Para bos AI sepakat memperlambat pengembangan model setelah serangkaian peringatan bahaya. Sebaliknya, Trump dan Xi terus berambisi memacu perlombaan teknologi.
14 Sep 2026 16:38 WIB · Internasional
AFP/HECTOR RETAMAL
WASHINGTON, SENIN — Selama ini tak akur, para bos perusahaan kecerdasan buatan terbesar di AS akhirnya sepakat memperlambat pengembangan model. Kesepakatan muncul setelah adanya peringatan bahwa akal imitasi supercerdas bisa memusnahkan manusia pada akhir dekade ini.
Sebaliknya, Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping justru berambisi terus memacu pengembangan kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI). Trump bahkan menepis kekhawatiran bahwa perkembangan AI sudah terlalu cepat dan berpotensi membahayakan. Menurut dia, ketakutan soal AI itu tak akan terjadi.
”Kita bisa memasang pagar pengaman, kita bisa melakukan ini dan itu, tetapi menurut saya ada banyak kekuatan negatif yang mengangkat persoalan-persoalan yang seharusnya tidak mereka angkat dan mereka membicarakan hal-hal yang tidak akan terjadi,” kata Trump di sela kunjungannya di Dublin, Irlandia, Minggu (13/9/2026) waktu setempat atau Senin (14/9/2026) waktu Indonesia.
Trump menyatakan tak mau ada perlambatan agar AS tetap unggul atas China. Saat ini, kata dia, AS masih memimpin China dalam pengembangan AI. Ia ingin posisi itu dipertahankan. ”Siapa pun yang unggul dalam AI adalah pemenang,” ujar Trump.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/14/e6f9de4fc7527ef08c0da4d717ca22e4-President_Trump_Returns_To_Washington_From_Ireland.jpeg)
Pada hari yang sama, Xi terus mendorong pengembangan AI. Dalam KTT BRICS di New Delhi, India, ia mengatakan, China akan memimpin pembentukan zona AI sumber terbuka bagi negara-negara BRICS.
Inisiatif itu mencakup kerja sama pengembangan dan penerapan model bahasa besar serta riset dan pelatihan AI. Xi mengatakan, langkah tersebut bertujuan membangun ekosistem AI terbuka.
Model AI sumber terbuka memungkinkan kode dasarnya diakses dan diadaptasi oleh pengguna. Ekosistem terbuka memungkinkan lebih banyak pihak mengakses dan mengembangkan satu model AI.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/14/2b8f8cf50e731ab56ca1986f41e892f5-wires_photo.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/19/5d80a62d456389a1bffc8077d53f893c-wires_photo_11_.jpg)
Di satu sisi, model itu bisa mempercepat inovasi. Di sisi lain, model terbuka kerap dikritik berbahaya. Model AI yang telah dirilis dapat dimodifikasi untuk melewati pengaman atau disalahgunakan, sementara penyebarannya lebih sulit dikendalikan.
Selama ini, China mendorong pengembangan model AI sumber terbuka. Pendekatan itu berbeda dengan model tertutup yang lebih banyak dikembangkan perusahaan AI besar di AS. Xi dan Trump diagendakan bertemu akhir September ini, salah satunya membahas AI.
Sikap Trump dan Xi disampaikan sehari setelah CEO Anthropic Dario Amodei menyerukan agar perusahaan-perusahaan AI memperlambat peningkatan kemampuan model AI. Amodei menilai, laju peningkatan kemampuan AI sudah terlalu cepat dibandingkan dengan kesiapan pengamanannya.
AI juga semakin mampu memperbaiki diri dan berpotensi melampaui kendali manusia. ”Kita harus memperlambat laju peningkatan kemampuan model AI. Meski kemajuan akan tetap terasa cepat, kita harus menggunakan waktu yang kita peroleh dengan bijaksana,” tulis Amodei dalam esai yang dipublikasikan di X.
Seruan itu mendapat dukungan CEO OpenAI Sam Altman dan pemilik xAI Elon Musk. Dukungan bersama Amodei, Altman, dan Musk menjadi langkah langka. Selama ini, ketiganya dikenal tidak akur.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/18/50ca909b32184780d1bffed63d58fc36-President_Trump_Attends_G7_Summit_In_Evian_France.jpeg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/18/dea905250d5eb3f8ede0222a4fd71bae-wires_photo_10_.jpg)
Musk dan Altman bahkan terlibat perang gugatan. Sementara itu, persaingan Altman dan Amodei berkembang menjadi salah satu pertarungan bisnis paling sengit dan penuh permusuhan di industri AI.
”Saya sepakat dengan Dario bahwa kita perlu mengatur laju pengembangan teknologi terdepan. Ini menjadi salah satu topik utama dalam diskusi kami di OpenAI dalam beberapa pekan terakhir,” tulis Altman di X.
Ia juga memastikan OpenAI tidak akan meluncurkan penawaran saham perdana (IPO) pada 2026. Alasannya, perusahaan masih harus menangani persoalan keselamatan dan penyelarasan AI. Awalnya, IPO OpenAI direncanakan berlangsung tahun ini.
”Menurut saya, dengan semua yang sedang terjadi terkait keselamatan, sekarang bukan saat yang tepat untuk menjadi perusahaan publik dan kami tidak merasa tertekan untuk melakukannya,” kata Altman, dikutip dari majalah Fortune.
Kita harus memperlambat laju peningkatan kemampuan model AI. Meski kemajuan akan tetap terasa cepat dan kita harus menggunakan waktu yang kita peroleh dengan bijaksana.
Musk hanya menjawab pendek. ”Dario benar,” tulisnya di X.
Dalam seruan itu, Amodei tidak meminta penghentian pelatihan model atau kemajuan teknologi. Ia hanya ingin perusahaan memberi lebih banyak waktu untuk pengujian dan pengamanan model baru.
Ia mengusulkan tiga langkah. Pertama, perusahaan AI menempatkan pengevaluasi independen dengan akses seperti pegawai. Tugasnya untuk memeriksa praktik keselamatan. Kedua, perusahaan-perusahaan AI terdepan berkoordinasi menetapkan standar keselamatan dan membatasi pengembangan yang tidak terkendali.
Ketiga, kerja sama internasional untuk mengelola risiko AI. Altman menyatakan akan melakukan langkah evaluasi independen seperti usulan Amodei. ”Kami akan melakukan hal yang sama,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/13/eafccd66447bbfc79c761a2db84d55f3-BELGIUM_TECHNOLOGY_AI_138914675.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/29/e399e5df0a7879e37bf8a864322d3344-000_38CP4CP.jpg)
Secara terpisah, ketiganya telah berulang kali menyuarakan kecemasan terhadap perkembangan AI yang dinilai semakin berbahaya. Namun, upaya memperlambat pengembangan AI selalu terhambat karena perusahaan-perusahaan enggan mengerem sendirian. Mereka tak mau kalah kompetisi.
Perusahaan yang memperlambat pengembangan berisiko tertinggal dari pesaing dan kehilangan pasar. Padahal, ratusan miliar dolar AS telah dipertaruhkan dalam perlombaan tersebut.
Oleh karena itu, Amodei meminta perusahaan-perusahaan AI terdepan berkoordinasi menetapkan standar keselamatan dan memperlambat peningkatan kemampuan model secara bersama-sama. Dengan begitu, perusahaan dapat melakukan pengujian dan pengamanan tanpa kehilangan posisi karena pesaing tetap melaju.
Pekan lalu, peneliti Anthropic, Jacob Coxon, mengundurkan diri sembari memberi peringatan bahwa pengembangan AI semakin menuju pada model supercerdas. Ia mengatakan, AI supercerdas dapat memusnahkan seluruh manusia pada akhir dekade ini.
Coxon, yang sebelum di Anthropic bekerja di OpenAI, mengungkap, Anthropic dan OpenAI tak lagi memprioritaskan keamanan manusia dalam perlombaan mengembangkan AI. ”Kalian sedang membangun pikiran setingkat manusia atau melampaui manusia, tanpa memahami apa yang diinginkannya, apa yang dipikirkannya, atau bagaimana cara ia berpikir,” ujarnya.
Coxon juga menyerukan kerja sama AS dan China untuk memperlambat pengembangan AI. Tanpa kerja sama kedua negara yang memimpin perlombaan tersebut, menurut dia, setiap pihak akan terus mempercepat pengembangan karena takut tertinggal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/19/a1b1c8a4657a0a041f6bb8351ffa3732-wires_photo_6_.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/27/3c44caf5c181a175abecc8e3cdc51d35-20260727_ARS_Riset_Kecerdasan_Buatan_2_mumed.png)
Seruan perlambatan menguat setelah serangkaian insiden menunjukkan agen AI lepas kendali dan meretas sistem perusahaan lain. Amodei memperingatkan, dalam 6-12 bulan, kelompok agen semacam itu mampu mengambil alih seluruh internet dan menyebabkan kerugian ratusan miliar dolar AS.
Kesepakatan para bos AI untuk melambat langsung mengguncang pasar. Pada Senin, saham-saham terkait AI dan semikonduktor di Asia turun tajam. SoftBank sempat anjlok 13,2 persen, SK Hynix 5,3 persen, Samsung Electronics 3,7 persen, dan TSMC 1,2 persen.
Penurunan juga terjadi di China dan Hong Kong. Investor khawatir perlambatan pengembangan AI akan memukul valuasi sektor yang selama ini ditopang ekspektasi permintaan tinggi dan kemajuan teknologi yang terus melaju cepat. (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra