Warga desa dan siswa sekolah bersiap memberikan asupan semangat bagi para pelari Bank Jateng Borobudur Marathon tahun ini melalui "cheering" di sepanjang lintasan.
29 Nov 2024 16:59 WIB · Gaya Hidup
Ketika peluh dan lelah membayangi, para pelari Bank Jateng Borobudur Marathon 2024 selalu bisa mengandalkan suntikan semangat dari warga di sepanjang jalur. Sejumlah sajian atraksi pun disiapkan untuk meringankan langkah pelari.
Halaman Sekolah Dasar Negeri (SDN) Wanurejo di Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, ramai dipenuhi puluhan siswa, Jumat (29/11/2024) pagi. Diiringi musik tradisional yang diputar dari laptop, mereka mulai menari, berputar, dan berjingkrakan dalam satu gerakan seirama.
”Ayo, tambah lagi semangatnya,” ujar seorang guru memberi aba-aba melalui mikrofon.
Hari itu, para siswa mengikuti gladi resik sekaligus latihan terakhir sebelum tampil sebagai tim cheering atau penyemangat dalam lomba lari Borobudur Marathon 2024 yang digelar pada Minggu (1/12/2024) di kawasan Borobudur. Sekolah tersebut berada di jalur yang akan dilintasi para pelari.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/29/c9692d3a-880a-44c4-8bea-47779ec4eec8_jpg.jpg)
Dalam gladi resik itu, para siswa mengenakan kostum yang dibuat khusus untuk memeriahkan pergelaran tahunan ini. Kostum itu terdiri dari rompi hitam dari plastik dan aksen garis emas yang dipadukan dengan kain batik untuk bawahan dan penutup kepalanya.
”Para siswa sangat antusias berlatih untuk mempersiapkan cheering nanti,” ujar Dita Widya Utami, salah seorang guru SDN Wanurejo.
Menurut Dita, selama sebulan terakhir, hampir setiap hari siswa dari kelas I hingga VI berlatih untuk menyiapkan cheering. Total 187 siswa akan berpartisipasi. Latihan dilakukan setelah jam pelajaran, selama sekitar 1-1,5 jam setiap kali latihan.
SDN Wanurejo menyiapkan sejumlah kesenian yang akan ditampilkan, yakni tari jathilan atau kuda lumping, tari warok, dan karawitan. Ada pula tarian yang dikreasikan sendiri, yakni tari semar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/29/084240fc-4956-436e-b448-a6d19a71c341_jpg.jpg)
Untuk makin meramaikan cheering, sejumlah siswa juga memainkan trunthung, alat musik mirip rebana yang ditabuh dengan tongkat kayu. Irama rampak darinya dipastikan menggedor-gedor semangat para pelari.
Selain meramaikan lomba berskala internasional itu, Dita menjelaskan, pihaknya juga termotivasi ikut cheering setiap tahun karena bisa mengenalkan kekayaan budaya lokal kepada para pelari. Setiap tahun, kesenian yang ditampilkan SDN Wanurejo pun berbeda-beda.
Borobudur Marathon 2024 akan diikuti 10.500 pelari dari berbagai penjuru Indonesia, termasuk dari luar negeri. ”Ini supaya pelari terkesan dengan kebudayaan yang ada di wilayah Borobudur. Jadi, acara ini bukan sekadar olahraga, melainkan juga ada misi pelestarian seni dan budaya,” ucap Dita.
Naila (12), siswi kelas VI, mengaku senang sekali bisa kembali berpartisipasi dalam cheering nanti. Ini merupakan tahun keempat dia meramaikan Borobudur Marathon bersama sekolahnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/28/867a3daa-e523-4bf8-ace2-9ca9c6df7e92_png.png)
Selain ikut memperkenalkan budaya, Naila juga terkesan dengan interaksi antara para pelari dan para siswa. ”Ada yang ngajak ngobrol, foto, atau tos,” katanya.
Selain SDN Wanurejo, cheering Borobudur Marathon 2024 juga akan diramaikan oleh 29 sekolah lain, mulai tingkat dasar hingga menengah atas. Lokasi sekolah-sekolah itu berada di jalur yang akan dilewati pelari kategori marathon, half marathon, dan 10K. Panitia pun melombakan cheering ini setiap tahun.
SMP Negeri 2 Mungkid, Magelang, adalah langganan juara cheering Borobudur Marathon. Tahun ini, sekolah itu menyiapkan atraksi bass drum yang diiringi yel-yel dan nyanyian dari 450 siswa. Ada juga kibaran bendera dan umbul-umbul yang ditampilkan nanti.
Jadi, setelah melalui tanjakan itu, para pelari yang kecapekan akan mendapat dorongan semangat baru dari atraksi bass drum kami.
Koordinator cheering SMPN 2 Mungkid, Edi Santosa, mengatakan, pihaknya memilih bass drum karena instrumen itu dirasa paling cocok untuk memompa semangat para pelari. Apalagi, sebelum melewati SMPN 2 Mungkid, para pelari harus melahap sebuah tanjakan yang lumayan ekstrem.
”Jadi, setelah melalui tanjakan itu, para pelari yang kecapekan akan mendapat dorongan semangat baru dari tabuhan bass drum kami,” ujar Edi.
Bukan hanya sekolah dan siswa, warga desa pun tak kalah antusias menyiapkan sejumlah atraksi untuk cheering nanti. Ada setidaknya 15 desa di wilayah Borobudur dan sekitarnya yang juga turut berpartisipasi dalam cheering. Salah satunya adalah Desa Jogonegoro, Kecamatan Mertoyudan, Magelang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/11/19/dacf79d3-b183-44df-85b3-69a840c3dac2_jpg.jpg)
Koordinator cheering Desa Jogonegoro, Nur Mujib, mengatakan, awalnya dia hanya mendaftarkan 50 warga yang akan ikut cheering ke panitia. Namun, belakangan, banyak warga lain yang juga ingin ikut berpartisipasi. ”Jadi nanti mungkin jumlahnya dua kali lipat,” ucapnya.
Warga Jogonegoro akan menampilkan kesenian jathilan, ogoh-ogoh, dan bergodo. Selain itu, para kaum ibu juga menyiapkan yel-yel khusus untuk menyambut para pelari.
Nur Mujib mengatakan, ini merupakan tahun kedua Desa Jogonegoro turut meramaikan Borobudur Marathon setelah pada 2023 juga berpartisipasi. Tahun lalu, mereka bahkan meraih juara 3 lomba cheering Borobudur Marathon. ”Semoga tahun ini bisa juara 1,” ujar Nur Mujib.
Terlepas dari itu, menurut dia, partisipasi dalam kegiatan ini juga bermanfaat untuk mempererat keguyuban antarwarga desa. ”Sekaligus juga menjadi ajang kegembiraan bersama,” katanya.
Muaranya, para pelari bahagia, warga dan siswa pun bergembira….
Penulis:
Mohamad Final DaengEditor:
Haris Firdaus