Pemkab Gianyar resmi menutup Parq Ubud karena dinilai melanggar peraturan daerah. Kawasan berjuluk ”Kampung Rusia” di Bali ini sudah beroperasi hampir lima tahun
22 Jan 2025 19:54 WIB · Nusantara
Kawasan hunian dan komersial di Tegalantang Gianyar Bali Parq Ubud ditutup oleh Pemerintah Kabupaten Gianyar pada Senin (20/1/2025). Penutupan ini berdasarkan Surat Keputusan Bupati Gianyar Nomor 285/E-09/HK/2025.
Berdasarkan situs resmi Pemkab Gianyar, Parq Ubud dinyatakan melanggar Pasal 19 Ayat (3) Peraturan Daerah Kabupaten Gianyar No 15 Tahun 2015 tentang Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat serta Peraturan Daerah No 2 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berbasis Risiko.
Terkait penutupan Parq Ubud tersebut, Kompas mencoba meminta keterangan pada Sekretaris Daerah Gianyar I Dewa Gede Alit Mudiarta, Rabu (22/1/2025), tetapi staf sekda mengabarkan bahwa I Gede Alit Mudiarta sedang dalam agenda persiapan penerimaan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/22/d17c98b6-b4ed-440c-9660-0987b4a7e896_jpeg.jpg)
Parq Ubud sempat menjadi bahan perbincangan pada awal 2023. Banyaknya warga negara Rusia di Parq Ubud membuat kawasan itu dijuluki ”Kampung Rusia”. Pada Maret 2023, Wakil Gubernur Bali saat itu Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati mengungkapkan, ada kampung eksklusif WNA tertentu di Ubud. Menurut dia, perlu ada penertiban jika terjadi pelanggaran izin usaha di kampung eksklusif tersebut.
Pernyataan Wagub ini segera direspons Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Bali Anggiat Napitupulu. Anggiat beserta tim kemudian melakukan operasi imigrasi ke Parq Ubud. Hasil dari operasi ini saat itu tidak ditemukan adanya pelanggaran di Parq Ubud.
Tim investigasi Kompas sempat mendatangi dan menginap di Parq Ubud pada April 2023 untuk membuktikan julukan mengenai ”Kampung Rusia”. Saat tim Kompas tiba di depan bangunan Parq Ubud, beberapa aparat berseragam dengan senjata api laras panjang cukup menyita perhatian.
Bangunan Parq Ubud tampak bernuansa modern dan minim corak arsitektur Bali. Ketika kami mendatangi meja resepsionis untuk check-in, pegawai Parq memotret wajah kami disertai bukti pembayaran. Cukup berbeda dengan penginapan lain di Bali yang tidak memberlakukan prosedur semacam itu.
Pada saat itu, area Parq Ubud memiliki luas 4,5 hektar yang dikelilingi hamparan sawah. Ada 100 kamar apartemen yang yang disewakan harian maupun bulanan. Selain apartemen, terdapat fasilitas lain, seperti kafe, restoran, coworking space, pusat kebugaran, dan spa. Parq memang tidak sekadar penginapan, bahkan mereka memiliki slogan sebagai kota masa depan.
Ketika Kompas menginap di Parq Ubud, nuansa negara ”Beruang Merah” memang kental di dalamnya. Selain para pengunjung yang kerap berbahasa Rusia, terdapat kuliner khas Rusia yang disajikan di restoran, seperti sirniki, pelmeni, dan borsh, yang dijual dengan kisaran harga Rp 75.000-Rp 150.000 per porsi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/05/24/d2c55bcf-dd4e-477c-933f-4cf65797f1e0_jpeg.jpg)
Saat itu, Kompas sempat mewawancarai Gregory (37), salah satu penghuni Parq, asal Saint Petersburg, Rusia. Waktu itu, Gregory hanya menghabiskan waktu untuk berlibur dengan menyewa unit apartemen Parq tipe Sunset Loft (ukuran sekitar 60 meter persegi dengan tarif Rp 18,6 juta-Rp 24,8 juta per bulan).
Ketika mengobrol dengan Kompas pada April 2023, Gregory mengaku sudah tinggal sejak bulan sebelumnya. ”Saat perang (Ukraina-Rusia) dimulai, saya berangkat ke Bali menghindari konflik dan wajib militer. Usia saya saat ini masih masuk dalam kategori wajib militer,” katanya.
Gregory sempat berbincang dengan tamu-tamu lain dalam bahasa Rusia. Ketika kami melintasi kumpulan warga negara asing lain di Parq, mereka berbahasa serupa dengan Gregory.
Ada pula Alena, perempuan warga negara Rusia yang tidak menginap, tetapi hanya bersantai di sisi kolam renang Parq. Ia berasal dari Kazan, ibu kota Republik Tatarstan yang merupakan subyek federal Rusia. ”Saya tinggal di Canggu, saya ke tempat teman yang tinggal di Ubud, tetapi bukan di Parq. Dekat sini,” ujarnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/05/24/e8a934a1-bfe6-41c1-87cd-5aae23d68fd5_jpeg.jpg)
Putu Agus, salah satu warga di Ubud mengatakan, julukan Kampung Rusia memang sangat melekat pada kawasan Parq. Ia pun tidak mempermasalahkan keberadaan kampung tersebut selama tidak mengubah nilai dan norma masyarakat lokal.
"Dulunya kawasan Parq merupakan sawah yang kurang bagus irigasinya, sehingga tanahnya dijual oleh pemiliknya," ucap Putu.
Parq Ubud mulai beroperasi sejak Mei 2020 sebagai kafe dan bar. Pada Oktober 2021, kawasan ini berkembang menjadi hotel. Kemudian, pada 2023 Parq memiliki setidaknya 103 kamar dan akan berkembang menjadi 500 kamar pada masa akan datang. Pada 2024, Parq Ubud sudah berada di atas lahan seluas 12 hektar.
Hingga Rabu (22/1/2025), laman resmi Parq Ubud masih bisa diakses. Untuk melihat contoh akomodasi di sana, pengunjung situs dapat mengklik menu Apartments. Setelahnya, muncul penjelasan dan foto untuk tipe Retreat Apartments, Boulevard Lofts, dan Agung Lofts.
Konten-konten akun Instagram dengan nama @parqspace pun masih bisa dilihat. Namun, pengelola akun membatasi komentar. Selain itu, tidak ada penjelasan soal penutupan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/22/683504ff-db99-4e01-aa4d-913a6eb9b784_png.jpg)
Kompas telah menghubungi salah satu pemilik usaha Parq Ubud I Gusti Ngurah Eka Sidhimantra. Namun, hingga berita ini ditayangkan, belum ada tanggapan terkait dengan penutupan Parq Ubud.
Dalam wawancara dengan Kompas pada Mei 2023, Eka Sidhimantra menampik julukan Parq Ubud sebagai kampung Rusia. Namun, Eka mengakui, jumlah turis asing asal Rusia di Parq Ubud saat itu memang sempat mendominasi. Lonjakan wisatawan Rusia di Parq Ubud pernah terjadi pada saat Covid-19, tetapi kemudian menurun seiring dengan berjalannya waktu.
Penulis:
Johanes Galuh Bimantara, Fajar Ramadhan, Harry SusiloEditor:
Harry Susilo, Andy Riza HidayatPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase