Industri otomotif tidak bisa bergantung pada pasar ekspor tanpa perbaikan permintaan domestik.
12 Okt 2025 08:00 WIB · Ekonomi & Bisnis
JAKARTA, KOMPAS – Kinerja industri otomotif nasional dalam sembilan bulan terakhir menunjukkan tren permintaan yang melemah di pasar domestik. Meski demikian, terjadi peningkatan ekspor mobil utuh dan setengah jadi yang membantu menopang pertumbuhan sektor otomotif sepanjang tahun 2025.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) pada Januari-September 2025, total penjualan wholesales atau distribusi dari pabrikan ke dealer mencapai 561.819 unit. Capaian ini turun 11,3 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2024 yang sebesar 633.660 unit.
Penjualan secara ritel, atau dari dealer ke konsumen, juga terkoreksi 10,9 persen menjadi 585.917 unit di dalam negeri. Adapun produksi kendaraan juga ikut menurun 3,4 persen menjadi 854.952 unit.
Melemahnya penjualan domestik ini menunjukkan bahwa daya beli konsumen masih tertekan, terutama di segmen menengah. Hal ini sejalan dengan kecenderungan konsumen menunda pembelian kendaraan baru di tengah tingginya suku bunga kredit dan biaya hidup yang meningkat.
”Penjualan domestik masih belum membaik, daya beli masih rendah,” ujar Ketua 1 Gaikindo Jongkie D Sugiarto, melalui pesan tertulisnya, Sabtu (11/10/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/09/ff54f4141f7d64d48b7eb88c859d61f7-IMG20251009155603.jpg)
Pengamat otomotif Bebin Djuana mengatakan, kondisi ekonomi dalam negeri belum pulih sepenuhnya sehingga berujung pada pelemahan daya beli di kelas menengah ke bawah. Di sisi lain, kelas menengah ke atas masih enggan membelanjakan uangnya. Akhirnya, penjualan dalam negeri pun melambat.
Kondisi ekonomi saat ini menegaskan bahwa bagi sebagian besar masyarakat, pembelian kendaraan bukanlah kebutuhan primer. Kalaupun ada kelas menengah yang membeli mobil, fungsinya untuk keperluan komersial dan perusahaan, seperti taksi daring atau kebutuhan operasional usaha.
”Sebab, kalau salah langkah, mereka (masyarakat kelas menengah) bisa-bisa tidak mampu membayar cicilan,” lanjut Bebin.
Kondisi masyarakat kelas menengah yang telah membeli kendaraan, lalu menjualnya kembali atau ditarik pihak leasing, menggambarkan finansial masyarakat yang belum kuat. Akibat tidak mampu membayar cicilan kendaraan, segmen ini tidak bisa diandalkan untuk menopang pasar otomotif domestik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/03/b49e3a71193f1093dd7a2d6ebf176916-20250803RZF01.JPG)
Di tengah lemahnya kondisi pasar dalam negeri itu, kinerja ekspor justru menunjukkan tren positif. Ekspor mobil utuh (completely built up/CBU) pada Januari-September 2025 tercatat naik 10,9 persen secara tahunan menjadi 382.374 unit. Tren peningkatan ini setidaknya terlihat sejak Mei 2025.
Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun 2024, ekspor kendaraan CBU mencapai 344.780 unit. Adapun secara total sepanjang tahun 2024, total kendaraan yang diekspor mencapai 472.194 unit.
Sementara itu, ekspor set kendaraan setengah jadi atau completely knocked down (CKD) juga melonjak 29,8 persen menjadi 45.673 set atau lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2024 yang mencapai 35.179 set. Secara keseluruhan, total ekspor pada 2024 mencapai 46.311 set.
Kenaikan ini menegaskan posisi Indonesia sebagai basis produksi kendaraan untuk pasar regional. Namun, Jongkie mengingatkan, pasar domestik tetap memiliki posisi penting dalam industri otomotif yang perlu diperhatikan.
”Ekspor itu, kan, tergantung kepada prinsipal dan keadaan negara tujuan ekspornya,” kata Yongkie.
Dari Januari hingga September 2025 Toyota menduduki peringkat pertama sebagai jenama yang mengekspor paling banyak kendaraan, yaitu 130.045 kendaraan, atau menguasai 34 persen pangsa pasar.
Urutan berikutnya, Daihatsu sebanyak 89.418 kendaraan (23,4 persen), Mitsubishi Motors 75.361 kendaraan (19,7 persen), Hyundai-HMMI 43.334 kendaraan (11,3 persen), Suzuki 22.359 kendaraan (5,8 persen), dan Honda 12.628 kendaraan (3,3 persen).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/09/fa5b8866d0269cc5fb1db143343f7826-IMG20251009150122.jpg)
Sementara itu, impor kendaraan utuh meningkat tajam sebanyak 61,6 persen menjadi 113.198 unit. Peningkatan ini menunjukkan diversifikasi model kendaraan yang masuk ke pasar domestik, terutama dari segmen premium dan kendaraan listrik.
Menurut pengamat otomotif James Luhulima, peningkatan ekspor mobil Indonesia tidak serta-merta memperbaiki kondisi pasar dalam negeri. ”Pasar luar negeri memang besar, tapi itu tidak membawa pengaruh langsung ke pasar domestik yang terus melesu,” kata James.
Peningkatan pasar ekspor ini memang perlu dilihat lebih dalam sebagai koreksi atas kondisi di dalam negeri. Peningkatan ekspor itu memperlihatkan ekonomi negara tujuan sudah membaik, sedangkan Indonesia masih berkutat dengan lemahnya daya beli masyarakat.
Industri otomotif tidak bisa bergantung pada pasar ekspor tanpa perbaikan permintaan domestik.
Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menyebutkan, naiknya ekspor mobil yang kontras dengan lesunya penjualan domestik menunjukkan lesunya daya beli makro di segmen pasar terbesar nasional alias kelas menengah.
”Middle income class menyusut pesat hingga 16,5 persen dibanding 2019. Jadi, sementara daya saing manufaktur Indonesia di mata global terbukti kuat, tetapi permintaan dari konsumen domestik justru tertekan oleh masalah struktural, seperti daya beli makro dan tingginya berbagai pungutan pajak (khususnya untuk kendaraan),” kata Yannes.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/02/18/d4b0ac7a-17a3-4a2d-a6ef-124f65767a20_jpg.jpg)
Pertumbuhan ekspor kendaraan yang kuat itu, lanjut Yannes, dapat menolong dealer, perusahaan pembiayaan, hingga produsen komponen yang awalnya berorientasi pada pasar lokal. Kondisi ekspor yang meningkat secara tidak langsung juga mampu membantu sebagian rantai pasok industri otomotif nasional saat penjualan domestik menurun.
Meski begitu, industri otomotif tidak bisa bergantung pada pasar ekspor tanpa perbaikan permintaan domestik. Jika pasar lokal terus melemah, efek pengganda ekonomi dari industri otomotif akan ikut menurun. Oleh karena itu, ujarnya, keseimbangan antara kekuatan ekspor dan pasar dalam negeri sangat dibutuhkan.
Oleh karena itu, pemerintah perlu menyiapkan strategi kebijakan lintas kementerian yang lebih terintegrasi untuk memperkuat ekosistem industri otomotif nasional.
”Kita butuh ekosistem industri lokal yang lebih lincah, adaptif, dan memiliki visi jangka panjang yang jelas untuk menciptakan kemandirian industri dalam negeri yang sesungguhnya,” ucapnya.
Reformasi ekosistem tata kelola industri otomotif menjadi keharusan. Pemerintah, katanya, perlu secara bersamaan menyelesaikan kompleksitas kebijakan lama yang menghambat daya saing, sambil membangun ekosistem baru yang lebih kuat dan berorientasi global.
Penulis:
Aguido AdriEditor:
Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul