Kloter campuran yang menyebabkan banyak pasangan terpisah dari rombongan terjadi akibat keterlambatan visa, perubahan manifes, dan sinkronisasi data.
18 Mei 2025 09:16 WIB · Humaniora
MEKKAH, KOMPAS — Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi akhirnya menerbitkan edaran yang mengatur penggabungan jemaah haji dalam penempatan di Mekkah. Hal ini menyusul terpisahnya beberapa anggota jemaah akibat kebijakan layanan berbasis syarikah atau perusahaan penyedia layanan.
Surat edaran ini ditandatangani pada Sabtu (17/5/2025). Dalam edaran ini penggabungan diutamakan untuk pasangan jemaah suami istri, anak dan orangtua, serta lansia/disabilitas dan pendamping.
”Berkenaan dengan itu, para ketua kloter diminta mendata jemaah yang termasuk dalam kategori pasangan terpisah dengan mencantumkan nama jemaah dan identitas syarikah masing-masing. Data tersebut segera disampaikan ke sektor untuk diproses lebih lanjut oleh Daerah Kerja (Daker) Mekkah dalam rangka penggabungan,” kata Muchlis M Hanafi, Direktur Layanan Haji Luar Negeri.
Jemaah yang sudah berhasil bergabung dengan pasangannya tetapi belum melapor secara resmi diminta melapor kepada ketua kloter untuk diteruskan ke sektor Daker Mekkah.
Pemisahan tempat tinggal antaranggota keluarga dalam satu kloter terjadi akibat kebijakan layanan haji selama jemaah di Mekkah yang berbasis syarikah (perusahaan penyedia layanan).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/15/1d9df7378e581aec6a20db626af7f711-IMG_0948.jpeg)
Muchlis mengatakan, kebijakan ini tidak dapat dihindari pada fase penempatan jemaah di Mekkah. Sementara di Madinah, penempatan jemaah masih bisa dilakukan berdasarkan kloter kedatangan dari Tanah Air.
”Dengan pertimbangan kemanusiaan, Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi bersama delapan syarikah penyedia layanan bagi jemaah haji Indonesia telah menyetujui agar pasangan yang terpisah dapat digabungkan dalam satu hotel, tanpa mempersoalkan perbedaan syarikah, dan kartu Nusuk-nya akan disesuaikan,” kata Muchlis.
Jemaah yang sudah berhasil bergabung dengan pasangannya tetapi belum melapor secara resmi diminta melapor kepada ketua kloter untuk diteruskan ke sektor Daker Mekkah. Hal ini penting agar keberadaan mereka tercatat oleh syarikah dan tidak menimbulkan kendala saat pergerakan dari Mekkah ke Arafah pada 8 Zulhijah 1446 H.
Muchlis meminta Kepala Daker Mekkah bersama seluruh kepala sektor segera menunjuk penanggung jawab khusus untuk menangani proses penggabungan pasangan jemaah yang terpisah. Tujuannya, untuk memastikan koordinasi berjalan efektif dan respons cepat terhadap laporan lapangan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/17/8689550faf264d330e0cd9aa09fa81e8-IMG_1075.jpeg)
”Proses penggabungan kembali jemaah yang terpisah agar diselesaikan dalam waktu maksimal 1 x 24 jam setelah kedatangan di Mekkah,” tegas Muchlis.
Dalam penjelasan sebelumnya, Muchlis mengatakan, kloter campuran yang menyebabkan banyak pasangan terpisah dari rombongan terjadi akibat keterlambatan visa, perubahan manifes, dan sinkronisasi data. Ini membuat satu kloter bisa terdiri atas jemaah lebih dari satu syarikah. Padahal, idealnya satu kloter dilayani satu syarikah.
”Penempatan hotel di Madinah tetap mengacu pada susunan kloter demi kenyamanan jemaah meski ini menjadi tantangan bagi syarikah dalam pemberian layanan. Sementara untuk penempatan hotel di Mekkah berdasarkan syarikah. Ini juga berlaku dalam layanan puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina," kata Muchlis.
Hingga Minggu (18/5/2025), jemaah dari Madinah terus berdatangan ke Mekkah. Saat yang sama, jemaah gelombang kedua dari Indonesia juga mulai datang ke Mekkah. Kedatangan jemaah gelombang dua ini diawali oleh jemaah asal Padang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/17/5e8444efb74d98a90b9be5bcac7d39e6-IMG_1068.jpeg)
Kepala Daerah Kerja Mekkah Ali Machzumi mengatakan, jemaah gelombang dua di Mekkah pada Sabtu terdiri atas 14 kloter dengan jumlah jemaah 5.300 orang.
”Hari ini juga akan datang 20 kloter dari Madinah dengan jumlah anggota jemaah 7.900 orang. Jadi total kami akan menerima kedatangan jemaah hari ini hingga 13.000 orang,” katanya.
Berdasarkan data Kementerian Agama, hingga kini lebih kurang 55 persen jemaah sudah berada di Arab Saudi. Namun, baru sekitar 50.000 orang yang berada di Mekkah. Selebihnya masih berada di Madinah. Proses kedatangan jemaah gelombang dua dari Jeddah ke Makkah berlangsung pada 17–31 Mei 2025.
Penulis:
Reny Sri Ayu, dari Mekkah, Arab SaudiEditor:
Adhitya RamadhanPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari