Eratnya hubungan Indonesia-Iran dilandasi rasa persaudaraan Muslim. Dokumentasi penyerahan satu mushaf Al Quran kepada Presiden Sukarno tercatat pada Juli 1966.
02 Des 2025 11:00 WIB · Internasional
Kompas/irene sarwindaningrum
Hadiah mushaf Al Quran untuk Presiden Sukarno, alokasi dana restorasi Candi Borobudur, hingga kerja sama teknologi robot bedah menandai perjalanan panjang hubungan diplomatik Indonesia-Iran. Jejak hubungan yang melintasi pergolakan zaman itu terekam dalam pameran arsip memperingati 75 tahun hubungan diplomasi kedua negara di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 26 November-5 Desember 2025.
Salah satu arsip yang dipamerkan adalah dokumen persetujuan alokasi dana senilai 5.000 dollar AS dari Iran untuk restorasi Borobudur pada pertengahan 1970-an melalui UNESCO. Dokumen berupa surat resmi itu bertanda tangan Shah Iran 1941–1979, Mohammad Reza Pahlavi. Secarik surat itu bagian dari ratusan arsip yang ditampilkan.
Arsip soal Borobudur berdampingan dengan perjanjian kebudayaan, dokumen perdagangan, nota pinjaman, dokumentasi konferensi internasional, hingga kontrak kerja sama bedah jarak jauh berbasis robotik. Rangkaian dokumen tersebut menggambarkan hubungan dua negara yang berkembang lintas sektor.
”Arsip-arsip menunjukkan bahwa Iran dan Indonesia selalu bekerja sama secara erat dalam berbagai organisasi internasional, termasuk Gerakan Non-Blok yang sangat penting,” kata Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi saat pembukaan pameran, Rabu (26/11/2025).
Meski sering berada di luar sorotan utama geopolitik global, arsip-arsip itu menuturkan kisah diplomasi dua negara yang punya semangat sama. Dua negara ini sama-sama berupaya memperjuangkan kesetaraan bagi negara berkembang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/01/a8c04e9f671759850e20e92ed57928f8-20251126_185118.jpg)
Hal ini tecermin dalam arsip-arsip keterlibatan Iran di Gerakan Non-Blok dan Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955. Salah satunya foto delegasi Iran untuk KAA yang dipimpin Perwakilan Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa Djalal Abdoh. Ada pula foto pertemuan tingkat menteri Biro Koordinasi Gerakan Non-Blok dan peringatan 14 tahun KAA di Bandung pada April 1995.
Dalam sambutannya, Boroujerdi menegaskan, pameran ini bukan sekadar perayaan simbolik. ”Ini refleksi atas perjalanan yang dibentuk oleh nilai bersama, rasa saling menghormati, dan kemitraan yang tumbuh stabil selama puluhan tahun,” ujarnya.
Ia menyebut dokumen-dokumen tersebut sebagai kesaksian atas dialog, pemahaman, dan kerja sama para diplomat, cendekiawan, dan masyarakat kedua negara.
Pameran arsip merekam masa sejak hubungan diplomatik Indonesia-Iran resmi dimulai pada 1950. Di bagian awal, pengunjung disambut arsip berupa contoh segel Kedutaan Besar Indonesia dan tanda tangan Menteri Berkuasa Penuh Raden Haji Abdul Kadir. Dokumen ini disertai arsip mengenai penyampaian surat kepercayaan Pemerintah Indonesia selepas pembentukan pemerintahan pascakemerdekaan.
Sepuluh tahun kemudian, 30 November 1960, kedua negara menaikkan status hubungan dari tingkat legasi menjadi kedutaan besar penuh. Peningkatan diplomasi ini tercatat dalam arsip pernyataan bersama yang diumumkan serentak di Jakarta dan Teheran.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/26/3a9c0efc7b69ea2fb416aa21f32266fb-20251126_185349.jpg)
Relasi bilateral ini sejak awal bertaut erat dengan dinamika geopolitik Global South. Dokumentasi kehadiran delegasi Iran dalam KAA 1955 di Bandung menjadi penanda penting.
Konferensi itu bukan hanya forum solidaritas pascakolonial, melainkan cikal bakal terbentuknya Gerakan Non-Blok. Gerakan yang diprakarsai Indonesia itu kemudian menjadi poros politik dan referensi penting bagi kedua negara dalam diplomasi internasional.
Eratnya hubungan Indonesia-Iran juga dilandasi rasa persaudaraan sebagai negara mayoritas Muslim. Di antara arsip periode awal, tersimpan dokumentasi penyerahan satu mushaf Al Quran berharga kepada Presiden Sukarno pada Juli 1966. Pada September 1966, lima salinan Al Quran kembali dihadiahkan oleh Shah Iran kepada para pemimpin Indonesia.
Arsip-arsip menunjukkan bahwa Iran dan Indonesia selalu bekerja sama secara erat dalam berbagai organisasi internasional, termasuk Gerakan Non-Blok yang sangat penting.
Memasuki 1970-an, hubungan Indonesia-Iran bergerak lebih jauh ke ranah kebudayaan dan ekonomi. Perjanjian Kebudayaan yang ditandatangani di Teheran pada 27 April 1971 menjadi fondasi pertukaran budaya kedua negara. Arsip statistik ekspor-impor periode 1970–1980 memperlihatkan upaya konkret untuk memperluas hubungan dagang.
Kunjungan Presiden Soeharto ke Iran yang terekam dalam laporan surat kabar Kayhan pada November 1972. Begitu pula jamuan kenegaraan bagi Shah Iran Reza Pahlavi di Jakarta pada 1 Oktober 1974 menandai fase hubungan tingkat tinggi.
Surat Pahlavi kepada Soeharto pada 22 Desember 1974 memuat harapan untuk memperluas kerja sama ekonomi berdasarkan pembicaraan kedua pemimpin.
Pada periode itu pula, kerja sama kesehatan juga mulai tumbuh. Arsip bertanggal Maret 1973 memuat daftar dokter Iran yang bermukim di Indonesia. Salah satu hasilnya adalah pendirian rumah sakit.
Selain itu, Indonesia-Iran memperkuat kerja sama ekonomi. Sebuah arsip dari 1975 menunjukkan rangkaian utang Indonesia ke Iran. Salah satunya penandatanganan nota kesepahaman pemberian pinjaman dari Kementerian Industri dan Pertambangan Iran kepada Indonesia.
Dokumen itu disusul arsip perjanjian pinjaman antarpemerintah. Surat Presiden Soeharto kepada Shah Iran pada 1975 mencatat perkembangan proses pinjaman itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/01/d89ff3ddba6154ed38d358c9a319b5ef-20251126_185423.jpg)
Setelah revolusi Iran, Indonesia dan Republik Islam Iran menandatangani Perjanjian Perdagangan pada 1987. Era ini ditandai kunjungan kenegaraan Presiden Iran Hashemi Rafsanjani ke Indonesia pada 1994. Beragam kerja sama memperlihatkan kesinambungan hubungan Indonesia-Iran dalam kerangka solidaritas negara-negara berkembang.
Memasuki era reformasi Indonesia, hubungan bilateral tetap terpelihara. Presiden Abdurrahman Wahid berkunjung ke Iran pada 2000. Pada 2008, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertemu Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Sayyed Ali Hosseini Khamenei.
Korespondensi kepresidenan pada 2012 terkait undangan KTT Non-Blok di Teheran kembali menegaskan posisi kedua negara dalam jejaring Global South.
Di era modern, arsip periode 2021-2025 Iran-Indonesia menunjukkan kemajuan hubungan dalam bidang kesehatan dan teknologi.
Hal ini terlihat dari nota kesepahaman pendirian Pusat Telesurgery Robotik Indonesia–Iran di RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta, dan RSUP Dr Hasan Sadikin, Bandung. Kerja sama ini ditindaklanjuti dengan kontrak pelaksanaan pada 2022 serta diperluas ke RSUP H Adam Malik, Medan.
Arsip foto bertanggal 23 Mei 2023 merekam kunjungan Presiden Iran Ebrahim Raisi ke Indonesia. Kunjungan itu diikuti penandatanganan nota kesepahaman di bidang pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, dan ketahanan keluarga pada Desember 2023.
Jejak diplomasi tidak berhenti sebagai catatan masa lalu. Di sela pembukaan, Boroujerdi mengaitkan peringatan 75 tahun hubungan kedua negara dengan agenda diplomasi terkini.
”Kami telah mengundang Presiden Prabowo Subianto untuk mengadakan kunjungan kenegaraan. Undangan tersebut telah diterima dengan baik,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/26/d50208e2d7f66c116e711957f553d73f-20251126_190725.jpg)
Staf Ahli Senior Menteri Luar Negeri Bidang Ekonomi dan Budaya, Zelda Wulan Kartika, mengatakan, pameran arsip mencerminkan esensi diplomasi publik. Melalui diplomasi publik, hubungan antarnegara tidak hanya dibangun di tingkat pemerintah, tetapi juga melalui interaksi antarmasyarakat.
Zelda berharap pameran ini dapat menjadi medium edukasi untuk memahami nilai sejarah hubungan Indonesia–Iran, khususnya bagi generasi muda.
Lembaran-lembaran kertas itu menjadi saksi atas kemampuan kedua negara menjaga ruang dialog di tengah berbagai pergokakan sejarah masing-masing. Tantangan ke depan bukan sekadar merawat sejarah, melainkan membuktikan kemitraan itu tetap strategis bagi kepentingan publik kedua bangsa.
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan