pada hari yang sama, pesawat nirawak Ukraina juga menyasar kapal-kapal induk pengangkut rudal jelajah strategis Rusia yang digunakan untuk menghantam kota-kota Ukraina selama perang. (AP/REUTERS)
BRUSSELS, RABU — Untuk ketiga kalinya, Ukraina menyerang Jembatan Kerch yang dibuat Rusia. Memakai 1,1 ton bom, serangan itu bagian dari kejutan Ukraina. Serangan dilancarkan kala Amerika Serikat terus menjauh.
Indikasi AS menjauh antara lain ketidakhadiran Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam forum di Brussels, Belgia, pada Rabu (4/6/2025). Seorang pejabat pertahanan AS yang menolak identitasnya diungkap menyebut bahwa Hegseth sama sekali tidak ikut dalam forum negara-negara pendukung Ukraina tersebut.
Hegseth tidak akan hadir secara fisik atau via telekonferensi. AS hanya akan diwakili Panglima Komando Operasi Eropa Jenderal Christopher Cavoli.
Serial Artikel
Perundingan Belum Mengarah pada Gencatan Senjata, Pertempuran Rusia-Ukraina Berlanjut
Perundingan putaran kedua masih jauh dari kesepakatan gencatan senjata. Pada saat yang sama, pertempuran di garis depan terus berlangsung sengit.
Sementara itu, Juru Bicara Dephan AS Sean Parnell menyatakan, Hegseth akan ke Brussels pada Kamis. Di sana, ia akan ikut pertemuan para menteri pertahanan anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Setelah itu, ia ke Normandia, Perancis, untuk memperingati pendaratan pasukan Sekutu di Perancis pada Perang Dunia II.
Forum di Brussels hari ini diinisiasi pemerintahan AS era Joe Biden. Tujuannya mengumpulkan para penyokong Ukraina dalam perang menghadapi pendudukan Rusia. Menhan AS era Biden, Lloyd Austin, selalu hadir dalam forum itu.
Dalam forum itu ada 50 negara yang telah memberikan bantuan bernilai 126 miliar dollar AS ke Ukraina. Hingga 67 miliar dollar AS diberikan Washington DC.
Dampak ketidakhadiran
Sejak Donald Trump menggantikan Biden, AS terkesan terus menjauh dari Ukraina. Bahkan, AS melepaskan kepemimpinan forum penyokong Ukraina. Kini, Jerman-Inggris jadi ketua bersama forum itu.
Ketidakhadiran Hegseth dinilai bisa berdampak negatif. Hal itu disampaikan Liana Fix, peneliti Eropa di Council on Foreign Relations, dan Michael Kimmage, profesor sejarah Universitas Katolik Amerika di Washington.
Dilansir dari Foreign Affairs, dampak ketidakhadiran AS di forum itu bukan tambahan pencaplokan Rusia atas Ukraina. Dampaknya, Eropa mungkin kehilangan kemauan politik berhadapan dengan Rusia.
Menurut mereka, perang melawan Rusia tanpa dukungan teknologi AS akan sangat sulit. Kesulitan tetap ada meski Eropa mau membantu. ”Kepemimpinan Ukraina tahu apa yang dipertaruhkan, dan tahu apa yang diharapkan. Kyiv harus membuat pilihan sulit tentang wilayah mana yang dapat dipertahankan,” kata mereka.
Serial Artikel
Rusia dan Ukraina Baru Sepakati Pertukaran Tawanan Perang
Perundingan pertama Rusia-Ukraina belum membuahkan gencatan senjata. Rusia malah menyatakan siap berperang selama mungkin seperti perang 21 tahun melawan Swedia.
Mereka menilai keengganan AS hadir di Belgia sebagai langkah awal keluar meninggalkan payung pelindungan untuk Eropa. Padahal, AS telah mendapatkan konsesi pengelolaan mineral di Ukraina.
Kondisi itu bisa menguntungkan Rusia. Meski sudah tiga tahun berperang di Ukraina, militer Rusia dinilai tetap lebih unggul dibandingkan militer negara-negara lain di Eropa.
”Moskwa mungkin tergoda menakut-nakuti Eropa agar tunduk. Beberapa pemimpin Eropa mungkin memilih bersikap lunak daripada mengambil risiko kemarahan Rusia,” lanjut mereka.
Rusia mungkin saja membuat kampanye soal langkah lanjutan terhadap Eropa. Salah satu dari negara Baltik, bahkan mungkin sampai Romania, bisa jadi sasaran.
Presiden Rusia Vladimir Putin dituding akan memakai alasan sama dengan yang digunakan di Ukraina. Alasan itu adalah para penutur bahasa Rusia di Baltik atau negara lain sedang terancam. Karena itu, Rusia harus bertindak menolong orang-orang tersebut.
Di sisi lain, Fix-Kimmage tidak yakin Rusia mampu merebut wilayah lain di luar Ukraina. Hal terjauh yang bisa dilakukan Rusia adalah memecah belah anggota NATO dan Uni Eropa. Rusia juga bisa jadi merusak ambisi Eropa punya kemampuan pertahanan mandiri dari AS.
Serial Artikel
Ukraina Akui Tentaranya Menyusup ke Belgorod
Tentara Ukraina kini ada di dua provinsi Rusia, Kursk dan Belgorod. Gencatan senjata terbatas tak kunjung terwujud.
Ukraina terus melancarkan serangan kejutan ke Rusia. Untuk ketiga kalinya sejak invasi Rusia ke Ukraina tahun 2022, Ukraina menyerang jembatan di Selat Kerch, Selasa (4/6/2025).
Badan Keamanan Nasional (SBU) Ukraina mengklaim menggunakan 1,1 ton bahan peledak untuk menyerang jembatan buatan Rusia itu. Bom-bom itu merusak pilar-pilar jembatan penghubung Semenanjung Crimea dengan wilayah lain di Rusia.
Moskwa menduduki Crimea pada 2014. Sampai sekarang, pendudukan itu tidak diakui komunitas internasional.
SBU menyebut, serangan dirancang beberapa bulan lalu. Pada Selasa pagi waktu setempat, bom yang dipasang diam-diam itu diledakkan.
Lalu lintas jembatan yang menjadi jalur pasokan vital bagi militer Rusia itu sempat dihentikan pada pagi hari, tak lama setelah ledakan terjadi. Akan tetapi, otoritas Rusia menghentikan kembali lalu lintas di atas jembatan tersebut pada Selasa sore.
Selain menangguhkan lalu lintas di jembatan tersebut, otoritas Rusia menghentikan sementara lalu lintas laut di perairan lepas pantai Sevastopol, kota terbesar di Crimea, menurut media pemerintah RIA Novosti.
Tingkat kerusakan akibat ledakan tersebut belum jelas. Meski begitu, serangan tersebut adalah contoh upaya militer Ukraina untuk memberi kejutan terhadap militer Rusia sekaligus memperlihatkan bahwa mereka tidak akan menyerah begitu saja dalam perang tersebut.
Sehari sebelumnya, SBU melancarkan serangan menggunakan pesawat nirawak terhadap sejumlah jet tempur pengebom milik militer Rusia yang ditempatkan di sejumlah lapangan udara Rusia. Vasul Malyuk, Kepala SBU, mengklaim, serangan itu merugikan Rusia hingga 7 miliar dollar AS.
Pada hari yang sama, pesawat nirawak Ukraina juga menyasar kapal-kapal induk pengangkut rudal jelajah strategis Rusia yang digunakan untuk menghantam kota-kota Ukraina selama perang. (AP/REUTERS)