PAM Jaya Gratiskan Biaya Sambungan Perpipaan untuk Pelanggan Baru

Program ini diperuntukkan bagi warga yang tinggal di area yang telah ditentukan. Ketentuannya, mereka membayar uang jaminan langganan sebagai deposit di PAM Jaya.

04 Jan 2025 14:31 WIB · Metro

Oleh Atiek Ishlahiyah Al-Hamasy

JAKARTA, KOMPAS - PAM Jaya bersama Kementerian Pekerjaan Umum meluncurkan program sambungan gratis bagi pelanggan baru. Upaya ini untuk mempercepat pencapaian target 100 persen cakupan layanan air perpipaan pada tahun 2030. Namun, program ini diperuntukkan bagi warga yang tinggal di area yang telah ditentukan dengan ketentuan membayar uang jaminan langganan sebagai deposit.

Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin mengatakan, pelanggan baru hanya diharuskan membayar uang jaminan langganan (UJL) sebagai deposit. Uang tersebut akan dikembalikan sepenuhnya jika pelanggan memutuskan untuk berhenti berlangganan layanan air PAM Jaya.

"Inisiatif ini dapat memberikan solusi yang terjangkau dan fleksibel bagi pelanggan baru," tutur Arief, Sabtu (4/1/2025).

Adapun biaya pasang koneksi baru telah diatur dalam Surat Keputusan (SK) Direksi Nomor 58 Tahun 2022 tentang Biaya Penyambungan Air Minum. Untuk kelompok K-1 dan K-2 tarifnya mulai dari Rp 627.000 hingga Rp 45 juta, tergantung besaran diameter meter air yang dipasang.

Dalam mendukung program sambungan gratis ini, PAM Jaya mendapat tambahan suplai air dari Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional Jatiluhur Tahap I yang telah beroperasi pada pertengahan Desember 2024. Sistem ini dapat menyediakan suplai air bersih sebanyak 4.000 liter per detik yang akan mendukung sekitar 300.000 sambungan rumah baru pada tahun 2028.

Selain itu, PAM Jaya memperluas jaringan pipa besar-besaran di Jakarta Timur guna mendukung program sambung gratis ini. Perluasan tersebut akan mencakup sepuluh wilayah utama.

Kolam utama pengelolaan air baku di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Buaran, Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, Kamis (2/2/2023).

Wilayah yang terlibat dalam perluasan jaringan pipa ini ialah Kelurahan Cipinang Besar Utara, Cipinang Besar Selatan, Cipinang Muara, dan Duren Sawit. Selain itu, ada Kelurahan Pulogebang, Klender, sebagian wilayah Cipinang, Pondok Bambu, Jatinegara Kaum, dan Penggilingan.

"Perbaikan infrastruktur ini akan memungkinkan warga di wilayah tersebut untuk mendapatkan akses yang lebih andal terhadap air bersih melalui jaringan perpipaan," kata Arief.

Menurut Arief, beroperasinya SPAM Jatiluhur Tahap I menjadi langkah besar menuju tujuan PAM Jaya untuk mencapai cakupan layanan air perpipaan 100 persen pada tahun 2030. Tambahan suplai air dari SPAM Jatiluhur diharapkan bisa meningkatkan kualitas layanan untuk pelanggan yang sudah ada dan memperluas akses air bersih ke daerah-daerah yang kurang terlayani.

Terkait pengembangan proyek SPAM, Direktur Pelayanan PAM Jaya Syahrul Hasan menyebutkan, dalam memenuhi ambisi cakupan akses air bersih 100 persen di Jakarta, pengerjaan yang harus rampung adalah SPAM Jatiluhur dan SPAM Karian Serpong. Keduanya merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Pada SPAM Jatiluhur Tahap 1, PAM Jaya telah menerima pendaftaran sambungan baru hingga 20.231 berkas, sedangkan untuk SPAM Karian Serpong masih berproses di Kementerian PUPR.

Warga mengisi air bersih dari tandon air milik PAM Jaya di RW 22, Blok Eceng, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (15/11/2022). Sejumlah warga di Pluit, Penjaringan, masih menggunakan air tanah untuk kebutuhan mandi, mencuci baju, dan buang air besar atau kecil. Walaupun sudah terdapat kios air milik PAM Jaya di daerah tersebut, kebutuhan air untuk memasak dan minum untuk warga belum terpenuhi. Sulitnya air bersih tersebut membuat warga harus membeli air untuk kebutuhan masak dan minum. Hingga Oktober 2022, sekitar 34 persen warga Ibu Kota masih bergantung pada air tanah. Fakhri Fadlurrohman (Z19) 15-11-2022

Beralih

Kepala Subpenyediaan Air Bersih Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Elisabeth Tarigan mengatakan, masyarakat Jakarta perlu beralih dari menggunakan air tanah ke air perpipaan. Sebab, penggunaan air tanah secara terus menerus akan mengakibatkan kandungan air dalam tanah yang berkurang hingga mengakibatkan penurunan muka tanah.

"Ini memang harus disosialisasikan kembali kepada masyarakat bahwa semakin berkurangnya air tanah akan berdampak pada bangunan," jelas Elisabeth.

Di sisi lain, ia menyebut, pengurangan dampak penggunaan air tanah tergantung pada komitmen PAM Jaya memperluas jaringan air perpipaan agar masyarakat bisa beralih. Beriringan dengan itu, pihaknya melakukan pengawasan ketat agar bisa mencegah penurunan muka tanah.

Adapun Penjabat Gubernur Jakarta Teguh Setyabudi menyebut, penurunan permukaan tanah di Jakarta sudah menjadi masalah serius. Penurunan muka tanah per tahun kini sudah mencapai sekitar 5-10 sentimeter. Untuk itu, instalasi perpipaan air PAM Jaya di Jakarta kini diperluas untuk mengurangi eksploitasi air tanah secara berlebihan.

Dalam Nota Kesepakatan Nomor 1 Tahun 2022 antara Kementrian Dalam Negeri dengan Kementrian Pekerjaan Umum dan Pemerintah Jakarta, cakupan layanan PAM Jaya ditargetkan sudah mencapai 100 persen pada 2030. Namun, layanannya kini baru mencapai 71,3 persen atau setara 930.517 pelanggan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Atiek Ishlahiyah Al-Hamasy
 | 

Editor:

Mukhamad Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji