Sejumlah faktor diduga menjadi penyebab relatif rendahnya tingkat partisipasi pemilih dalam Pilkada 2024 di Sumbar hanya berkisar 50-60 persen.
27 Nov 2024 18:02 WIB · Politik & Hukum
PADANG, KOMPAS — Tingkat partisipasi pemilih dalam Pilkada 2024 di Sumatera Barat relatif rendah dibandingkan Pilpres 2024. Sejumlah faktor diduga menjadi pemicu rendahnya tingkat partisipasi.
Rendahnya partisipasi pemilih tersebut tergambar di sejumlah TPS di Kota Padang, Rabu (27/11/2024). Tingkat partisipasi pemilih berkisar hanya separuh dari daftar pemilih tetap (DPT) meskipun cuaca relatif bagus. Kali ini, di Padang digelar pemilihan calon wali kota Padang dan calon gubernur Sumatera Barat.
Di TPS 5 Kelurahan Jati Baru, Kecamatan Padang Timur, misalnya, total pemilih yang hadir 272 orang. Sementara itu, jumlah DPT dan daftar pemilih tambahan (DPTb) di TPS itu 531 orang dan 12 orang.
Dari perhitungan sederhana, yaitu 272 orang dibagi 543 orang dikalikan 100, persentase partisipasi pemilih di TPS 5 Kelurahan Jati Baru hanya 50,09 persen.
Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) TPS 5 Kelurahan Jati Baru Sari Anggraini (45) mengatakan, tingkat partisipasi pemilih pada Pilkada 2024 di TPS-nya memang relatif rendah dibandingkan Pilpres 2024 yang digelar 14 Februari.
”Partisipasi pemilih pada pilpres kemarin bisa mencapai 80 persen. Pilkada sekarang, partisipasi pemilih cuma sekitar 50 persen,” kata Sari, seusai penghitungan suara.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/27/d6be4da8cb7702f4fb0e99fd3097f8bf-DSC03266_2_.JPG)
Sari tidak tahu pasti kenapa partisipasi pemilih pada Pilkada 2024 lebih rendah dibandingkan Pilpres 2024. Walakin, ia menduga salah satu penyebabnya adalah jumlah TPS yang dikurangi sehingga jarak tempuh sebagian warga ke TPS semakin jauh.
”Pada pilpres kemarin, jumlah TPS di Kelurahan Jati Baru 17 TPS. Pada pilkada ini, jumlah TPS dikurangi menjadi 7 TPS. Jarak sebagian pemilih ke TPS menjadi lebih jauh,” katanya.
Relatif rendahnya partisipasi pemilih terjadi pula di TPS 3 Kelurahan Ujung Gurun, Kecamatan Padang Barat. Total pemilih yang hadir 197 orang dari total DPT 440 orang. Artinya, tingkat partisipasi pemilih hanya 44,77 persen.
Ketua KPPS TPS 3 Kelurahan Ujung Gurun David Lafenti (25) mengatakan, tingkat partisipasi pemilih pada pilkada kali ini rendah dibandingkan Pilpres 2024 yang bisa mencapai sekitar 60 persen.
”Jumlah pemilih yang hadir memang tidak sampai separuh dari jumlah DPT,” kata David. Adapun di TPS ini tidak ada DPTb.
Menurut David, jumlah TPS di Kelurahan Ujung Gurun memang berkurang dibandingkan pilpres dari 14 TPS menjadi 8 TPS. Walakin, hal itu sejatinya tidak menjadi kendala di kelurahan ini karena TPS disebarkan secara merata.
David menduga penyebab rendahnya partisipasi pemilih karena warga enggan datang ke TPS. Petugas sudah berusaha mengumumkan kembali dan mengajak warga datang mencoblos, tetapi hasilnya tidak signifikan.
”Mungkin visi-misi calon yang tersedia memang kurang menarik bagi pemilih yang tidak datang itu,” katanya.
Secara terpisah, Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat, dan SDM KPU Sumbar Jons Manedi mengatakan, secara umum, Pilkada 2024 di 19 kabupaten/kota di Sumbar berjalan baik dan lancar.
”Sampai siang ini, tidak persoalan signifikan yang muncul. Jika pun ada persoalan, masih bisa ditangani petugas KPPS. Semua TPS (10.846) melaksanakan pemungutan suara sesuai jadwal, tak ada yang ditunda,” katanya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/25/3d0908fe-c42c-4d3a-a98f-0e8cf8aeb1d2_jpeg.jpeg)
Dari segi partisipasi pemilih, Jons mengakui, secara umum memang tingkat partisipasi pemilih Pilkada 2024 relatif rendah dibandingkan Pilpres 2024. ”Dari hasil monitoring secara daring ataupun laporan di dalam grup (Whatsapp), tingkat partisipasi memang 50-60 persen,” ujarnya.
Pada Pilpres 2024, kata Jons, angka partisipasi pemilih sekitar 74 persen. Sementara itu, tingkat partisipasi pemilih pada Pilgub Sumbar 2020, berdasarkan catatan Kompas.id (20/12/2020), sebesar 61,68 persen.
Jons melanjutkan, ada sejumlah faktor yang diduga sebagai penyebab rendahnya tingkat partisipasi pemilih pada Pilkada 2024, salah satunya orang yang tercatat di DPT tidak tinggal di daerah itu atau merantau ke luar provinsi sehingga tidak bisa memilih.
Faktor lainnya, kata Jons, adalah cuaca buruk atau hujan yang terjadi di sejumlah daerah. Akibatnya, pemilih terhambat datang ke TPS.
Kemudian, jumlah TPS yang dipadatkan dari 17.569 TPS saat pilpres menjadi 10.846 TPS saat pilkada juga berpengaruh karena bagi sebagian pemilih jarak rumah ke TPS menjadi lebih jauh.
Terlepas dari itu, Jons berharap Pilkada 2024 bisa berjalan baik hingga tuntas. ”Semoga tidak ada pemungutan suara ulang (PSU). Semua peserta pemilu bisa menerima hasil pilkada. Kemudian, semoga tidak ada persoalan berarti meskipun di beberapa daerah kontestasi berlangsung panas,” ujarnya.
Penulis:
Yola SastraEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari