Peluang tetap terbuka bagi investor yang mampu membaca momentum.
28 Apr 2026 16:57 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
JAKARTA, KOMPAS — Pasar keuangan Indonesia diperkirakan menghadapi dinamika yang kompleks pada triwulan II-2026 seiring tingginya harga minyak mentah global dan memudarnya ekspektasi penurunan suku bunga. Meski demikian, sejumlah analis menilai, peluang tetap terbuka, terutama di pasar surat utang yang mulai kembali menarik bagi investor asing.
Co-founder PasarDana dan praktisi pasar modal, Hans Kwee, kepada Kompas, Selasa (28/4/2026), menilai, tingginya harga minyak mentah global akibat ketegangan geopolitik diperkirakan menjadi faktor dominan yang memengaruhi prospek pasar saham pada triwulan II-2026.
Saat ini harga minyak global setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran, akhir Maret 2026, telah melonjak signifikan dari 60-70 dolar AS per barel menjadi konsisten di rentang 90-110 dolar AS per barel. Pada Selasa (28/4/2026), harga minyak mentah Brent ada di harga 110 dolar AS per barel dan minyak West Texas Intermediate (WTI) di harga 98 dolar AS per barel.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/08/5f35ae39dd9fcea62f320fee4db9ca93-20260408_NNN_Harga_Minyak_mumed.png)
Hans menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak mentah tetap terjadi karena alotnya perundingan damai antara AS dan Iran. Iran pun masih memberlakukan embargo terhadap Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi komoditas minyak dan gas dunia (Kompas, 27/4/2026).
”Pemblokiran jalur distribusi minyak di kawasan Selat Hormuz ini menyebabkan gangguan pasokan global hingga 13-14 juta barel per hari. Kondisi ini memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan risiko kelangkaan energi,” katanya.
Naiknya harga minyak dan gas lantas membawa dampak berlapis terhadap perekonomian domestik. Di dalam negeri, kata Hans, transmisi dampak paling terasa berada pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Dengan kebijakan subsidi dan kompensasi harga produk yang masih dipertahankan di harga sama, menurutnya, defisit fiskal dipastikan akan melebar. ”Defisit yang melebar dan ini memicu kekhawatiran pasar,” ujar Hans.
Sentimen negatif terhadap kondisi fiskal tersebut turut berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah saat ini. Kurs rupiah terhadap dolar AS masih bertahan di atas Rp 17.100 dengan tingkat depresiasi sekitar 3 persen sejak awal tahun.
Tekanan harga minyak di pasar saham, Hans melihat, di satu sisi memberikan keuntungan pada emiten di sektor tertentu. Emiten tersebut adalah industri yang berkaitan dengan energi dan komoditas. Tidak hanya industri yang fokus di bidang minyak dan gas bumi, industri di komoditas energi lain, seperti batubara dan minyak kelapa sawit mentah (CPO), juga ikut mendapat keuntungan dari kenaikan harga minyak.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2018/06/20/ac98e114-92ec-4d50-860d-810ea5f74aa7.jpeg)
Komoditas batubara dan CPO sejauh ini mengalami tren kenaikan harga bersamaan dengan lonjakan harga minyak dunia. ”Batubara naik karena sama-sama energi, sementara CPO terdorong karena digunakan sebagai campuran biodiesel,” katanya.
Kenaikan harga komoditas ini pun ikut menaikkan ekspektasi kinerja saham emiten terkait. Menurut Hans, beberapa emiten energi dan komoditas, seperti minyak dan gas bumi, batubara, emas, nikel, serta timah, sudah ada di fase harga tinggi.
Adapun untuk sektor emiten yang terdampak negatif kenaikan harga energi, antara lain, kata Hans, adalah sektor perbankan. Saham sektor ini, terutama yang memiliki kapitalisasi pasar besar, terus mengalami tekanan harga karena aksi jual investor asing.
Investor meninggalkan saham perbankan tidak langsung karena sebab harga energi, melainkan kekhawatiran terhadap kondisi anggaran negara karena ancaman dampak negatif kenaikan harga minyak.
Hans mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak berpotensi mendorong inflasi, baik di dalam negeri maupun global. Kondisi ini membuat bank sentral, termasuk Bank Indonesia, cenderung menahan atau bahkan menaikkan suku bunga.
Ini diperparah isu fiskal lainnya karena adanya risiko kredit akibat keterlibatan perbankan dalam pembiayaan program pemerintah. Bagaimanapun, secara umum, ia menilai saham perbankan besar memiliki fundamental yang baik sehingga saham ini cocok dibeli untuk akumulasi jangka panjang.
Sebaliknya, dalam tekanan fiskal negara dan moneter yang ketat, ia merekomendasikan investor untuk menahan masuk ke saham konsumen siklilal yang bisa terdampak negatif pelemahan daya beli.
Potensi kenaikan suku bunga acuan imbas kenaikan harga minyak juga berdampak pada pasar surat utang. Tingkat imbal hasil atau yield surat utang sendiri belakangan bergerak meningkat dari sebelumnya yang sempat ada di fase penurunan sejak 2025.
Saat ini, imbal hasil surat utang atau obligasi pemerintah 10 tahun naik 72 basis poin sejak awal tahun ke 6,8 persen (Senin, 27/4/2026). Tren kenaikan imbal hasil surat utang terjadi karena meningkatnya risiko dan kebutuhan pembiayaan pemerintah. Pada saat yang sama, kenaikan imbal hasil bisa menambah beban pembayaran utang pemerintah di masa depan.
Sejalan dengan itu, pengamat pasar modal, Martin Aditya, menilai bahwa peluang penurunan suku bunga tahun ini semakin kecil. Hal ini dipicu oleh harga minyak dunia yang bertahan tinggi di kisaran 90-100 dolar AS per barel.
Kondisi tersebut berpotensi mendorong inflasi global sehingga bank sentral, termasuk Bank Indonesia, cenderung mempertahankan kebijakan suku bunga ketat lebih lama.
”Dengan harga komoditas, khususnya minyak yang tinggi, tekanan inflasi meningkat. Ini membuat ruang penurunan suku bunga semakin sempit,” ujarnya.
Di sisi lain, pasar surat utang dalam negeri justru dinilai bisa menarik arus masuk dana asing. Hal ini karena selisih imbal hasil Pemerintah Indonesia dan obligasi Pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun yang selalu jadi perbandingan dapat melebar hingga sekitar 240 basis poin (bps), dari sebelumnya di kisaran 190-210 bps.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/23/77760cea295985db82252783c1e13a63-20260422_H01_ADI_BI_Rate_rev1_mumed.png)
Kondisi tersebut dinilai positif bagi investor asing yang mencari imbal hasil lebih tinggi. ”Spread yang melebar membuat obligasi Indonesia lebih kompetitif di mata investor global,” kata Martin.
Meski demikian, terdapat potensi yield kembali naik hingga mendekati level 7 persen. Hal ini menurut dia pernah terjadi secara historis, terutama jika tekanan eksternal berlanjut. Dalam situasi ini, peran stabilisasi dari Bank Indonesia menjadi krusial.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
Muhammad Fajar MartaPenyelaras Bahasa:
Yuliana Karim