Tiga wanita Palestina menjadi korban pertama perang Iran melawan Israel dan Amerika.
23 Mar 2026 07:00 WIB · Internasional
AFP
Setelah selama tiga minggu warga Palestina di Tepi Barat menjadi penonton saat Iran dan Israel saling menyerang dengan rudal, Rabu (18/3/2026), empat wanita tewas jadi korban akibat perang tersebut. Sebuah rudal yang disebut milik Iran meledak tak jauh dari karavan yang berfungsi sebagai salon kecantikan, tempat belasan wanita sedang merawat kecantikan.
Rudal itu meledak hanya beberapa langkah dari salon kecantikan. Pecahan peluru merobek dinding salon, menghancurkan peralatan dan perlengkapan salon, menewaskan empat dari belasan pelanggan, dan melukai sisanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/22/50a26567-74ee-482e-b39b-2b91e14587b3.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/22/c88e0fd6-0192-4c5c-8f14-d2fffbef4206.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/22/a099125c-0a9e-4aae-9cf9-420826783303.jpg)
Sebuah jet tempur Israel terbang di atas langit kota Nablus di Tepi Barat pada Jumat (20/3/2026). Amerika Serikat dan Israel memulai perang pada 28 Februari 2026, dengan menyerang Iran dan membunuh pemimpin tertingginya.
AFP/Zain JAAFAR
Sepatu berlumuran darah terlihat di antara puing-puing di salon kecantikan yang rusak dalam serangan mematikan Iran di desa Tepi Barat Beit Awa, dekat Hebron, Kamis (19/3/2026).
AP/Mahmoud Illean
Warga menguburkan salah satu dari tiga wanita Palestina yang tewas dalam serangan rudal Iran di kota Beit Awa dekat kota Hebron di Tepi Barat pada Kamis (19/3/2026).
AFP/HAZEM BADER
Serangan itu menewaskan Sahera, bersama tiga wanita lain dari keluarga Masalmeh di Beit Awa, Maes, Aseel, dan Amal. Seorang balita yang dibawa ibunya ke salon perawatan dikabarkan menjadi salah seorang korban yang terluka. Palang merah Palestina mengatakan, beberapa korban luka harus menjalani operasi atau amputasi.
Saat teman dan kerabat berkumpul pada Kamis di lokasi kejadian, ratusan cangkir kopi dan kuku aklirik berserakan di lantai salon, bercampur dengan noda darah kering. Lubang-lubang kecil yang disebabkan serpihan bom terlihat di dinding-dinding salon.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/22/b2b29b86-f8ad-473a-974e-892a1213049c.jpg)
Kota Beit Awa, yang terletak di sekitar Debron Hills, adalah kawasan yang menghadap ke tembok beton yang memisahkan kota-kota Palestina dari Israel, selama ini menjadi titik rawan kekerasan antarpemukim. Daerah ini telah berjuang secara ekonomi sejak Israel mencabut puluhan ribu izin kerja Palestina akibat serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Di Israel, saat sirene meraung sebagai tanda adanya serangan, penduduk di daerah Israel segera berlari ke tempat perlindungan yang banyak disediakan. Berada di tempat perlindungan ini sering kali beberapa kali sehari.
Namun, bagi penduduk Palestina yang berada di dekatnya, terpisah sebuah tembok beton, suara sirene bukanlah suatu pertanda tertentu. Mereka menjalani aktivitas seperti biasa, hampir tidak berhenti, bahkan ketika sirene meraung di kejauhan atau suara intersepsi terdengar di atas kepala. Palestina tidak mempunyai dan tidak menyiapkan tempat perlindungan darurat seperti halnya Israel.
Begitulah yang terjadi pada Rabu malam ketika sirene berbunyi dari permukiman Negohot di Israel yang berjarak 3 kilometer. Hanya sedikit yang bereaksi sampai seorang pelanggan melihat suar merah di langit dan Hadeel segera menyuruh semua orang masuk ke dalam karavan.
Meskipun bukan target, warga Palestina telah menyaksikan rudal melesat di atas kepala setiap malam dan pencegat Israel meledakkannya di atas. Pecahan rudal mengenai bangunan, seperti terjadi di luar kota Nablus di Tepi Barat, pekan lalu. Pecahan rudal tersebut menembus sebuah rumah berlantai tiga saat pemiliknya sedang melaksanakan shalat Maghrib.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/22/35487485-fd9d-4da8-a143-89199f5b9f6b.jpg)
Bagi penduduk Palestina yang tinggal di sekitar Beit Awa dan banyak orang di daerah tersebut, rasa tidak aman berada di antara Israel dan Iran secara geografis sulit dihindari. ”Kita berada di antara dua pilihan yang sulit,” kata Mahmoud, seorang warga Palestina di Beit Awa. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Yuniadhi AgungPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto