PASAR MODAL

Pasar Saham RI Masih Tertekan, Investor Asing Masih Selektif

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih dibayangi volatilitas tinggi dan melanjutkan fase konsolidasi pada pekan ini.

21 Sep 2026 11:35 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Indeks Harga Saham Gabungan diperkirakan masih dibayangi volatilitas tinggi dan berpotensi melanjutkan fase konsolidasi pada pekan ini. Kombinasi tekanan eksternal akibat kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve, penguatan dolar AS, dan aksi jual bersih investor asing diproyeksikan masih menahan penguatan pasar saham RI.

Pada awal perdagangan pekan ini, Senin (21/9/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak loyo dari level pembukaan di 6.446 ke sekitar 6.414 menjelang pukul 11.00. Bahkan, pada perdagangan sesi I ini, IHSG sempat menyentuh level terendah sepekan terakhir di 6.388.

Pada penutupan perdagangan pekan lalu, IHSG dalam tren melemah, dengan merosot 1,53 persen dalam sepekan ke level 6.441. Pelemahan ini mengiringi penurunan nilai kapitaliasi pasar secara mingguan menjadi Rp 11.266 triliun dari Rp 11.446 triliun pada pekan sebelumnya.

Grafik pergerakan IHSG di pekan ketiga September 2026. IHSG mengalami tekanan bersamaan dengan keputusan Bank Sentral AS The Fed menaikkan suku bunga acuan, kenaikan dolar AS, hingga harga minyak mentah karena faktor geopolitik.

Hal ini antara lain didukung aksi jual investor asing yang sepanjang pekan lalu mencatatkan penjualan bersih (net sell) Rp 2,9 triliun, termasuk net sell Rp 1,79 triliun pada Jumat (18/9/2026). Secara kumulatif sepanjang 2026, net sell asing mencapai Rp 74,36 triliun. 

Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto, dalam laporannya, Senin (21/9/2026) menilai, tekanan pasar saham Indonesia meningkat seusai Bank Sentral AS, The Fed, menaikkan Fed Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 3,75–4,00 persen.

Kebijakan moneter AS ini mendorong Indeks Dolar AS (DXY) menembus level 100 dan membawa imbal hasil obligasi Pemerintah AS 10 tahun kembali mendekati 5 persen.

”Pekan ini, perhatian pasar bergeser dari keputusan Fed ke dampaknya terhadap Indonesia, terutama rupiah dan respons Bank Indonesia,” katanya.

Dengan rupiah berada di kisaran Rp 17.700–Rp 17.800 per dolar AS, stabilitas nilai tukar menjadi faktor utama yang membatasi ruang kebijakan Bank Indonesia (BI). Rully memproyeksikan volatilitas IHSG masih tinggi, dengan arah pergerakan yang cenderung selektif di tengah tingginya suku bunga global.

Pergerakan indeks harga saham terpantau dari monitor elektronik di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (31/8/2026). Pada penutupan perdagangan di awal pekan, IHSG tercatat menguat 0,11 persen atau 7,36 poin dari perdagangan sebelumnya menjadi 6.525,48

31-08-2026

Dari sudut pandang teknikal, pelemahan IHSG pekan lalu mengindikasikan adanya tekanan jangka pendek. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Brigita Kinari memaparkan bahwa posisi IHSG saat ini berada di bawah kurva moving average (MA) 5 dan MA20, di mana MA5 telah membentuk pola dead cross terhadap MA20.

”Tekanan jual masih lumayan besar disertai volume yang lumayan tinggi. Namun, IHSG masih bertahan di atas MA60 sehingga tren jangka menengah belum berbalik,” kata Brigita dalam keterangannya hari ini.

Ia memperkirakan IHSG bergerak konsolidasi dengan rentang bawah atau support di area 6.200-6.279 dan target atas atau resisten pada kisaran 6.585–6.633. Selama indeks mampu bertahan di atas level batas 6.370, peluang untuk ada kenaikan menuju area 6.541-6.581 masih terbuka.

Sektor pilihan

Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan, perang dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi risiko karena harga minyak masih berada pada level tinggi. Dengan kondisi tersebut, IHSG masih sangat sensitif terhadap perubahan sentimen global dan pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar.

”Jika harga minyak dapat terus turun, tekanan inflasi global berpotensi berkurang dan sentimen risk appetite bisa membaik. Namun, dari domestik, pergerakan rupiah yang berada di sekitar Rp 17.758 per dolar AS, arus dana asing, perkembangan kebijakan suku bunga, serta isu MSCI juga akan menjadi faktor yang menentukan,” katanya.

Secara keseluruhan, ia melihat pekan depan bukan momentum untuk mengejar kenaikan IHSG secara agresif, melainkan fase untuk melakukan pembelian saham secara selektif. Namun, selama foreign net sell masih besar dan ketidakpastian suku bunga global serta geopolitik masih tinggi, strategi yang lebih tepat adalah fokus pada saham-saham dengan katalis kuat. Kemudian, lanjutnya, memanfaatkan koreksi sebagai peluang akumulasi.

Hendra merekomendasikan investor untuk mencermati saham tambang, seperti PT Vale Indonesia Tbk (INCO) karena prospek komoditas nikel, kemudian PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) karena ekspektasi terhadap perkembangan hilirisasi yang menjadi katalis positif.

Ini sejalan dengan tren saham yang belakangan lebih dipilih investor asing, yakni saham dari sektor komoditas. Saham seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) tercatat masih mencatatkan arus modal masuk.

Namun, karena saham berbasis komoditas masih sangat sensitif terhadap pergerakan harga komoditas dan sentimen global, strategi pada INCO sebaiknya tetap disiplin terhadap risiko.

Ia juga merekomendasikan saham produk konsumsi seperti PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) yang memiliki eksposur terhadap bisnis ritel dan konsumsi. Kinerja saham ini dinilai akan positif jika sentimen domestik dan ekspektasi terhadap daya beli masyarakat mulai membaik.

Toko perlengkapan olahraga yang kehadirannya melengkapi berbagai jenis produk di The Park Mall di Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (1/4/2023). Pembukaan dan beroperasinya salah satu mal baru ini menambah ketatnya persaingan pusat perbelanjaan modern di Kota Semarang. Keberadaan mal yang berkembang saat ini juga menjadi destinasi dari gaya hidup masyarakat urban. Kompas/P Raditya Mahendra Yasa 01-04-2023

Analis Mirae Asset Sekuritas Novani Karina Saputri, dalam laporannya hari ini, menyoroti bahwa konsumsi penting diperkirakan lebih resilien, sementara barang konsumsi yang bisa ditunda belanjanya atau discretionary demand masih membutuhkan penguatan upah riil dan akses kredit.

Hal ini terkait adanya potensi inflasi yang bersumber dari harga pangan, energi, hingga imported inflation akibat pelemahan nilai tukar rupiah. Kondisi ini membuat pemulihan daya beli masyarakat pada semester II-2026 berjalan tidak merata.

”Dalam memilih saham, kami lebih mengutamakan kualitas laba, emiten yang memiliki daya atur harga, margin resilien, serta eksposur pada kelompok konsumen berpendapatan menengah ke atas,” papar Novani.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase