Kombinasi penataan ulang portofolio global MSCI dan lonjakan harga minyak mentah dunia menciptakan tekanan berlapis bagi instrumen keuangan RI.
18 Mei 2026 12:19 WIB · Ekonomi & Bisnis
Kompas/Erika Kurnia
JAKARTA, KOMPAS — Pasar keuangan domestik diproyeksikan kembali menghadapi tekanan berat pada pekan keempat Mei 2026. Sentimen negatif ganda itu berasal dari penyesuaian indeks global MSCI dan harga minyak dunia yang masih fluktuatif.
Analis pasar modal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan, sepekan ke depan, pasar saham masih akan melemah dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan cenderung melemah di batas bawah (support ) 6.362 dan batas atas 6.560.
Pada awal pekan ini, Senin (18/5/2026), IHSG dibuka pada level 6.628. Dalam perdagangan sesi pertama, IHSG anjlok ke titik terendah tahun ini, 6.398. Posisi ini mengindikasikan adanya tekanan lanjutan setelah pada pekan sebelumnya dalam hari perdagangan singkat, 11-13 Mei, IHSG melemah 3,53 persen dari posisi 6.936 ke 6.723.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/18/cf6058865d3c8311218f72984fd5d93f-20260518_101110.jpg)
Investor asing mencatatkan penjualan bersih senilai Rp 3,21 triliun, terutama di saham-saham yang terkait peninjauan lembaga penyedia indeks saham global MSCI dan sektor perbankan besar.
”Untuk sentimen hari ini, kami mencermati dengan adanya konflik geopolitik yang berlarut-larut kembali meningkatkan harga minyak mentah dunia yang saat ini berada di atas 100 dolar AS per barelnya,” kata Herditya.
Kondisi ini dinilai kembali meningkatkan kekhawatiran investor akan tekanan inflasi ke depan dan perlambatan ekonomi global.
Tren pelemahan ini juga tidak hanya terlihat di pasar saham domestik, tetapi juga pada pergerakan bursa global dan mayoritas bursa Asia yang terkoreksi. Jelang siang hari ini, seluruh indeks saham global memerah alias melemah.
Indeks Dow Jones Industrial Amerika melemah 1 persen lebih, diikuti pelemahan indeks S&P 500 1,2 persen. Indeks Nikkei Jepang juga melemah 0,7 persen dalam sehari, indeks ASX Australia turun lebih dari 1,5 persen, dan indeks Shanghai turun 0,2 persen.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/18/4ca491001339994f375f4c472f58a2b7-Screenshot_20260518_113341_Samsung_Internet.jpg)
Di dalam negeri, pasar saham Indonesia diikuti tekanan tambahan dari nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Rupiah hari ini terdepresiasi ke level Rp 17.676 per dolar AS atau melemah sekitar 5 persen sejak awal tahun.
”Kemudian, IHSG tertekan dengan adanya pengumuman dari MSCI dan FTSE yang masih membekukan indeks Indonesia dan mengeluarkan beberapa emiten dari konstituennya. Hal ini akan menimbulkan outflow (arus dana keluar) yang cukup besar di akhir Mei nanti,” kata Herditya.
Pengumuman lembaga penyedia indeks saham global, baik MSCI maupun FTSE, pada pekan lalu menjadi salah satu fase paling menantang bagi pasar saham domestik sepanjang tahun berjalan.
Mereka, dalam tinjauan regulernya, memutuskan mengeluarkan saham-saham Indonesia yang tercatat memiliki saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi pada kelompok tertentu dari indeks mereka. Selain itu, penilaian free float atau saham publik yang kini jadi bagian reformasi pasar modal juga jadi pertimbangan evaluasi indeks.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, dalam keterangannya hari ini, mengatakan, narasi utama pasar kini tidak lagi sekadar soal valuasi atau kinerja emiten, tetapi lebih pada bagaimana investor global melakukan reposisi portofolio menghadapi perubahan besar pada indeks MSCI.
”Keputusan MSCI yang mengeluarkan sejumlah saham besar, seperti AMMN, BREN, TPIA, DSSA, hingga CUAN, dari Global Standard Index menjadi katalis utama meningkatnya tekanan jual di pasar domestik,” tuturnya.
Ia menambahkan, investor asing mulai melakukan penyesuaian posisi lebih awal sebelum tanggal efektif penyesuaian indeks pada akhir Mei. Ini akan memicu gelombang arus dana keluar pasif atau passive outflow yang cukup agresif.
Untuk periode 18-22 Mei 2026, Imam juga menilai, fokus pasar masih akan tertuju pada implementasi penyesuaian kebijakan evaluasi indeks atau rebalancing MSCI menjelang 29 Mei 2026. Volatilitas diperkirakan tetap tinggi, terutama pada sesi closing auction atau penutupan lelang, yang biasanya menjadi titik utama penyesuaian portofolio dana pasif global.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/13/8b3694bf2b3d996cbd9ae9df0a2f5e87-20260513_GKT_MSCI_Index_2026_mumed.jpg)
Selain itu, pasar juga mulai mengantisipasi potensi kenaikan kelas saham Korea Selatan dari Emerging Market menjadi Developed Market oleh MSCI. Dalam jangka menengah, hal ini dapat membuka peluang relokasi arus dana asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Imam memperkirakan, IHSG saat ini masih berada dalam fase pelemahan dengan batas bawah berikutnya berada di area 6.640 hingga 6.538. Strategi defensif tetap menjadi pendekatan yang paling relevan dalam jangka pendek.
”IPOT melihat tekanan pasar saat ini lebih mencerminkan faktor teknikal dan mekanisme global rebalancing dibandingkan deteriorasi fundamental ekonomi domestik secara struktural,” katanya.
Dengan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia kuartal I-2026 yang tetap solid di level 5,61 persen, pasar domestik sebenarnya masih memiliki fondasi fundamental yang cukup resilien. Namun, investor diharapkan untuk lebih disiplin dalam mengelola risiko dan posisi perdagangan untuk jangka pendek.
Investor juga diingatkan untuk memantau efek kondisi global yang belum kondusif.
Saat ini, pasar kembali menghadapi skenario suku bunga acuan dijaga tinggi atau higher for longer setelah inflasi Amerika Serikat masih bertahan tinggi. Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed kembali mundur, bahkan sebagian pelaku pasar mulai membuka kemungkinan adanya kenaikan suku bunga tambahan pada akhir tahun.
”Situasi ini membuat dolar AS terus menguat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah yang sempat menyentuh level terlemah baru di Rp 17.520 per dolar AS,” kata Imam.
Ia menjelaskan, pada saat bersamaan, konflik geopolitik Timur Tengah dan terganggunya jalur distribusi energi global akibat krisis Selat Hormuz membuat harga minyak melonjak tajam di atas 105 dolar AS per barel.
”Kombinasi dolar yang kuat, harga minyak tinggi, dan arus keluar asing akhirnya menciptakan tekanan berlapis terhadap pasar domestik,” katanya.
Dinamika geopolitik juga masih menjadi motor utama pergerakan harga bagi pasar komoditas. Harga minyak dunia terus menguat akibat kekhawatiran undersupply global, sementara batubara tetap bertahan solid didorong pengalihan konsumsi energi Asia dari LNG menuju batubara akibat konflik berkepanjangan.
Sementara itu, pasar emas mulai mengambil untung setelah adanya peluang penurunan suku bunga The Fed semakin kecil. Untuk nikel, koreksi harga lebih dipengaruhi aksi ambil untung dan tingginya inventori global dibandingkan perubahan fundamental jangka panjang.
Di dalam negeri, keputusan pemerintah menunda kenaikan royalti minerba menjadi sentimen positif bagi emiten tambang dan operator smelter karena dapat menjaga margin profitabilitas tetap stabil di tengah volatilitas global.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
Budi SuwarnaPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan