Partisipasi Publik di Pilkada Surabaya Terjun Bebas

Kemenangan petahana dan calon tunggal Eri Cahyadi-Armuji di Pilkada Surabaya diwarnai partisipasi rendah warga dalam pemungutan suara.

28 Nov 2024 12:40 WIB · Politik & Hukum

Oleh Ambrosius Harto Manumoyoso

SURABAYA, KOMPAS — Pasangan petahana Eri Cahyadi-Armuji diprediksi menang telak atas kotak kosong dalam Pilkada Surabaya. Namun, kemenangan Wali Kota Surabaya-Wakil Wali Kota Surabaya terasa hambar karena partisipasi publik dalam pemungutan suara pada Rabu (27/11/2024) tergolong rendah di kisaran 55 persen.

Berdasarkan hitung cepat yang dipublikasikan Charta Politika, Eri-Armuji atau ErJi memperoleh 84 persen suara. Kotak kosong meraih 16 persen suara. Partisipasi pemilih 55 persen. ”Hitung cepat diambil dari 200 TPS sampel dari 31 kecamatan,” kata Wakil Koordinator Jatim Charta Politika Achmad Firdaus.

ErJi adalah pasangan kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Di Pilkada Surabaya, mereka diusung seluruh atau 18 partai politik peserta Pemilu. Sebanyak 10 partai meraih kursi di DPRD Kota Surabaya, sedangkan 8 partai non-parlemen. Pencoblosan dilaksanakan di 3.964 TPS dengan sebanyak 2.229.244 jiwa masuk daftar pemilih tetap (DPT). Jumlah DPT mencakup 74 persen dari 3.009.286 jiwa penduduk Surabaya, ibu kota Jatim.

Berdasarkan hitung cepat, partisipasi 55 persen setara dengan 1,226 juta jiwa warga menggunakan hak pilihnya. Diasumsikan, 1,226 juta jiwa warga itu menggunakan hak pilihnya dengan benar atau tiada suara tidak sah. Jika demikian, ErJi diprediksi memperoleh 1,029 juta suara, sedangkan kotak kosong hanya meraih sekitar 197.000 suara.

Yang tidak menggunakan hak pilih sebanyak 1,003 juta jiwa atau 45 persen. Ketidakhadiran lebih dari 1 juta jiwa itu naik hampir dua kali lipat dibandingkan pemilu dan pilpres pada 14 Februari 2024 dengan ketidakhadiran 522.679 jiwa pemilih di Surabaya. Dari situasi ini, ketidakhadiran dalam Pilkada Surabaya yang 1,003 juta jiwa mendekati prediksi perolehan suara ErJi yang 1,029 juta suara.

Dalam pemungutan suara pada Rabu pukul 07.00-13.00 WIB yang sempat diwarnai turunnya hujan, Eri menggunakan haknya di TPS 04 Kelurahan Karah, Kecamatan Jambangan. Armuji mencoblos di TPS 17 Kelurahan Ngagelrejo, Kecamatan Wonokromo.

Berdasarkan rekapitulasi suara, di TPS 04 Karah, ErJi mendapat 333 suara sah, kotak kosong cuma 46 suara sah, 7 suara tidak sah, dan 179 pemilih dari 565 pemilih tidak hadir (31,7 persen). Di TPS 17 Ngagelrejo, ErJi mendapat 272 suara, kotak kosong cuma 61 suara sah, 7 suara tidak sah, dan 253 pemilih dari 593 pemilih tidak hadir (42,7 persen).

Menurut dosen Ilmu Politik Universitas Airlangga, Ucu Martanto, partisipasi yang diprediksi sekitar 55 persen tergolong rendah dan mengindikasikan pemilih di Surabaya mungkin sudah lelah dengan rangkaian kontestasi. Selain itu, status calon tunggal dianggap tidak menarik, faktor alam, yakni hujan yang mungkin membuat pemilih menjadi malas, dan keengganan karena sosialisasi Pilkada Surabaya amat minim.

”Bagi kalangan pemilih di Surabaya, kontestasi pemilu dan pilpres dianggap lebih perlu mendapat atensi karena pemimpin nasional diharapkan dapat memberi tekanan perubahan ke daerah,” kata Ucu.

Quote

Partisipasi yang rendah tidak terkait dengan legitimasi tetapi kualitas kemenangannya kurang serta sosialisasi Pilkada dari KPU bisa dibilang gagal

Situasi ini justru anomali karena beragam layanan publik yang dibutuhkan oleh warga Surabaya amat bergantung dengan keberadaan pemimpin daerah yakni wali kota dan gubernur.

Suasana di TPS 04 Karah, Jambangan, Surabaya, Jawa Timur, di hari pemungutan suara untuk Pilkada Surabaya dan Pilkada Jatim, Rabu (27/11/2024). Di sinilah Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi yang juga calon tunggal untuk Pilkada Surabaya memberikan hak pilih dalam Pilkada 2024.

Calon tunggal dan petahana, lanjut Ucu, bisa membuka pandangan bahwa situasi di Surabaya tidak akan banyak berubah. Apalagi jika secara umum, pemerintahan Eri-Armuji sejak 21 Februari 2021 relatif diterima atau dianggap memuaskan. Dengan demikian, publik di Surabaya tidak memerlukan perubahan yang signifikan untuk daerahnya.

”Partisipasi yang rendah tidak terkait dengan legitimasi tetapi kualitas kemenangannya kurang serta sosialisasi Pilkada dari KPU bisa dibilang gagal,” kata Ucu.

Dalam konteks pendidikan politik dan demokrasi, partisipasi yang rendah mengindikasikan warga Surabaya belum berperan dominan dalam perubahan dan gerakan sosial. Jika ingin berperan dominan melalui pemilu, idealnya partisipasi tinggi untuk memberikan dukungan kepada calon tunggal atau lawannya yakni kotak kosong.

Secara terpisah, Eri mengatakan, hasil hitung cepat sesuai dengan keyakinannya dapat mengalahkan kotak kosong. Eri berterima kasih karena perjalanan pemerintahannya bersama Armuji diterima oleh warga Surabaya.

”Pilkada ini sebenarnya bukan ingin mencari menang, melainkan doa restu dari warga sehingga kami dapat melanjutkan pemerintahan ke masa depan lebih baik,” katanya.

Eri melanjutkan, siap menuntaskan program dan janji politik yang ditawarkan kepada warga agar dapat memimpin kembali Bumi Pahlawan. Yang terutama, pengentasan masyarakat dari kemiskinan serta pembukaan lapangan kerja, penanganan masalah kesehatan bayi, anak balita, anak, dan ibu, perbaikan tata kelola lingkungan, pemantapan jaringan prasarana, dan pendidikan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ambrosius Harto Manumoyoso
 | 

Editor:

Siwi Yunita Cahyaningrum
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari