Dengan menghadirkan 80 merek dan ragam kendaraan listrik, Gaikindo Jakarta Auto Week 2025 menunjukkan ekosistem otomotif Indonesia makin solid.
22 Nov 2025 14:31 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
JAKARTA, KOMPAS — Berbagai model kendaraan listrik tampil dalam Gaikindo Jakarta Auto Week (GJAW) 2025. Industri otomotif nasional menunjukkan momentum positif menuju teknologi rendah emisi. Pemerintah menegaskan bahwa beragam insentif tengah disiapkan untuk mempercepat transisi menuju industri otomotif ramah lingkungan.
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (Ilmate) Kementerian Perindustrian Setia Diarta mengatakan, GJAW 2025 menghadirkan 80 merek yang terdiri dari 33 merek kendaraan penumpang, 2 perusahaan karoseri, 10 merek kendaraan roda dua, dan lebih dari 40 merek kendaraan industri pendukung.
”Keberagaman ini memperlihatkan kekuatan ekosistem otomotif nasional yang semakin solid, dinamis, dan terus berinovasi untuk menjawab kebutuhan masyarakat,” ujar Setia dalam sambutan pembukaan GJAW 2025, Jumat (21/11/2025).
Pameran yang berlangsung pada 21–30 November 2025 di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, ini tidak hanya menjadi ajang promosi produk otomotif terbaru, tetapi juga wahana edukasi publik mengenai arah transformasi industri menuju kendaraan rendah emisi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/21/7d91c8a77486efee5404be54c6a8a15b-20251121TOK71.jpg)
Pemerintah, lanjut Setia, terus mempercepat pengembangan ekosistem kendaraan listrik melalui berbagai kebijakan dan insentif strategis, termasuk Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP) untuk kendaraan hibrida dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) DTP bagi kendaraan bermotor listrik.
”Langkah ini semakin menegaskan komitmen kita untuk membangun industri otomotif yang berdaya saing, modern, dan berkelanjutan,” katanya.
Menurut Setia, pasar otomotif di Indonesia semakin berkembang, terutama kategori kendaraan listrik seperti bus listrik, mobil listrik, serta kendaraan roda dua dan tiga listrik, yang mengalami perkembangan pesat dengan total investasi Rp 5,767 triliun.
Industri bus listrik dalam negeri memiliki kapasitas 4.100 unit per tahun dan investasi Rp 0,38 triliun. Sementara industri mobil listrik telah mampu memproduksi 110.660 unit per tahun dengan investasi Rp 4,23 triliun. Adapun kendaraan roda dua dan tiga listrik memiliki kapasitas produksi 2,51 juta unit per tahun disertai investasi Rp 1,157 triliun.
Satia menegaskan bahwa pertumbuhan ini memperlihatkan komitmen kuat pemerintah mendorong industri ramah lingkungan.
Untuk mendorong penggunaan kendaraan rendah emisi karbon, lanjut Setia, Kemenperin menjalankan Program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) sejak 2021. Hingga kini, 15 perusahaan telah berpartisipasi dalam pengembangan Kendaraan Bermotor Roda Empat Hemat Energi dan Harga Terjangkau (KBH2), Hybrid Electric Vehicle (HEV), Plug-in Electric Vehicle (PHEV), dan Battery Electric Vehicle (BEV), dengan tambahan investasi Rp 22,37 triliun.
Total produksi kendaraan LCEV pada 2022–September 2025 mencapai 878.000 unit, didukung 274 industri komponen lokal. Program ini juga menyerap 182.348 tenaga kerja.
Pemerintah turut menyesuaikan batas minimal tingkat komponen dalam negeri (TKDN) untuk kendaraan listrik dalam revisi Perpres Nomor 55 Tahun 2019. TKDN ditetapkan 40 persen hingga 2026, 60 persen pada 2027–2029, dan 80 persen mulai 2030 untuk mempercepat pembentukan rantai pasok dalam negeri. Saat ini sudah terdapat tujuh produsen kendaraan listrik dengan TKDN 40–80 persen.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/21/6a3472b600532e419dd07fe77be8936a-20251121RZF04.JPG)
Sementara itu, Ketua Umum Gaikindo Putu Juli Ardika mengatakan, kendaraan listrik di dalam negeri menunjukan tren yang semakin membaik dan penjualan juga menunjukan kenaikan. Perkembangan kendaraan listrik itu tidak lepas dari perkembangan teknologi yang diadaptasi oleh para produsen kendaraan.
”Kendaraan listrik semakin dilirik juga karena teknologi, seperti teknologi baterai yang semakin bagus dan harga kendaraan listrik yang semakin terjangkau. Selain itu, ekosistem pendukung juga semakin lengkap,” ujar Putu.
Untuk mendorong penjualan kendaraan hingga mendorong ekosistem industri otomotif dari hulu ke hilir, kata Putu, Gaikindo berharap ada insentif-insentif yang diberikan pemerintah. Hal ini dinilai penting karena dalam industri otomotif ada backward linkage atau keterkaitan dengan input (pemasok) dan forward linkage atau keterkaitan dengan output (konsumen).
Berdasarkan data Kemenperin, pada 2024 nilai tambah bruto industri kendaraan bermotor mencapai Rp 180 triliun. Berdasarkan analisis input–output, industri ini memiliki koefisien backward linkage 2,07 dan forward linkage 2,40. Artinya, peningkatan aktivitas pada industri otomotif berdampak dua kali lipat ke sektor hulu dan 2,4 kali ke sektor hilir.
Putu berharap adanya berbagai pameran otomotif seperti GJAW yang menawarkan berbagai promosi bisa meningkatkan penjualan dan memenuhi kebutuhan masyarakat di Indonesia.
Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam mengatakan, pada GJAW 2025, Toyota meluncurkan dan menampilkan sejumlah produk baru, termasuk kendaraan listrik, seperti Toyota New Veloz HEV dan bZ4X yang sudah diproduksi secara lokal di pabrik TMMIN Karawang Plant. Total Toyota menghadirkan sebanyak 17 kendaraan yang meliputi kendaraan listrik hingga berbasis bahan bakar.
”Kehadiran semua lini kendaraan Toyota menegaskan strategi multipathway kami untuk menyediakan semua teknologi kendaraan, mulai dari ICE, LCGC, elektrifikasi, hingga biofuel, demi memenuhi permintaan konsumen yang beragam,” kata Bob.
Menurut Bob, kehadiran berbagai merek kendaraan, terutama yang berbasis listrik, sebagai persaingan yang positif karena mencerminkan besarnya potensi pasar EV di Indonesia. Bagi Toyota, GJAW bukan hanya ajang penjualan, melainkan juga momentum untuk membangun pemahaman yang lebih kuat mengenai pilihan mobilitas berkelanjutan bagi masyarakat, terutama dengan menghadirkan rangkaian teknologi kendaraan yang lengkap sesuai dengan kebutuhan konsumen
”Toyota menerapkan strategi multipathway agar produk tetap relevan dengan kondisi pasar dan kebutuhan konsumen,” lanjut Bob.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/21/99c2c34a29c1da3153fc3df15fe1416b-20251121TOK64.jpg)
Sementara itu, CEO PT Indomobil National Distributor sekaligus CEO Citroën Indonesia Tan Kim Piauw menilai pasar kendaraan listrik di Indonesia mendapatkan sambutan yang baik dari masyarakat.
”Kendaraan penumpang per September hampir 25 persen penjualan mobil itu berasal EV atau hibrida. Ini artinya menunjukkan minat masyarakat dari tahun ke tahun semakin tumbuh. Citroen sendiri punya kendaraan listrik melalui Ë-C3 (The New Citroën Ë-C3 All Electric). Jadi, kami melihat ini tentu peluang dan kesempatan bagus untuk Citroen. Kami masuk ke dalam pasar kendaraan listrik Indonesia yang terus bertumbuh. Jadi ini sangat menarik,” kata Tan.
Menurut Tan, GJAW 2025 menjadi ajang yang menarik dan salah satu kegiatan besar sebelum penutup akhir tahun, terutama untuk semakin memperkenalkan Citroën kepada masyarakat.
”Silakan merasakan pengalaman dan kenyamanan berkendara dengan Citroën, baik test driver maupun melalui program kami di dealer yang menawarkan uji coba hingga satu minggu,” ujar Tan.
Penulis:
Aguido AdriEditor:
Muhammad Fajar MartaPenyelaras Bahasa:
Nur Adji