Pasar Bergairah Sambut Penundaan Sebagian Tarif Trump
Bursa AS menghijau setelah tarif Trump ditunda sebagian. Bursa Asia dan Eropa diproyeksi akan sama bergairahnya. Nilai tukar rupiah pun bisa ikut menguat.
NEW YORK, KAMIS — Bursa Amerika Serikat ditutup menguat setelah Donald Trump mengumumkan penundaan sebagian tarif bea masuk impor. Bursa Asia dan Eropa bisa menyusul kegairahan di Amerika Serikat.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan penundaan tiga bulan untuk tarif bea masuk impor (BMI). Nilai BMI, yang mencapai 32 persen untuk Indonesia, tidak akan diterapkan sementara waktu. Semua impor ke AS hanya akan dikenai BMI 10 persen.
”Saya mengesahkan penundaan 90 hari dan penurunan tarif imbal balik selama periode ini, dari 10 persen, berlaku segera,” tulis Trump di media sosial pada Rabu (9/4/2025) siang waktu Washington DC atau Kamis dini hari WIB.
Pengumuman Trump memicu kegairahan di pasar. Dalam penutupan perdagangan Rabu, seluruh indeks bursa AS menghijau. S&P 500, Dow 30, dan Nasdaq berturut-turut menguat 9,52 persen, 7,87 persen, dan 12,16 persen. Kegairahan membuat S&P 500 melompat dengan lonjakan tertinggi sejak tahun 2008.
Surat utang atau obligasi negara AS juga melambung. Kenaikan harga SUN 10 tahun terbang ke 3,24 persen dan SUN 5 tahun melesat ke 4,78 persen.
Harga sejumlah komoditas juga menguat. Minyak mentah 1,25 persen, emas 0,4 persen, dan tembaga terbang ke 5,89 persen.
Sebaliknya, nilai tukar dollar AS terhadap sejumlah mata uang lain melemah. Rupiah berpeluang ikut menguat bila tren positif ini menjalar ke Indonesia.
Pengumuman Trump disampaikan selepas bursa di Asia dan Eropa tutup. Kegairahan di Wall Street ditaksir akan menjalar ke Asia dan Eropa dalam pembukaan perdagangan Kamis pagi.
Hanya bursa China yang belum jelas nasibnya. Sebab, Trump berkeras tetap memberlakukan BMI ke China. AS-China mengambil posisi sama keras. Kini, total BMI AS untuk China mencapai 125 persen. Sebaliknya, BMI China untuk AS kini 118 persen. Akumulasi BMI itu hasil baku tambah tarif baru sejak 2 April 2025.
Selepas Trump mengumumkan total 54 persen BMI untuk impor dari China, Beijing membalasnya dengan tarif 34 persen untuk semua impor AS. AS menanggapi dengan tambahan tarif lagi. China lalu menambah BMI 84 persen.
”Kalau AS berkeras terus meningkatkan pembatasan ekonomi dan perdagangannya, China bertekad dan punya banyak perangkat mengambil langkah pembalasan dan bertarung sampai akhir,” demikian pernyataan Kementerian Perdagangan China selepas pengumuman BMI baru untuk impor AS.
Pekan lalu, seperti bursa di berbagai negara, bursa China dan Hong Kong memerah. AS merupakan pasar utama ekspor China. Pada 2024, ekspor China ke AS bernilai 463 miliar dollar AS. Sebaliknya, ekspor AS ke China bernilai 199 miliar dollar AS.
Kamar dagang dan industri (Kadin) Eropa kantor Beijing menyebut, AS melemahkan perdagangan dan investasi lewat keputusan tarif Trump. Banyak prinsip dasar perdagangan dan investasi global dibalikkan lewat keputusan itu. ”Hal ini akan memicu kenaikan besar biaya operasi dan ketidakefisienan, serta meningkatkan harga jual ke konsumen,” demikian pernyataan Kadin Eropa kantor Beijing.
Peluang resesi
Ekonom Goldman Sachs segera merevisi proyeksi resesi selepas pengumuman Trump. Bank investasi AS itu salah satu yang paling awal memproyeksi AS akan masuk periode resesi jika tarif BMI massal jadi diberlakukan. Dari 60 persen, peluang resesi kini turun ke 45 persen.
Ekonom senior pada Brooking Institution, Justin Wolfers, kekhawatiran pada resesi didengar oleh Trump. Ia menduga, kekhawatiran meluas itu menjadi penyebab Trump akhirnya menunda pemberlakuan sebagian BMI.
Mantan Menteri Keuangan AS, Larry Summers, termasuk yang mengingatkan dampak buruk tarif Trump. Ia memproyeksikan, hingga dua juta orang AS akan kehilangan pekerjaan karena tarif Trump. Hal itu terjadi karena rantai pasok terganggu oleh peraturan tarif baru.
Selepas Trump menunda sebagian, Summers tetap mengingatkan bahwa hal buruk belum lewat. Dari puluhan persen BMI baru, cuma 10 persen yang ditunda. Sisanya, yang bisa mencapai 32 persen bagi Indonesia, akan tetap berlaku.
Selain Summers, sejumlah konglomerat pendukung Trump juga memprotes tarif baru BMI. Bahkan, sebagian menyebut pemberlakuan tarif itu sebagai perang nuklir ekonomi global. (AFP/REUTERS/AP)
NEW YORK, KAMIS — Bursa Amerika Serikat ditutup menguat setelah Donald Trump mengumumkan penundaan sebagian tarif bea masuk impor. Bursa Asia dan Eropa bisa menyusul kegairahan di Amerika Serikat.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan penundaan tiga bulan untuk tarif bea masuk impor (BMI). Nilai BMI, yang mencapai 32 persen untuk Indonesia, tidak akan diterapkan sementara waktu. Semua impor ke AS hanya akan dikenai BMI 10 persen.
”Saya mengesahkan penundaan 90 hari dan penurunan tarif imbal balik selama periode ini, dari 10 persen, berlaku segera,” tulis Trump di media sosial pada Rabu (9/4/2025) siang waktu Washington DC atau Kamis dini hari WIB.
Serial Artikel
Pengusaha AS Gugat Tarif Trump yang Bisa Picu ”Musim Dingin Nuklir Ekonomi”
Pengumuman Trump memicu kegairahan di pasar. Dalam penutupan perdagangan Rabu, seluruh indeks bursa AS menghijau. S&P 500, Dow 30, dan Nasdaq berturut-turut menguat 9,52 persen, 7,87 persen, dan 12,16 persen. Kegairahan membuat S&P 500 melompat dengan lonjakan tertinggi sejak tahun 2008.
Surat utang atau obligasi negara AS juga melambung. Kenaikan harga SUN 10 tahun terbang ke 3,24 persen dan SUN 5 tahun melesat ke 4,78 persen.
Harga sejumlah komoditas juga menguat. Minyak mentah 1,25 persen, emas 0,4 persen, dan tembaga terbang ke 5,89 persen.
Sebaliknya, nilai tukar dollar AS terhadap sejumlah mata uang lain melemah. Rupiah berpeluang ikut menguat bila tren positif ini menjalar ke Indonesia.
Pengumuman Trump disampaikan selepas bursa di Asia dan Eropa tutup. Kegairahan di Wall Street ditaksir akan menjalar ke Asia dan Eropa dalam pembukaan perdagangan Kamis pagi.
Hanya bursa China yang belum jelas nasibnya. Sebab, Trump berkeras tetap memberlakukan BMI ke China. AS-China mengambil posisi sama keras. Kini, total BMI AS untuk China mencapai 125 persen. Sebaliknya, BMI China untuk AS kini 118 persen. Akumulasi BMI itu hasil baku tambah tarif baru sejak 2 April 2025.
Selepas Trump mengumumkan total 54 persen BMI untuk impor dari China, Beijing membalasnya dengan tarif 34 persen untuk semua impor AS. AS menanggapi dengan tambahan tarif lagi. China lalu menambah BMI 84 persen.
”Kalau AS berkeras terus meningkatkan pembatasan ekonomi dan perdagangannya, China bertekad dan punya banyak perangkat mengambil langkah pembalasan dan bertarung sampai akhir,” demikian pernyataan Kementerian Perdagangan China selepas pengumuman BMI baru untuk impor AS.
Serial Artikel
China Balas Tarif Trump, Sejumlah Negara Untung atau Buntung
Di tengah perang dagang AS-China, negara-negara Amerika Latin bisa menjadi produsen alternatif untuk memenuhi kebutuhan impor produk pertanian China.
Pekan lalu, seperti bursa di berbagai negara, bursa China dan Hong Kong memerah. AS merupakan pasar utama ekspor China. Pada 2024, ekspor China ke AS bernilai 463 miliar dollar AS. Sebaliknya, ekspor AS ke China bernilai 199 miliar dollar AS.
Kamar dagang dan industri (Kadin) Eropa kantor Beijing menyebut, AS melemahkan perdagangan dan investasi lewat keputusan tarif Trump. Banyak prinsip dasar perdagangan dan investasi global dibalikkan lewat keputusan itu. ”Hal ini akan memicu kenaikan besar biaya operasi dan ketidakefisienan, serta meningkatkan harga jual ke konsumen,” demikian pernyataan Kadin Eropa kantor Beijing.
Peluang resesi
Ekonom Goldman Sachs segera merevisi proyeksi resesi selepas pengumuman Trump. Bank investasi AS itu salah satu yang paling awal memproyeksi AS akan masuk periode resesi jika tarif BMI massal jadi diberlakukan. Dari 60 persen, peluang resesi kini turun ke 45 persen.
Ekonom senior pada Brooking Institution, Justin Wolfers, kekhawatiran pada resesi didengar oleh Trump. Ia menduga, kekhawatiran meluas itu menjadi penyebab Trump akhirnya menunda pemberlakuan sebagian BMI.
Serial Artikel
Tarif Trump Membuat Para Ekonom Marah
Kamar Dagang dan Industri AS pun menolak palugada tarif yang membuat bursa saham merosot. Trump telah merusak tatanan ekonomi global yang turut dibentuk oleh AS.
Mantan Menteri Keuangan AS, Larry Summers, termasuk yang mengingatkan dampak buruk tarif Trump. Ia memproyeksikan, hingga dua juta orang AS akan kehilangan pekerjaan karena tarif Trump. Hal itu terjadi karena rantai pasok terganggu oleh peraturan tarif baru.
Selepas Trump menunda sebagian, Summers tetap mengingatkan bahwa hal buruk belum lewat. Dari puluhan persen BMI baru, cuma 10 persen yang ditunda. Sisanya, yang bisa mencapai 32 persen bagi Indonesia, akan tetap berlaku.
Selain Summers, sejumlah konglomerat pendukung Trump juga memprotes tarif baru BMI. Bahkan, sebagian menyebut pemberlakuan tarif itu sebagai perang nuklir ekonomi global. (AFP/REUTERS/AP)