China memiliki praktik diplomatik dengan meminjamkan panda ke beberapa negara sebagai penanda persahabatan dan kerja sama serta peningkat citra di panggung dunia.
01 Nov 2025 14:19 WIB · Politik & Hukum
AP Photo/Jose Luis Magana
Dua wisatawan asyik memotret tiga patung panda di Monumen Panda di Chengdu Research Base of Giant Panda Breeding di Chengdu, Provinsi Sichuan, China, Senin (20/10/2025). Monumen berupa patung sepasang panda dan anaknya tersebut didonasikan oleh Shirahama Adventure World, Jepang, kepada Chengdu Research Base pada Februari 2023.
Panda yang dijadikan model patung di monumen itu adalah Yong Ming dan Mei Mei yang tinggal di Jepang berikut salah satu anaknya. Yong Ming dikenal sebagai panda jantan produktif yang telah menurunkan 16 anak panda di Jepang.
Salah satu anak dari Mei Mei adalah panda jantan bernama Xiong Bang yang lahir 17 Desember 2001 di Shirahama Adventure World, Jepang. Xiong Bang menjadi panda raksasa pertama yang dikembalikan dari seberang lautan ke Chengdu Research Base of Giant Panda Breeding atau sering disebut Panda Base di Sichuan.
Kami, serombongan jurnalis yang diundang Kedutaan Besar China di Indonesia untuk berkunjung ke China, pun berkesempatan menyaksikan Xiong Bang di kandang terbuka Panda Base. Di tempat penangkaran Panda itu kami melihat pula Xi Lan, yang dilahirkan induknya, Lun Lun, di Kebun Binatang Atlanta, Amerika Serikat, pada 30 Agustus 2008.
Jadi, kalau hubungan bilateral itu mau dijamin baik dalam jangka waktu panjang, dia harus investasi di masyarakat, di akar rumput.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/01/37c7e0b87cb3738917ed1866a16f0d29-WhatsApp_Image_2025_11_01_at_13.25.19.jpeg)
Bersama para pengunjung lainnya, termasuk wisatawan dari luar China, kami dapat melihat dari dekat panda berikut segenap aktivitas hariannya yang didominasi dengan tidur, mengunyah bambu, dan juga bermain. Secara umum, panda tinggal di kawasan hutan bambu dengan ketinggian 1.500-3.500 meter di atas permukaan laut, bersuhu di bawah 20 derajat celsius sepanjang tahun.
”Kedatangan Anda semua kali ini pas, di Oktober, bulan favorit ketika banyak orang datang ke sini untuk melihat panda,” kata pemandu Violeta saat memandu kami di Panda Base.
Sepanjang rute yang ditempuh dengan jalan kaki, Violeta memberikan banyak penjelasan seputar panda. Dia pun tersenyum riang ketika kami bercerita bahwa Pan Pan, yakni figur panda yang menjadi maskot Asian Games 1990 Beijing, terkenal di masanya, termasuk di Indonesia.
Kami pun berpapasan dengan para petugas yang sedang membawa pucuk bambu yang menjadi menu bagi panda. ”Panda tidak hanya makan bambu, tetapi juga apel, dan lainnya,” kata Violeta.
Di Panda Base Chengdu berdiri pula sebuah museum. Di dalamnya ada gerai penjualan suvenir seputar panda, kandang dalam ruangan bagi panda, dan juga papan berisi informasi seputar panda raksasa. Disebutkan bahwa panda pada umumnya lebih suka makan tunas bambu di musim semi dan musim panas, daun bambu di musim gugur, serta batang bambu di musim dingin.
Tak ayal, panda raksasa pun memiliki nama alias Bamboo Bear. Pada dasarnya panda memiliki banyak nama alias, mulai Pixiu, Mo, Zouyou, Bear Cat, Black-White Bear, Mottled Bear, dan Iron-eater. Panda raksasa telah hidup di bumi setidaknya selama 8 juta tahun dan telah selamat melalui periode kompetisi evolusi serta seleksi alam yang panjang untuk kemudian menjadi ”fosil hidup”.
Pada September 2016, International Union of Conservation of Nature (IUCN) mengumumkan bahwa mereka telah menurunkan tingkat ancaman panda raksasa dari ”terancam punah” menjadi ”rentan”. Penurunan status panda ini disebutkan mencerminkan perbaikan lingkungan ekologi di China dan efektivitas upaya konservasi panda raksasa. Secara nasional, China pun menempatkan panda sebagai hewan dilindungi kelas utama.
Sejak panda raksasa ditemukan, mereka telah merebut hati warga dunia karena kelangkaan dan citra khasnya. Panda pun dianggap sebagai utusan atau duta persahabatan, membangun jembatan pertukaran persahabatan antara China dan seluruh dunia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/01/dae644b91863300b0c0919e224e85c84-WhatsApp_Image_2025_11_01_at_13.25.48.jpeg)
Di salah satu sudut museum panda terpampang pula sejumlah foto yang mengabadikan momen-momen sejumlah tokoh politik atau pemimpin dunia bersama panda. Salah satu foto menampilkan Presiden China Xi Jinping dan istrinya, Peng Liyuan, saat bersama Kanselir Jerman Angela Merkel menghadiri seremoni Giant Panda Pavilion di Kebun Binatang Berlin pada 5 Juli 2017. Dua panda asal China, Meng Meng dan Jiao Qing, tinggal di kebun binatang tersebut.
Foto lainnya menampilkan Brigite, istri dari Presiden Perancis Emmanuel Macron, saat menghadiri seremoni pemberian nama bagi anak panda yang lahir dari pasangan Yuan Zai dan Huan Huan di Perancis. Pada kesempatan tersebut, Presiden Xi Jinping dan istrinya, Peng Liyuan, disebutkan mengirimkan pesan berisi ucapan selamat dan menamai anak panda tersebut dengan Yuan Meng.
Ada pula foto yang mengabadikan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau saat menghadiri seremoni pemberian nama bagi dua anak panda pada 7 Maret 2016. Pada 9 Mei 2011, Cherie Blair, istri Perdana Istri Inggris saat itu, Tony Blaire, pun pernah mengunjungi Chengdu Panda Base. Keterangan di bawah foto menyebutkan bahwa Cherie saat itu mempelajari kehidupan dan kebiasaan panda raksasa.
Sebuah momen kerja sama terkait konservasi panda pun diabadikan di salah satu foto. Kala itu, 29 Juni 2007, Ratu Sofia dari Spanyol mengunjungi Chengdu Panda Base untuk berpartisipasi dalam seremoni pembukaan Giant Panda International Conservation Cooperation Project antara China dan Spanyol.
Percakapan soal panda pun mewarnai perbincangan kami dengan Director General of Foreign Affairs Office of Chengdu Municipal People’s Government, Jiang Bin, yang mengundang kami makan siang di hari itu, selepas mengunjungi Panda Base di Chengdu. Disebutkan bahwa salah satu tujuan utama wisatawan datang ke Chengdu adalah untuk melihat panda.
Perbincangan pun mengalir ke soal diplomasi panda, yakni Pemerintah China meminjamkan pandanya ke sejumlah negara. ”Butuh biaya besar untuk memelihara panda. Namun, biaya itu akan terkompensasi dengan banyaknya pengunjung yang datang untuk melihat panda,” ujar Jiang Bin.
Pengajar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Klaus Raditio, saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (31/10/2025), menuturkan, diplomasi panda bukan hal baru, setidaknya China sudah melakukannya sejak berdekade lalu. Diplomasi panda pun mengemuka seiring waktu.
Diplomasi panda memang dapat dilihat sebagai usaha menjalin hubungan baik bilateral antarnegara. ”Tapi, saya melihat lebih ke soft power campaign untuk membangun citra China sebagai kekuatan yang damai. Jadi intinya lebih kepada itu. Diplomasi panda bukan semata-mata dalam rangka menjalin hubungan baik antara China dan negara lain, tetapi juga sebentuk image building bahwa China adalah kekuatan yang damai, yang tidak mengancam,” kata Klaus.
Keunikan yang bisa dipromosikan adalah kenyataan bahwa panda binatang khas yang hanya ada di China. Di alam liar China, panda raksasa hanya tersebar di area sempit enam wilayah pegunungan di tiga provinsi, yakni Sichuan, Shaanxi, dan Gansu. Enam pegunungan dimaksud adalah Qinling, Minshan, Qionglai, Daxiangling, Xiaoxiangling, dan Liangshan.
Apalagi, panda memiliki karakteristik yang lucu dan menggemaskan sehingga mudah membuat orang jatuh hati ketika melihatnya. Alhasil, panda pun dinilai pas untuk dipakai sebagai duta diplomasi dan diharapkan merepresentasikan China.
China pun memberikan peran kepada panda, yang ketika dewasa secara fisik terlihat besar, untuk mengemban peran diplomatik dengan melayani tiga fungsi. Satu, membangun hubungan bilateral yang baik dengan negara-negara lain, terutama negara maju atau negara Barat.
”China akan mengirim panda ke negara maju yang punya fasilitas dan infrastruktur. Ini diplomasi soft power yang levelnya memang agak tinggi, ke negara-negara yang dianggap mampu melakukan konservasi panda,” ujar Klaus.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/23/4f47d01d96739b7d9d4a8f48b8247d1f-WhatsApp_Image_2025_10_23_at_09.49.55.jpeg)
Kedua, fungsi membangun citra China sebagai negara besar yang damai. Ketiga, panda dipakai juga dalam konteks merekatkan masyarakat. ”Dulu, misalnya, untuk merekatkan masyarakat mainland (China daratan) dan masyarakat Taiwan dikirim panda bernama Tuan Tuan dan Yuan Yuan,” kata Klaus.
Indonesia pun dipinjami panda oleh China. Selain dipandang memiliki infrastruktur, peminjaman panda ini karena China menganggap Indonesia penting dalam konteks pembangunan people-to-people contact, relasi antarmasyarakat.
”China menyadari bahwa keberlanjutan hubungan tidak bisa hanya mengandalkan elite, tetapi harus mengakar sampai ke akar rumput,” kata Klaus.
Relasi antarmasyarakat, menurut Klaus, menjamin kelanggengan hubungan. China telah mempelajari bahwa menjalin hubungan hanya di level elite tidak akan langgeng. ”Jadi, kalau hubungan bilateral itu mau dijamin baik dalam jangka waktu panjang, dia harus investasi di masyarakat, di akar rumput,” ujar Klaus.
Penulis:
Cyprianus Anto Saptowalyono dari Chengdu, ChinaEditor:
Madina NusratPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto