Pandji mengaku bersalah atas materi lawakannya yang menyinggung dan melukai masyarakat etnis Toraja. Dia menjalani proses hukum, yakni hukum negara dan hukum adat.
04 Nov 2025 14:15 WIB · Pendidikan & Kebudayaan
Kompas/Reny Sri Ayu Arman
MAKASSAR, KOMPAS — Komika Pandji Pragiwaksono akhirnya meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat Toraja terkait materi lawakannya. Permintaan maaf ini disampaikan setelah serangkaian gelombang protes dari masyarakat etnis Toraja, termasuk masyarakat adat.
Permintaan maaf ini disampaikan dalam unggahan di akun Instagram Pandji pada Selasa (4/11/2025). Dengan latar hitam dan judul ”Kepada yang Terhormat Masyarakat Toraja”, Pandji mengakui menerima banyak protes dan kemarahan masyarakat Toraja dalam beberapa hari terakhir. Dia mengaku potongan video yang viral itu adalah materi lawakan pada 2013 dalam pertunjukan Mesakke Bangsaku .
”Tadi malam, saya berdialog dengan Ibu Rukka Sombolinggi, Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara. Dalam pembicaraan kami lewat telepon, Ibu Rukka menceritakan dengan sangat indah tentang budaya Toraja tentang maknanya, nilainya, dan kedalamannya,” katanya dalam unggahan tersebut.
Dari obrolan itu, dia mengakui bahwa candaan yang dia buat memang ignorant atau kurang pemahaman. ”Dan untuk itu saya ingin meminta maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat Toraja yang tersinggung dan merasa dilukai,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/04/81187065b03c83f8523f5a1ecad5a986-IMG_6808.jpeg)
Terkait soal ini, Pandji mengatakan sedang menghadapi dua proses hukum, yakni proses hukum negara karena adanya laporan ke kepolisian, dan proses hukum adat.
”Berdasarkan pembicaraan dengan Ibu Rukka, penyelesaian secara adat hanya dapat dilakukan di Toraja. Ibu Rukka bersedia menjadi fasilitator pertemuan antara saya dan perwakilan dari 32 wilayah adat Toraja. Saya akan berusaha mengambil langkah itu. Namun, bila secara waktu tidak memungkinkan, saya akan menghormati dan menjalani proses hukum negara yang berlaku,” katanya.
Pandji mengatakan akan belajar dari kejadian ini, dan menjadikannya momen untuk menjadi pelawak yang lebih baik, lebih peka, lebih cermat, dan lebih peduli. Namun, dia berharap kejadian ini tidak membuat para komika berhenti mengangkat nilai dan budaya dalam karya mereka. Menurut dia, anggapan bahwa pelawak tidak boleh membicarakan SARA kurang tepat. Faktanya, Indonesia adalah negara dengan keberagaman yang luar biasa.
”Suku, agama, ras, dan antargolongan adalah bagian dari jati diri bangsa ini. Yang penting bukan berhenti membicarakan SARA, melainkan bagaimana membicarakannya tanpa merendahkan atau menjelek-jelekkan. Semoga para komika di Indonesia terus bercerita tentang adat dan tradisi bangsa ini dengan cara yang lebih baik, lebih bijak, dan lebih menghormati,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/03/26/3e7c083e-fbf6-4ad1-ab9b-f828a7116c53.jpg)
Terkait permohonan maaf ini, Amson Padolo, Ketua Perhimpunan Masyarakat Toraja Indonesia, di Kota Makassar, menyambut baik.
”Sebagai manusia biasa dan karena dasar cinta kasih, saya pribadi tentu menerima permintaan maaf itu. Hal itu sudah menunjukkan itikad baik Pandji dan mengakui kesalahannya. Selebihnya akan saya bahas dengan tokoh-tokoh adat,” katanya.
Kasus Pandji dengan masyarakat Toraja bermula dari beredarnya potongan video berdurasi 1,44 menit di media sosial. Dalam potongan video ini, Pandji menyinggung soal Rambu Solo’, tradisi pemakaman keluarga yang dinilai membuat banyak orang Toraja jatuh miskin. Dia menyebut orang Toraja kerap harus memaksakan diri menggelar pesta besar-besaran untuk keluarga yang meninggal.
Dia juga menjadikan materi candaan tentang jenazah keluarga yang belum dimakamkan dan ditempatkan di dalam rumah seperti di depan televisi atau ruang tamu yang memberi kesan horor. Candaan ini disertai mimik dan gerak tubuh yang dinilai sangat melecehkan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/07/12/7c080100-a26b-4237-8a7f-0fe5b99ed3f3_jpeg.jpg)
Hal ini membuat geram masyarakat etnis Toraja. Pandji dinilai tak paham konteks dan esensi dari budaya dan tradisi turun temurun ini. Dalam masyarakat Toraja, Rambu Solo’ adalah wujud kasih dan penghormatan kepada keluarga yang meninggal. Masyarakat Toraja percaya, pesta kematian yang digelar adalah cara memuliakan orang yang meninggal.
Dalam pesta ini seluruh keluarga berkumpul. Selama beberapa hari pesta digelar dengan menyajikan makanan bagi para tamu dan kekuarga yang datang. Babi, kerbau, ikan, ayam, apapun disajikan sebagai bentuk penghargaan.
Biasanya dalam acara seperti ini, solidaritas antarkeluarga, kerabat, dan tetangga akan nampak. Mereka datang membawa babi, kerbau, bahan makanan, bahkan tenaga. Mereka menyisihkan waktu berhari-hari untuk membantu sekaligus menghibur yang punya hajatan.
Amson menyebut Rambu Solo’ yang sudah turun temurun dilaksanakan masyarakat Toraja, bukan sekadar pesta. Di balik pelaksanaan ritual ini, ada nilai solidaritas dan kesalehan sosial atau kepedulian kepada sesama, selain toleransi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/12/30/ADC8A538-395B-49D7-9F9F-C5038CAD1898_1640827584_jpeg.jpg)
”Tidak semua kerbau atau babi yang disiapkan akan disembelih. Sebagian biasanya disumbangkan ke gereja atau warga tak mampu di sekitar. Ada juga yang disumbangkan kepada komunitas atau masyarakat untuk dijual dan uangnya dipakai membuat jalan tani, jembatan, dan lainnya,” kata Amson.
Penulis:
Reny Sri AyuEditor:
Siwi Yunita CahyaningrumPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari