Pasar Keuangan Melemah Imbas Serangan AS-Israel ke Iran

Konflik berkepanjangan bisa memberi dampak yang lebih serius pada pasar keuangan.

02 Mar 2026 14:27 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Eskalasi konflik di Timur Tengah memicu gelombang penghindaran risiko di pasar keuangan global dan berpotensi menekan aset-aset domestik pada awal pekan ini. Investor mencermati dampak lanjutan perang Iran dengan Amerika Serikat-Israel terhadap harga minyak, inflasi global, dan arah kebijakan moneter bank sentral utama.

Chief Economist Mandiri Sekuritas Andry Asmoro, dalam laporannya, Senin (2/3/2026), mengatakan, investor tetap akan cenderung menghindari produk keuangan berisiko dalam menanggapi risiko konflik regional yang lebih luas dan potensi gangguan pasokan minyak global.

Iran dilaporkan membalas dengan serangan rudal dan drone ke sejumlah target militer sekaligus menutup Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi global. ”Situasi ini berpotensi memicu perilaku risk-off yang lebih dalam di tengah kekhawatiran tekanan inflasi global kembali meningkat dan pelonggaran moneter bank sentral utama tertunda,” ujar Andry.

Smoke rise from Israeli airstrikes on Dahiyeh in the southern suburb of Beirut, early Monday, March 2, 2026. (AP Photo/Hussein Malla)bbbb  new

Risiko ini sudah dibaca investor pekan lalu sejak konflik yang diawali negosiasi nuklir ini. Pasar saham di berbagai belahan dunia pun telah melemah sejak akhir pekan lalu.

Di Amerika Serikat, Indeks Dow Jones Industrial Average pada perdagangan Jumat (27/2/2026) turun 1,05 persen ke level 48.977,92, sedangkan S&P 500 terkoreksi 0,43 persen ke 6.878,88.

Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun 6,66 basis poin ke 3,94 persen. Tekanan juga terjadi di Eropa. Indeks CAC 40 Perancis turun 0,47 persen ke 8.580,75, sedangkan DAX Jerman melemah tipis 0,02 persen ke 25.284,26.

Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat (27/2/2026) ditutup relatif stabil di level 8.235 atau turun 4,76 persen sejak awal tahun. Investor asing masih mencatatkan jual bersih (net foreign outflow) Rp 694,2 miliar pada hari itu, dengan total outflow mencapai Rp 9,5 triliun sejak awal tahun.

Pelemahan berlanjut hingga hari ini. IHSG melemah 1,6 persen ke level 8.103 pada perdagangan sesi I. Pada sesi perdagangan ini, investor asing mencatatkan pembelian bersih sebesar Rp 32 miliar.

Grafik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal sesi II perdagangan Senin (2/3/2026). Pasar saham melemah di tengah ketidakpastian konflik di Timur Tengah.

Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik 0,70 basis poin ke 6,43 persen atau naik 35,7 basis poin sejak awal tahun. Sementara itu, yield obligasi global Indonesia tenor 10 tahun (INDON) justru turun 1,1 basis poin ke 4,9 persen.

Nilai tukar rupiah pada 26 Februari 2026 terdepresiasi 0,10 persen menjadi Rp 16.771 per dolar AS, atau melemah 0,49 persen sejak awal tahun. Andry memproyeksikan kurs dolar AS terhadap rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp 16.785–Rp 17.002 seiring meningkatnya volatilitas global.

Pelemahan pasar keuangan ini diikuti lonjakan harga minyak dunia. Minyak mentah Brent kini melonjak harganya ke 78,3 dolar AS per barel dari sebelumnya 72,8 dolar AS per barel. Indeks dolar AS (DXY) turut menguat ke level 98,0.

”Jika harga minyak bertahan di atas asumsi APBN 70 dolar AS per barel, tekanan fiskal berpotensi meningkat. Pada pembukaan pasar pagi ini, saham-saham sektor transportasi, manufaktur, dan consumer discretionary cenderung menghadapi tekanan. Rupiah juga dapat melemah karena volatilitas ini,” tuturnya.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati data inflasi produsen (PPI) AS yang lebih tinggi dari perkiraan. Pekan ini, sejumlah data penting AS akan dirilis, termasuk ISM Manufacturing, ISM Non-Manufacturing, ADP Employment Change, nonfarm payrolls, tingkat pengangguran, dan penjualan ritel.

Saham yang diunggulkan

Riset Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG sampai penutupan perdagangan hari ini akan bergerak dalam rentang level 8.075-8.175. Jika IHSG menembus level 8.100, mereka memperkirakan indeks berpeluang menguji area 8.000 hingga 7.800.

Namun, pelemahan di pasar saham tidak mewakili semua sektor. Sektor energi, khususnya minyak dan gas, berpotensi diuntungkan oleh lonjakan harga komoditas.

Harga emas dunia kini menguat lebih dari 1 persen ke atas level 5.350 dolar AS per troy ounce pada pagi hari, seiring meningkatnya permintaan aset safe haven. Komoditas alternatif energi seperti batubara, nikel, dan minyak sawit mentah (CPO) berpotensi terdorong. Sektor usaha pelayaran minyak dan gas bumi dapat diuntungkan jika tarif angkut naik akibat perubahan rute distribusi.

”Meski demikian, apabila konflik berkepanjangan hingga menekan permintaan global, dampak negatif tetap membayangi,” kata tim Phintraco.

Daftar komoditas global dan perubahan harganya per Senin (2/3/2026) pagi.

Sebaliknya, sektor perbankan dan keuangan dinilai sensitif terhadap potensi kenaikan suku bunga dan volatilitas pasar. Sektor konsumer dan ritel berisiko tertekan oleh inflasi yang menggerus daya beli, sementara sektor properti menghadapi tantangan dari sisi pembiayaan.

Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham yang dinilai berpotensi diuntungkan dari penguatan harga komoditas di tengah eskalasi geopolitik global.

Emiten sektor energi dan pertambangan yang dinilai akan diuntungkan situasi terkini antara lain PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Harum Energy Tbk (HRUM), dan PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO).


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Budi Suwarna
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul