Pasar di negara berkembang tengah diminati investor global yang khawatir terhadap ketidakpastian ekonomi.
08 Jul 2025 13:56 WIB · Ekonomi & Bisnis
JAKARTA, KOMPAS — Pergerakan indeks pasar saham hingga obligasi, termasuk nilai tukar rupiah, cenderung stabil saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump merilis tarif baru pada beberapa mitra dagangnya, termasuk Indonesia, pada Selasa (8/7/2025) WIB. Alih-alih tertekan, pasar keuangan di negara berkembang kembali diuntungkan dana investor asing yang beralih dari pasar Amerika Serikat yang tengah melemah.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pagi ini dibuka di level 6.892 dan bergerak datar ke level 6.900, dengan level tertinggi sampai perdagangan sesi pertama di 6.908. Kemudian, indeks obligasi seperti Invofesta Government Bond Index (IGBI) dan Invofesta Corporate Bond Index (ICBI) sampai tengah hari ini naik tipis masing-masing 0,07 persen dan 0,02 persen.
Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS menguat sekitar 44 poin atau 0,26 persen dari sesi perdagangan terakhir menjadi Rp 16.244. Penguatan terjadi sejak awal pekan ini sehingga depresiasi rupiah dibandingkan awal tahun menyempit menjadi hanya -0,79 persen.
Terkait pasar saham, Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna menilai, dampak pengumuman tarif resiprokal AS untuk Indonesia, yang tetap sebesar 32 persen, tidak besar terhadap pasar modal RI.
”Kami sudah melakukan survei, bahwa impact terhadap tarif tidak besar,” kata Nyoman saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Selasa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/08/1437ffdaf9ecdaad35777138f0cb5a31-20250708_091122.jpg)
Dari survei itu, lanjut Nyoman, dampak tarif tergantung sektor emiten yang produknya kemungkinan terdampak penerapan tarif. ”Ini karena tergantung dari sisi kontribusi dari perusahaan tercatat kita terhadap produk atau barang yang kena tarif,” ujarnya.
Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Inarno Djajadi, dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK secara daring hari ini, mengakui, dinamika perdagangan global dan geopolitik memang membuat pasar modal melemah dalam jangka pendek.
Pasar saham domestik pada awal Juni hingga saat ini (month-to-date/mtd) mengalami pelemahan sekitar 3 persen, sedangkan sejak awal tahun hingga hari ini (year-to-date/ytd) melemah sebesar 2,15 persen. Nilai kapitalisasi pasar tercatat Rp 12.178 triliun atau turun 1,95 persen mtd atau turun 1,28 persen ytd.
”Investor non-resident mencatatkan net-sell (penjualan bersih) secara month-to-date pada Juni 2025 sebesar Rp 8,38 triliun dan secara year-to-date net-sell sebesar Rp 53,57 triliun,” ujarnya.
Adapun di pasar obligasi, indeks pasar obligasi ICBI menguat 1,18 persen mtd ke level 414 dengan investor non-resident atau asing mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp 7,36 triliun secara mtd, walaupun sejak awal tahun investor asing melakukan pembelian bersih sebesar Rp 42,27 triliun.
Kepala Divisi Riset Ekonomi PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Suhindarto, dalam konferensi pers daring terpisah, hari ini, menjelaskan, investor asing menanggapi ketidakpastian terhadap perdagangan di dunia akibat kebijakan tarif Amerika Serikat dengan masuk ke aset safe haven di pasar negara berkembang.
”Terjadi perubahan arus modal dari yang sebelumnya mereka (investor asing) masuk ke aset dollar AS, akhirnya berbalik menjadi masuk ke aset-aset di negara berkembang. Selain itu, mereka juga masuk ke instrumen safe haven selain dollar dan instrumen-instrumen investasi di Amerika Serikat, yaitu emas,” ungkapnya.
Terjadi perubahan arus modal, dari yang sebelumnya mereka (investor asing) masuk ke aset dollar AS, akhirnya berbalik menjadi masuk ke aset-aset di negara berkembang.
Hal ini didasari pasar investasi di AS yang sudah tidak lagi berada di peringkat investasi terbaiknya. Peringkat sovereign AS oleh lembaga pemeringkat Moody’s tahun ini turun dari peringkat AAA menjadi Aa1.
Suhindarto membaca, penurunan ini diakibatkan kebutuhan Trump menutup defisit fiskal dengan dana surat utang yang semakin meningkat sejak 2022. Selain itu, beban bunga AS juga telah melonjak sejak 2023 karena era suku bunga tinggi pascapandemi.
Nilai tukar dollar AS juga terus melemah sejak April hingga akhir Juni, berbeda dengan kurs mata uang di negara-negara berkembang, antara lain Indonesia, Korea Selatan, Thailand, China, dan Malaysia, yang positif.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/08/2da504aff135a021abbfbf17c3ba9436-cropped_image.jpg)
Mengutip Trading Economics, selama empat minggu terakhir, indeks dollar AS turun 1,69 persen dan selama 12 bulan terakhir harganya turun 7,47 persen. Ke depan, analis di laman itu memperkirakan, indeks dollar AS yang kini ada di level sekitar 97 akan menguat ke level 98,116 pada akhir triwulan ini dan level 101,569 pada akhir tahun.
”Ke depan, mungkin ketidakpastian ekonomi ini juga akan banyak diwarnai dengan aksi spekulasi untuk masuk ke negara-negara berkembang. Investor akan banyak mengejar keuntungan di negara maju dan masih selektif untuk masuk ke negara berkembang dan mungkin hanya akan diwarnai faktor spekulasi,” tutur Suhindarto.
Sementara itu, kebijakan tarif resiprokal oleh AS untuk berbagai mitra dagangnya di dunia yang kembali dijeda sebelum diimplementasikan pada 1 Agustus, menurut Suhindarto, juga menimbulkan ketidakpastian pada perdagangan dunia. Dalam masa tunggu ini, Trump telah mengirimkan surat ke sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Indonesia termasuk negara yang tarifnya belum berubah, yaitu 32 persen. Dalam masa tunggu ini, Pemerintah Indonesia punya ruang untuk menegosiasikan tarif tersebut dengan Pemerintah AS.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
Budi SuwarnaPenyelaras Bahasa:
Nur Adji