Di balik antusiasme calon pembeli yang ingin mencari mobil baru di GIIAS 2025, terselip harapan akan pulihnya pasar otomotif yang tengah lesu.
27 Jul 2025 07:03 WIB · Ekonomi & Bisnis
Pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025 menjadi ruang temu antara para pencari kendaraan baru dengan deretan jenama yang menawarkan ragam pilihan dan berbagai promo menarik. Pameran otomotif itu menjadi medan perburuan kendaraan baru oleh pengunjung.
Aroma kabin baru, sorotan lampu panggung yang memantulkan kilau bodi mobil, serta percakapan antara pengunjung dan tenaga penjual (sales) mengisi keriuhan ruang pameran GIIAS 2025 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten.
Di antara interaksi dan riuh suara musik yang saling bersautan dari panggung jenama, Markus Dewanto (38) serius menelisik ekterior dan interior sebuah mobil sport utility vehicle (SUV) keluarga.
Mengenakan kaus berkerah dan celana kasual, ia bersama sang istri berdiskusi hangat dengan seorang tenaga penjual dari salah satu jenama Jepang itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/25/248cbd2c6fc0b1d6b475485dc736e80b-IMG_20250725_222511.jpg)
Markus dan istrinya pun menjajal langsung duduk dalam kabin serta memperhatikan secara saksama kecanggihan fitur-fitur digital yang tersemat dalam mobil itu. Sejak datang, Markus sudah mendatangi tiga panggung jenama, seperti BYD, Hyundai, dan Toyota.
”Mobil ini cukup lega. Saya mau coba nanti test drive. Sementara saya mau lihat (mobil lainnya) dulu. Saya memang ingin mengganti mobil lama yang dulu diwariskan Papa dengan yang lebih nyaman dan modern untuk keluarga,” ujarnya, Jumat (25/7/2025), sembari membuka bagasi belakang.
Keinginan Markus untuk mengganti mobil sejatinya sudah terpendam sejak tiga tahun lalu. Tahun ini ia memutuskan untuk membeli mobi baru setelah mobil lamanya laku terjual sekitar Rp 120 juta. Dengan ditambah isi tabungan, uang itu akan menjadi uang muka untuk mobil baru pilihannya nanti.
”Kami ke pameran langsung, ke GIIAS, karena ingin mendapatkan promo dan diskon lainnya. Ke pameran juga pilihannya lebih beragam. Range-nya (harga mobil yang dicari), Rp 250-an (juta). Tidak lebih dari Rp 300 (juta). Mobil akan lebih banyak dipakai oleh istri untuk harian. Saya kerja banyak pakai KRL,” kata pria asal Tangerang Selatan itu melanjutkan pemburuan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/25/2222ce99118b5436f8e024d56de34733-IMG_20250725_222715.jpg)
Interaksi hangat antara pengunjung dan tenaga penjual menjadi denyut nadi utama di balik keramaian GIIAS 2025. Setiap panggung bukan sekadar etalase kendaraan, melainkan ruang negosiasi, konsultasi, dan pencarian informasi. Tenaga penjual pun sigap merespons setiap pertanyaan, mulai dari fitur keamanan, pilihan warna, hingga skema pembiayaan kredit.
”Kalau beli di sini, kami bisa kasih potongan harga, free coating bodi, sampai undian berhadiah, dan promo lainya,” ujar seorang tenaga penjual sambil menyerahkan brosur kepada pengunjung yang terlihat tengah menimbang pilihan mobil listrik atau hibrida.
Tawaran dari tenaga penjual dari berberapa jenama itu ternyata membuat Yogi (45) bingung menentukan pilihannya. Di awal, Yogi seperti sudah yakin untuk membeli mobil Mazda.
Namun, saat Yogi menyusur booth satu ke booth lainnya, kini ada lima jenama mobil yang masuk referensi pembelian untuk masuk garasi rumahnya. Satu kendaraan yang tidak akan masuk daftarnya, yaitu Toyota, karena sudah memilikinya. Ia ingin menambah satu mobil lagi dengan jenama lainnya.
”Saya tertarik Mazda. Tapi juga tertarik banget setelah melihat Citroen karena harganya untuk mobil Eropa cukup menarik, tidak mahal banget. Muter-muter, kok, Chery dan Jaecoo (juga menarik). Lalu, BYD menarik juga, ya. GIIAS-nya masih lama, saya pikir dulu untuk beli yang mana dan akan test drive juga. Pulang dari GIIAS, bawa pulang satu mobil,” ujar tersenyum.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/25/e618c75862cfa4d042dd562219a2a8da-IMG_20250725_223155.jpg)
Meski pusing menentukan pilihan, menurut Yogi, GIIAS menjadi tempat strategis untuk mendapatkan best deal. Beragam jenama yang bersaing dalam desain dan teknologi hingga tawaran promo dan fleksibilitas pembelian membuat Yogi bisa lebih matang dalam meriset dan memperhitungkan anggarannya.
”Pameran ini membuat saya lebih rasional dalam memilih. Bukan hanya tampilan desain, melainkan juga bagaimana layanan purnajual, efisiensi bahan bakar, kenyamanan berkendara, dan lainnya,” ujarnya.
Antusiasme para pengunjung ini diyakini masih akan berlangsung hingga 3 Agustus mendatang. Antusiasme itu pula yang diharapkan oleh Ketua Umum Gaikindo Yohannes Nangoi untuk menggeliatkan penjualan kendaraan selama GIIAS 2025 dan penjualan mobil sepanjang 2025.
”Tahun ini GIIAS mengangkat tema ’Empowering the Futures’, menggambarkan optimisme baru menjadi momentum penting bagi industri untuk melaju lebih kuat dan mempercepat pertumbuhan industri yang tengah berlangsung,” ujar Nangoi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/24/52247cfe0b795111d8ccd3914cc28c14-20250724RZF05x.JPG)
Nangoi meyakini, Indonesia akan terus bergerak laju sebagai salah satu pemain kunci dalam industri otomotif global. Meski terjadi penurunan penjualan secara domestik, Nangoi masih melihat peluang penjualan sepanjang 2025 ini akan mencapai sekitar 800.000 unit.
GIIAS 2025 yang diselenggarakan di Kabupaten Tangerang dan kemudian berlanjut di kota-kota lainnya, seperti Surabaya, Semarang, Bandung, dan Makassar, pun diharapkan mampu mendongkrak penjualan kendaraan.
Pada GIIAS The Series 2024, tercatat nilai transaksi total sebesar Rp 20 triliun dengan penjualan kendaraan 40.000 unit. Target yang sama juga ditetapkan pada rangkaian GIIAS 2025.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/13/26506511-597d-4001-80d7-f5989c49cb02_png.png)
Industri otomotif Indonesia masih memiliki kesempatan untuk terus berkembang selama masih optimistis, hati-hati, waspada, dan rasional. Salah satu upayanya adalah dengan menjaga dan mendorong permintaan pasar, baik domestik maupun internasional.
Sepanjang 2024, total penjualan secara wholesales (dari produsen mobil ke distributor) tercatat sebanyak 865.723 kendaraan. Adapun periode Januari-Juni 2025, total penjualan secara wholesales 374.740 kendaraan. Angka penjualan ini turun dibandingkan pada periode yang sama yaitu sebanyak 410.020 kendaraan.
Penjualan mobil secara retail sales (dari dealer ke konsumen) juga mengalami penurunan. Pada periode semester I-2025, angka penjualan mencapai 390.467 kendaraan. Adapun pada periode yang sama pada 2024 sebanyak 432.453 kendaraan.
”Industri otomotif Indonesia masih memiliki kesempatan untuk terus berkembang selama masih optimistis, hati-hati, waspada, dan rasional. Salah satu upayanya adalah dengan menjaga dan mendorong permintaan pasar, baik domestik maupun internasional,” kata Nangoi.
Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan bahwa kolaborasi erat antara pemerintah dan prinsipal otomotif menjadi sangat penting untuk memastikan keberlanjutan industri dan kesejahteraan tenaga kerja di Indonesia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/25/4b8701563f91bce92ba34967752cd58c-IMG_20250725_222840.jpg)
Melalui kontribusi signifikan terhadap produk domestik bruto (PDB) dan penyerapan tenaga kerja, industri otomotif menjadi sektor strategis yang harus dijaga bersama.
”Pasar otomotif Indonesia sangat potensial. Jangan sampai kehilangan momentum hanya karena kenaikan harga atau pengurangan tenaga kerja yang bisa memicu efek domino,” ujarnya.
Kementerian Perindustrian mencatat, industri kendaraan bermotor Indonesia memiliki skala besar dengan kontribusi signifikan dari segmen roda 4 serta roda 2 dan 3. Pada 2024, segmen roda 4 didukung 32 pabrikan dengan kapasitas produksi 2,35 juta unit per tahun dengan menyerap tenaga kerja hingga 69.390 orang dan realisasi investasi mencapai Rp 143,91 triliun.
Hingga Januari-Mei 2025, industri kendaraan roda 4 mencatat produksi 459.000 unit, penjualan sebanyak 316.000 unit, dan ekspor kendaraan utuh (completely built-up/CBU) 192.000 unit. Adapun data dari Gaikindo, ekspor CBU sepanjang Januari-Juni 2025 sebesar 233.648 unit. Angka ekpor itu naik 7 persen secara tahunan (YoY) dibandingkan pada periode yang sama 2024, yaitu sebanyak 218.459 unit.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/25/e48a2d70f62c3b3eec8fcc561a9cf620-IMG_20250725_223010.jpg)
Pada 2024, di segmen roda 2 dan 3 roda ada sebanyak total 73 pabrikan dengan total kapasitas produksi sebesar 10,72 juta unit per tahun, penyerapan tenaga kerja sebanyak 30.310 orang, dan realisasi investasi Rp 30,4 triliun. Pada periode Januari-Mei 2025, industri kendaraan roda 2 dan 3 membukukan produksi 3,37 juta unit, penjualan 3,1 juta unit, serta ekspor CBU 268.000 unit.
Meski menghadapi berbagai tantangan dan daya beli masyarakat sedang menurun, Agus menegaskan optimismenya bahwa pemulihan akan segera terjadi. ”Saya minta pelaku industri percaya pada pasar Indonesia. Sekarang kita memang sedang sulit, tetapi masyarakat kita akan kembali belanja kendaraan,” katanya.
Di tengah tekanan daya beli dan dinamika industri global, GIIAS 2025 hadir sebagai ruang harapan dan pijakan baru bagi pemulihan industri otomotif nasional. Keramaian di hall-hall pameran menjadi penanda gairah masyarakat untuk berburu dan memiliki kendaraan baru tetap hidup.
GIIAS 2025 pada akhirnya bukan sekadar ajang pameran kendaraan dan teknologi otomotif mutakhir, melainkan cermin dari denyut industri yang masih berdetak kuat yang menghubungkan gairah masyarakat memiliki kendaraan dengan roda ekonomi nasional yang terus berputar.
Penulis:
Aguido AdriEditor:
Dahono FitriantoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan