Pangan Vs Energi

Satu komoditas diperebutkan untuk pangan, energi, industri, bahkan ekspor. Tanpa ada peningkatan produksi dan produktivitas, perebutan itu bakal kian sengit.

28 Nov 2024 08:00 WIB · Ekonomi

Oleh Hendriyo Widi

Konsumsi pangan dan target capaian bahan bakar nabati kian meningkat. Keduanya memperebutkan satu komoditas pangan sebagai bahan bakunya. Tanpa dibarengi peningkatan produksi dan produktivitas tanaman pangan, pertarungan pangan dan energi bakal kian sengit.

Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) memperkirakan kebutuhan pangan dunia akan meningkat 60 persen pada 2030 dan dua kali lipat pada 2050 seiring bertambahnya populasi penduduk Bumi. Ini ekuivalen dengan kebutuhan peningkatan produksi dunia sebesar 42 persen pada 2030 dan 70 persen pada 2050.

Quote

Kebutuhan pangan dunia akan meningkat 60 persen pada 2030 dan dua kali lipat pada 2050. Hal itu ekuivalen dengan kebutuhan peningkatan produksi dunia sebesar 42 persen pada 2030 dan 70 persen pada 2050.

Di sisi lain, Bank Dunia menyebutkan produksi bahan bakar nabati global, seperti biodiesel dan bioetanol, untuk campuran bahan bakar minyak tumbuh paling cepat di antara sektor energi lain. Hal itu tertuang dalam laporannya tentang ”Tinjauan Pasar Komoditas” yang dirilis awal November 2024.

Saat ini, Argentina sedang meninjau kebijakan biodiesel berbasis minyak kedelai dan berpotensi meningatkan mandat pencampuran domestiknya. Brasil berencana meningkatkan campuran biodiesel berbasis tetes tebu (bioetanol) tahun depan.

Laju produksi bahan bakar nabati dunia

Komisi Uni Eropa (UE) bahkan telah memberlakukan tarif antidumping pada impor biodiesel dari China. Hal itu bakal mendorong peningkatan produksi biodiesel berbasis minyak rapeseed, jelantah, dan sawit di UE.

Selain itu, Indonesia berencana meningkatkan campuran biodiesel dari 35 persen (B35) menjadi 40 persen (B40) pada 2025. Bahkan, negara produsen sawit terbesar dunia itu mulai mengarah ke B50 yang ditargetkan tercapai pada 2029.

Berdasarkan kondisi itu, Bank Dunia memperkirakan dari waktu ke waktu permintaan bahan bakar nabati akan melebihi ekspetasi. Dampaknya bak dua sisi keping mata uang. Harga bahan baku, seperti biji-bijian, minyak sayur, dan gula, akan tertekan.

Harga minyak sawit, misalnya. Pada 2024 harga rerata komoditas tersebut di tingkat internasional diperkirakan sebesar 925 dollar AS per ton. Pada 2025 dan 2026 harganya diproyeksikan turun masing-masing menjadi 860 dollar AS per ton dan 850 dollar AS per ton.

Contoh bahan bakar B40 ditunjukkan kepada tamu undangan saat seremoni pelepasan uji jalan kendaraan berbahan bakar B40 di Jakarta, Rabu (27/7/2022). Uji jalan kendaraan tersebut menggunakan dua bahan bakar yaitu B40 (60 persen solar dan 40 persen biodiesel) dan B30D10 (60 persen solar, 30 persen biodiesel dan 10 persen diesel biokarbon) yang bertujuan untuk mendapatkan rekomendasi teknis pada kendaraan bermesin diesel sebelum diaplikasikan secara luas.

Bebeda dengan harga gula dunia yang justru diperkirakan naik tipis dan stagnan. Pada 2024, 2025, dan 2026, harga rerata komoditas tersebut diproyeksikan masing-masing 0,45 dollar AS per kilogram (kg), 0,46 dollar AS per kg, dan 0,46 dollar AS per kg.

Berbarengan dengan itu, kebutuhan pangan pelan-pelan juga bakal tertekan. Hal itu berpotensi terjadi jika peningkatan penggunaan komoditas pertanian untuk pangan dan energi tidak dibarengi peningkatan produksi.

Target Indonesia

Seperti halnya disebut Bank Dunia, Indonesia tidak hanya terus mengembangkan biodiesel, tetapi juga bioetanol. Dewan Energi Nasional (DEN) menargetkan implementasi bioetanol 5 persen (E5) tercapai pada 2028. E5 itu bakal dicampur bensin dengan nilai oktan (RON) 95 dengan kebutuhan bioetanol 5 juta liter per hari.

Indonesia bahkan akan menggulirkan program E10 yang akan diimplementasikan secara bertahap mulai 2029 hingga 2035. Program itu setidaknya membutuhkan 10 juta liter bioetanol.

Proyeksi Minyak Sawit dan Peta Jalan Tebu

Tidak mengherankan jika pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2023 tentang Percepatan Swasembada Gula Nasional dan Penyediaan Bioetanol sebagai Bahan Bakar Nabati. Untuk mencapainya, produktivitas tebu harus meningkat 93 ton per hektar (ha), lahan tebu harus diperluas 700.000 ha, dan rendemen gula harus mencapai 11,2 persen.

Mampukan Indonesia merealisasikan target biodiesel dan bioetanol itu? Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyebutkan, tanpa ada peningkatan produksi dan produktivitas kelapa sawit, perebutan sawit untuk pangan, energi, bahkan industri dan ekspor bakal kian sengit.

Produksi CPO dan minyak inti sawit (PKO) juga relatif stagnan pada 2019-2023, rerata sekitar 52 juta ton. Rerata produksi itu masih jauh dari target produksi 2045 yang sebesar 78,35 juta ton.

Begitu juga dengan konsumsi CPO dan produk turunan di dalam negeri yang diperkirakan naik terus hingga 2045 menjadi 45,99 juta ton. Konsumsi domestik itu mencakup pangan, industri oleokimia, dan program biodiesel.

Pada 2024, misalnya, konsumsi domestik CPO diperkirakan meningkat menjadi 25,4 juta ton. Kebutuhan tersebut naik 9,08 persen dari 23,28 juta ton pada 2023.

Kenaikan konsumsi biodiesel diperkirakan mendominasi dengan penyerapan sebanyak 11,6 juta ton, dengan asumsi program B35 diimplementasikan sepenuhnya. Jika B40 dijalankan, konsumsi minyak sawit domestik akan bertambah 2 juta ton menjadi 27,4 juta ton.

Pedagang membungkus gula pasir untuk dijual kembali di Pasar Senen, Jakarta Pusat, Senin (23/11/2020). Asosiasi Gula Indonesia memperkirakan jumlah stok gula hingga akhir tahun 2020 mencapai 1,4 juta ton gula. Sedangkan total produksi gula dalam negeri tahun 2020 diperkirakan 2,2 juta - 2,5 juta ton, dengan kebutuhan konsumsi mencapai 3 juta ton.KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK)23-11-2020 *** Local Caption *** .

Tebu juga bernasib sama. Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) dan FAO memperkirakan produksi gula RI justru turun dari 2,25 juta ton menjadi 2,14 juta ton pada 2021-2033.

Padahal, konsumsi gula, termasuk untuk kebutuhan industri, diproyeksikan naik dari 5,56 juta ton menjadi 7,27 juta ton. Hal itu bakal membuat impor gula RI melonjak dari 7,71 juta ton menjadi 9,59 juta ton.

Oleh karena itu, di era misi mewujudkan ketahanan pangan dan energi Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, program peremajaan sawit rakyat dan bongkar ratun tebu harus dipastikan benar-benar berjalan baik. Target peningkatan produksi dan rendemen, serta penambahan 700.000 hektar lahan tebu juga harus tercapai.

Sekali lagi, tanpa ada peningkatan produksi dan produktivitas, pertarungan pangan versus energi, bahkan dengan industri terkait, ke depan bakal kian sengit.


Kerabat Kerja

Penulis:

Hendriyo Widi
 | 

Editor:

Aufrida Wismi Warastri