Pasar Keuangan Tertekan Menjelang Libur Panjang

Di pasar saham, IHSG pada perdagangan awal pekan kembali melemah hingga menyentuh level sekitar 6.900.

16 Mar 2026 11:41 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Memasuki pekan terakhir sebelum libur panjang Nyepi dan Idul Fitri, pasar keuangan domestik tertekan. Ketidakpastian geopolitik global, lonjakan harga energi, serta penguatan dolar AS mendorong gejolak tinggi pada saham, obligasi, dan nilai tukar rupiah.

Pasar saham dalam negeri mengalami tekanan terparah pada perdagangan hari ini, Senin (16/3/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di level 7.115 dan bergerak ke posisi terlemah di 6.917 pada perdagangan sesi pertama, dengan mayoritas saham dari berbagai sektor usaha melemah.

Grafik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam enam bulan terakhir sampai Senin (16/3/2026). IHSG jebol ke sekitar level 7.000 karena tekanan perang AS - Iran dan domestik jelang libur panjang Nyepi dan Lebaran.

Ini merupakan pelemahan terburuk dari penutupan perdagangan Jumat (13/3/2026). Saat itu, IHSG turun tajam 3,05 persen ke level 7.137. Sepanjang tahun berjalan, indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) itu telah melemah 17,5 persen. Aksi jual investor asing mencapai Rp 8,9 triliun sejak awal 2026.

Tekanan juga terlihat pada pasar surat utang. Imbal hasil obligasi Pemerintah Indonesia tenor 10 tahun naik 7,4 basis poin ke level 6,80 persen atau meningkat 72,7 basis poin sejak awal 2026. Sementara imbal hasil obligasi global Indonesia berdenominasi dolar AS (INDON) tenor 10 tahun naik 5,6 basis poin menjadi 5,3 persen.

Grafik imbal hasil obligasi pemerintah RI 10 tahun hingga Senin (17/3/2026).

Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menilai tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga akan berlanjut. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Jumat (13/3/2026) melemah 0,30 persen ke posisi Rp 16.944 per dolar AS. Sepanjang tahun berjalan, rupiah telah terdepresiasi 1,52 persen. Ia memperkirakan rupiah pada perdagangan Senin ini bergerak di kisaran Rp 16.894 hingga Rp 16.985 per dolar AS.

”Dalam beberapa hari ke depan, pasar keuangan Indonesia kemungkinan masih berada di bawah tekanan. Hal ini dipicu oleh penguatan dolar AS dan kenaikan yield obligasi Pemerintah Amerika Serikat yang dipengaruhi perkembangan geopolitik di Timur Tengah,” ujar Andry dalam keterangannya, Senin (16/3/2026).

Ketegangan global meningkat setelah AS melancarkan serangan terhadap target militer Iran di Pulau Kharg, salah satu pusat ekspor minyak utama negara tersebut. Washington juga mengancam memperluas serangan terhadap infrastruktur energi jika Iran mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz.

infografik
Ekspor-Impor Indonesia ke Sejumlah Negara Timur Tengah Melalui Selat Hormuz Tahun 2025

Selat tersebut merupakan jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar energi dunia dan dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global. Gangguan terhadap jalur ini mendorong harga minyak melonjak tajam hingga mendekati 120 dolar AS per barel sebelum akhirnya stabil di kisaran 103 dolar AS.

Lonjakan harga energi membuat investor semakin berhati-hati karena berpotensi memicu inflasi global baru serta memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Ketidakpastian geopolitik juga membebani pasar saham global. Pada perdagangan terakhir pekan lalu, indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,26 persen ke 46.558,47. Indeks S&P 500 melemah 0,61 persen ke 6.632,19.

Sementara itu, imbal hasil obligasi Pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke 4,28 persen. Kenaikan imbal hasil ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap inflasi akibat lonjakan harga energi.

Investor juga memburu aset safe haven sehingga indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) menembus level 100,3—tertinggi sejak pertengahan Mei 2025. Penguatan dolar ini berdampak pada pelemahan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Karyawan menyiapkan uang dolar di tempat penukaran valuta asing Dolarindo di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Selasa (10/3/2026). Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), kemarin, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS adalah Rp 16.879 per dolar AS. Menguat 95 poin dibandingkan sehari sebelumnya.

Selain konflik Timur Tengah, Andry menambahkan, perhatian investor global pekan ini juga tertuju pada keputusan kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve. Pasar tidak memperkirakan perubahan suku bunga dalam pertemuan kali ini, tetapi investor akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru dan sinyal arah kebijakan moneter ke depan.

Kenaikan harga energi dinilai berpotensi menahan laju penurunan inflasi sehingga ruang pemangkasan suku bunga menjadi lebih terbatas. Saat ini, pasar memperkirakan hanya satu kali pemangkasan suku bunga oleh The Fed sepanjang 2026, lebih rendah dibandingkan ekspektasi sebelumnya.

Sentimen domestik IHSG

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, dalam keterangan terpisah, menilai, tekanan pasar berpotensi berlanjut pada awal pekan ini. Ini tidak hanya karena tekanan eksternal, tetapi juga dari dalam negeri.

Ia menilai sentimen pasar akan dipengaruhi dinamika fiskal pemerintah di tengah lonjakan harga energi global. Kenaikan harga minyak dan batubara berpotensi meningkatkan tekanan terhadap fiskal negara sehingga pemerintah perlu menjaga defisit anggaran tetap terkendali.

Apabila defisit fiskal melebar, risiko yang muncul antara lain meningkatnya kebutuhan pembiayaan utang pemerintah, kenaikan imbal hasil obligasi negara, serta potensi pelemahan nilai tukar akibat meningkatnya persepsi risiko investor terhadap stabilitas fiskal Indonesia.

Selain itu, pelebaran defisit juga dapat mempersempit ruang stimulus fiskal di tengah ketidakpastian global.

Dari sisi kebijakan moneter, pelaku pasar juga menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pekan depan. Konsensus pasar memperkirakan bank sentral masih akan mempertahankan suku bunga acuan BI Rate guna menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi di tengah meningkatnya tekanan eksternal.

”Kombinasi dinamika fiskal dan arah kebijakan moneter tersebut diperkirakan akan menjadi faktor utama yang membentuk sentimen dan arah pergerakan IHSG dalam jangka pendek,” kata Hari.

Multiple exposure saat warga melihat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (9/3/2026). IHSG ditutup di level 7.337, melemah 3,27 persen. Anjloknya IHSG ini sudah terjadi sejak pagi dengan turun 5,41 persen atau melemah 410,73 poin ke level 7.174. Sepanjangan perdagangan pada hari ini IHSG terus melanjutkan tren pelemahan dengan penurunan terdalam menyentuh 7.156,68 dan tertinggi IHSG sempat menyentuh di level 7.403,73.



KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)

09-03-2026

Hari memperkirakan pergerakan IHSG dalam jangka pendek akan cenderung naik-turun dengan kecenderungan melemah seiring masih dominannya sentimen eksternal, terutama eskalasi konflik antara AS dan Iran yang belum menunjukkan tanda mereda.

Selama konflik tersebut berlangsung, volatilitas pasar global diperkirakan tetap tinggi karena investor cenderung menghindari risiko.

Di sisi lain, faktor musiman menjelang libur panjang Lebaran juga berpotensi membuat aktivitas transaksi pasar lebih terbatas karena sebagian investor memilih menahan diri membuka posisi baru hingga periode libur berakhir.

Petugas menghitung uang di Basketball Hall, kompleks Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (12/3/2026). Bank Indonesia menggelar program Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idulfitri (SERAMBI) 2026 untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menukarkan uang menjelang Hari Raya Idul Fitri. Layanan penukaran uang di Baskeball Hall GBK ini digelar pada 12-15 Maret 2026. Pada tahun ini, Bank Indonesia menyiapkan uang tunai layak edar sebesar Rp 185,6 triliun guna memenuhi kebutuhan penukaran uang masyarakat selama periode Ramadhan hingga Idul Fitri 2026.



KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)

12-03-2026

Dalam kondisi pasar yang diliputi ketidakpastian, investor disarankan lebih selektif dalam memilih saham dengan memprioritaskan emiten yang memiliki fundamental kuat, arus kas stabil, serta eksposur yang relatif defensif terhadap volatilitas global.

”Strategi smart money seperti wait and see, menjaga porsi kas lebih tinggi, serta melakukan akumulasi bertahap di area support dapat menjadi pendekatan yang lebih prudent sambil menunggu kejelasan perkembangan geopolitik global dan arah kebijakan fiskal domestik,” ujar Hari.

Tim analis Kiwoom Sekuritas Indonesia menilai volatilitas global masih berpotensi tinggi selama bursa domestik tidak beroperasi. Berdasarkan keterangan BEI, pasar saham akan libur pada 18-24 Maret 2026.

Dalam dua hari perdagangan pekan ini, IHSG diperkirakan akan ditopang batas bawah di level 7.120 hingga 7.000, sementara batas atas berada di kisaran 7.350 hingga 7.800.

”Kiwoom masih menyarankan untuk perbanyak sikap wait and see. Simpan lebih banyak uang tunai demi mengantisipasi gejolak global selama BEI tidak beroperasi,” katanya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti