Publik dulu mengapresiasinya ikut berperang tahun 1982. Kini, publik mencelanya karena kasus kejahatan seksual Jeffrey Epstein.
21 Okt 2025 09:00 WIB · Internasional
Dulu dipuja-puja, sekarang dihina-hina. Begitulah nasib Pangeran Andrew (65) asal Inggris, adik dari Raja Charles III. Setelah lama menodai citra kerajaan, ia akhirnya bersedia untuk melepaskan berbagai gelar kehormatan lantaran terlibat dalam kasus skandal seks miliarder Amerika Serikat, Jeffrey Epstein.
Pada Jumat (17/10/2025), Andrew (65) mengumumkan pelepasan sejumlah gelar kerajaan. Ia tidak akan lagi menggunakan gelar Duke of York, Earl of Inverness, Baron of Killyleagh, beserta gelar kehormatan lainnya. Ia turut melepaskan keanggotaan di Ordo Garter, ordo ksatria tertua di Britania Raya.
”Dengan persetujuan Yang Mulia, kami merasa saya harus melangkah lebih jauh. Oleh karena itu, saya tidak akan lagi menggunakan gelar atau kehormatan yang telah dianugerahkan kepada saya,” bunyi pernyataan Istana Buckingham menjelaskan posisi Andrew.
Andrew juga masih membantah keterlibatannya dalam kasus Epstein. ”Saya dengan tegas membantah tuduhan terhadap saya,” ujarnya.
Para pejabat Pemerintah Inggris, Senin (20/10/2025), menyambut baik keputusan tersebut. ”Kami setuju dan mendukung keputusan yang diambil keluarga kerajaan dan Pangeran Andrew,” ujar Bridget Phillipson, Menteri Pendidikan dan anggota senior parlemen kepada Sky News.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/20/ea633e05035c9f72878194ff9bb1b34b-000_797V8T6.jpg)
Andrew sudah kehilangan beberapa gelar sebelumnya. Sejak 2019, ia mundur dari tugas publik kerajaan setelah wawancara kontroversial dengan BBC tentang skandal seksnya. Pada 2022, ia kehilangan gelar militer dan berhenti menggunakan gelar Yang Mulia.
Dengan demikian, mantan istri Andrew, Sarah Ferguson, tidak akan lagi menyandang gelar Duchess of York. Anak-anak mereka, Beatrice dan Eugenie, bakal tetap bergelar putri.
Namun, Andrew masih mempertahankan gelar pangeran sesuai haknya dari lahir. Dia tetap berada di urutan kedelapan dalam garis pewaris takhta Inggris sebagai putra kedua dari mendiang Ratu Elizabeth II. Secara teoritis, Andrew terus menjabat sebagai penasihat negara meski perannya masuk dalam kategori tidak aktif.
Keputusan terbaru Andrew menjadi penghinaan publik paling signifikan baginya. Padahal, ia pernah dielu-elukan sebagai pahlawan saat menjadi pilot helikopter Angkatan Laut Kerajaan selama Perang Falklands 1982.
Gelar duke adalah pangkat tertinggi yang sangat langka dicopot dalam kerajaan Inggris. Pada umumnya, pencopotan gelar ini harus melalui proses panjang di parlemen. Pengumuman Istana Buckingham langsung melompati proses tersebut.
CNN mencatat, pencopotan terakhir terjadi lebih dari 100 tahun silam. Pada 1919, Pangeran Charles Edward, cucu Ratu Victoria, dicabut gelar Duke of Albany oleh parlemen Inggris berdasarkan Undang-Undang Pencabutan Gelar 1917. Ketika menjadi Duke of Saxe-Coburg and Gotha, Charles Edward bertempur untuk Jerman selama Perang Dunia I.
Sejarawan Inggris, Anthony Seldon, mengatakan, pencabutan gelar Andrew merupakan ”momen yang menentukan” bagi keluarga kerajaan. ”Jika dilihat secara historis, ini adalah langkah yang sangat, sangat signifikan,” kata Seldon kepada BBC.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/20/8d487c01-7504-4af1-bb1a-890c0dc7518c_jpg.jpg)
Pengamat kerajaan Inggris, Jennie Bond, mengatakan, Andrew mendapat ”tekanan luar biasa” dari Raja Charles dan putra mahkota, Pangeran William. Keputusan itu tentu melegakan kerajaan.
”Kita bisa saja mengatakan Pangeran Andrew telah menyerah, tetapi saya rasa dia telah dipaksa untuk melakukannya. Saya rasa ini bukan keputusan yang akan diambil Andrew, seorang pria yang cukup arogan dan sangat menyukai status, tanpa banyak tekanan,” kata Bond.
Andrew bersumpah telah putus hubungan dengan Epstein pada 2010. Akan tetapi, media Mail on Sunday pekan lalu mendapati surel-surel yang membuktikan dia menjalin kontak dengan Epstein setelah perilisan foto Andrew dan Giuffre tahun 2011. Kemunculan surel tersebut tampaknya menjadi batas akhir kesabaran keluarga kerajaan Inggris.
Pakar kerajaan, Kate Williams, menambahkan, Andrew telah menjadi ”racun bagi citra kerajaan”. ”Pertanyaannya adalah, apakah ini cukup untuk menghentikan kecaman publik yang secara keseluruhan menodai keluarga kerajaan?” ujarnya.
Keputusan Andrew keluar menjelang perilisan memoar anumerta dari Virginia Giuffre (dulu Virginia Roberts), terduga korban Andrew, pekan depan. Ia bertemu Andrew di London pada Maret 2001 ketika berusia 17 tahun. Giuffre bunuh diri di Australia, April 2025.
Dalam memoar Nobody's Girl: A Memoir of Surviving Abuse and Fighting for Justice, Giuffre membahas Epstein yang telah mati; Ghislaine Maxwell, sosialita yang suka membantu kejahatan Epstein; serta Andrew. Ia menulis referensi tentang Andrew sebanyak 88 kali.
Ada sejumlah pengakuan baru, termasuk dia tidur dengan Andrew dalam tiga kesempatan terpisah, yaitu di London, New York, dan pulau pribadi Epstein. Salah satu hubungan seks mereka berdua terjadi saat Giuffre di bawah umur. Andrew tahu Giuffre berusia 17 tahun saat pertama kali bertemu.
Pada 2021, Giuffre melayangkan gugatan kepada Andrew atas kejahatan seksual. Setahun kemudian, mereka sepakat untuk mengakhiri gugatan dengan Andrew membayar jutaan poundsterling. Andrew membantah bersalah, tetapi mengakui penderitaan Giuffre sebagai korban perdagangan seks.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/01/14/US-BRITAIN-ROYALS-ASSAULT-COURT_101176928_1642142746_jpg.jpg)
Keluarga Giuffre menyambut baik keputusan kerajaan Inggris. Mereka turut menyerukan agar Raja Charles III bertindak lebih jauh dengan mencabut gelar Andrew sebagai pangeran.
”Inilah yang diperjuangkan adik perempuan saya selama bertahun-tahun. Hari ini adalah hari di mana kami telah meneteskan banyak air mata bahagia dan sedih. Bahagia karena ini adalah awal yang baik,” ujar saudara laki-laki Giuffre, Sky Roberts.
Kepolisian London sedang menyelidiki apakah benar Andrew meminta seorang perwira untuk menggali informasi jika Giuffre memiliki catatan kriminal pada 2011. Informasi itu dulu bakal dipakai untuk mencemarkan nama baik Giuffre.
Di samping skandal seks, Andrew tersandung pula oleh skanda mata-mata China. The Daily Telegraph mengungkapkan, ia telah bertemu tiga kali pada 2018 dan 2019 dengan seorang pejabat tinggi China yang menjadi pusat kasus tersebut. (AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Yuliana Karim