Pasar Saham Sedang Darurat, Aturan Penghentian Sementara Bursa dan ARB Saham Diubah

Bursa Efek Indonesia mengantisipasi dinamika global pada pembukaan kembali pasar saham dengan mengubah dua kebijakan di bursa.

08 Apr 2025 09:10 WIB · Ekonomi

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Bursa Efek Indonesia menanggapi kondisi darurat di pasar saham global beberapa pekan terakhir. Menghadapi pembukaan kembali pasar saham seusai libur panjang, Selasa (8/4/2025), otoritas bursa itu pun mengubah ketentuan pelaksanaan penghentian sementara perdagangan efek atau trading halt di bursa dan mengurangi persentase batas minimum penurunan harga saham atau auto rejection bawah atau ARB.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman dalam konferensi pers di Main Hall BEI di Jakarta, Selasa, menyampaikan, semenjak 27 Maret, indeks harga saham di global mengalami penurunan dan fluktuasi harga 5-11 persen. Kondisi ini semakin signifikan semenjak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan kenaikan tarif impor ke AS untuk banyak negara, termasuk Indonesia.

Kondisi itu, kata Iman, tidak dialami bursa dalam negeri karena perdagangan diliburkan bersamaan dengan cuti bersama Idul Fitri. Namun, BEI mengantisipasi dinamika global itu pada pembukaan kembali pasar saham dengan mengubah dua kebijakan di bursa. ”Penyesuaian yang kita akan lakukan terkait dua hal, pertama ARB dan trading halt di mana ini mekanisme penting pertama untuk menjaga likuiditas pasar,” ucapnya.

Aturan ini tertuang pada Surat Keputusan Direksi Bursa tanggal 8 April 2025 perihal Perubahan Peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas dan Surat Keputusan Direksi Bursa perihal Panduan Penanganan Kelangsungan Perdagangan di Bursa Efek Indonesia dalam Kondisi Darurat.

Infografik Ketentuan Trading Halt dan Auto Rejection Bawah di Bursa Efek Indonesia

Secara mendetail, penyesuaian batasan persentase ARB disesuaikan menjadi 15 persen dari 35 persen pada saham di papan utama, lalu persentase sama untuk saham di papan pengembangan yang sebelumnya 25 persen. Adapun perubahan ARB menjadi 15 persen dari 20 persen untuk saham papan ekonomi baru. 

Penyesuaian batasan persentase ARB juga diterapkan pada efek di produk exchange-traded fund (ETF) serta Dana Investasi Real Estat (DIRE) untuk seluruh rentang harga.

Adapun penyesuaian kebijakan terkait penghentian sementara pelaksanaan perdagangan efek dilakukan ketika terjadi penurunan sangat tajam atas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam satu hari bursa hingga lebih dari 8 persen. Hal ini diubah dari batasan sebelumnya yang sebesar 5 persen. Penghentian perdagangan sementara dilakukan selama 30 menit.

Apabila IHSG menurun lebih lanjut hingga lebih dari 15 persen, trading halt selama 30 menit dapat kembali dilakukan. Hal ini mengoreksi batasan sebelumnya yang sebesar 10 persen. Selanjutnya, bursa berhak membekukan perdagangan apabila IHSG menurun hingga lebih dari 20 persen, dengan ketentuan dilakukan sampai akhir sesi perdagangan atau lebih dari satu sesi perdagangan setelah mendapat persetujuan atau perintah Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 

Evaluasi kebijakan ini, imbuh Iman, menyesuaikan praktik bursa global, seperti Bursa Korea Selatan dan Thailand. BEI, kata Iman, pun sudah melakukan mini survei kepada pelaku pasar selama libur Lebaran. ”Penyesuaian ini diberlakukan untuk memberi ruang likuiditas bagi pelaku pasar dan investor agar memberi waktu untuk merespons informasi yang ada di market,” tuturnya. 

Suasana galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (24/3/2025). Sebelumnya, IHSG kembali bergerak di zona merah pada perdagangan Senin (24/3). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan sempat menyentuh level terendahnya di 5.967 pada perdagangan sesi pertama atau anjlok 4,57 persen di awal pekan ini. Analis menilai, dinamika ini terjadi akibta perspektif negatif investor terhadap keuangan negara belakangan ini. Dari dalam negeri, ambruknya IHSG terjadi menjelang pengumuman struktur pengurus Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Namun, pada pukul 10.36 WIB, indeks kembali bergerak naik ke level 6.097. Sebanyak 553 saham terkoreksi, 75 saham menguat dan 151 saham lainnya stagnan. Sepanjang hari ini tercatat volume transaksi sebanyak 14,66 miliar dengan turnover Rp 14,16 triliun dan frekuensi transaksi mencapai 1.067.827 kali. Pada penutupan hari ini IHSG terkoreksi sebesar 96,961 poin ke level 6.161,21 atau melemah 1,55 persen. Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Saham global masih terkoreksi

Saat ini, kondisi pasar saham global masih didominasi koreksi atau penurunan. Kondisi ini terlihat dua hari pascapengumuman kebijakan Trump pada Rabu (2/4/2025), yang mengakibatkan bursa saham AS seperti Nasdaq anjlok 11,4 persen, Indeks Small Cap 2000 turun 10,7 persen, S&P 500 melemah 10,5 persen, dan Dow Jones terkoreksi 9,3 persen. 

Tren ini merambat ke bursa saham negara-negara maju lainnya dan negara berkembang. Indeks MSCI World, misalnya, turun 9,3 persen, FTSE MIB Italia terkoreksi 9,9 persen, DAX Jerman melemah 7,8 persen, dan Indeks Euro Stoxx 50 dan FTSE 100 Inggris masing-masing turun 8,3 persen dan 6,4 persen.

Sementara itu, akhir pekan lalu, respons pasar regional Asia cenderung bervariasi. Bursa Nikkei 225 Jepang turun 5,5 persen, KOSPI Korea Selatan melemah 1,6 persen, dan ASX Australia terkoreksi 3,4 persen. Pasar China relatif lebih stabil, dengan Shanghai Composite hanya melemah 0,4 persen dan China A50 hampir stagnan. 

Adapun pada perdagangan Senin (7/4/2025), pasar Asia semakin terjerembab. Nikkei 225 Jepang sampai tengah hari Waktu Indonesia Barat terkoreksi 7 persen, Bursa Shanghai negatif 6,34 persen, Indeks Saham Hongkong 50 anjlok 10 persen, dan ASX Australia terkoreksi hampir 5 persen.

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sesi kedua terpampang pada layar monitor di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (24/2/2025). IHSG pada Senin ditutup di posisi 6.749,60, melemah 53,40 poin atau 0,78 persen dibandingkan dengan penutupan perdagangan pada akhir pekan lalu. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK) 24-02-2025

Analis pasar modal dari PT Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, saat dihubungi pada Senin (7/4/2025) mengatakan, pasar kehilangan harapan akan negosiasi dari negara-negara berkembang, khususnya Asia, dengan Pemerintah AS mendekati waktu penerapan perubahan tarif, Rabu (9/4/2025). 

”Oleh karena itu, pasar bersiap untuk tarif berlaku, volatilitas akan tinggi karena sebagian investor memilih melepas terlebih dahulu saham mereka dan masuk ke yang dipandang lebih aman,” ujarnya.

Situasi ini, menurut dia, akan ikut berdampak pada pergerakan IHSG yang sempat menguat ke level 6.510 sebelum libur panjang Lebaran. ”IHSG kemungkinan besar akan dibuka dengan koreksi meskipun berharap tidak sampai trading halt,” tutur Wawan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Aris Prasetyo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .