Arsip Foto ”Kompas”: Pasar Taman Puring, Riwayatmu Kini

Kebakaran yang menutup cerita Pasar Taman Puring, Jakarta Selatan, bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, pasar itu pernah dilalap api pada tahun 2002 dan 2005.

06 Agt 2025 08:05 WIB · Metropolitan

Oleh Priyombodo

Kebakaran hebat kembali melanda Pasar Taman Puring, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Senin (28/7/2025) lalu. Rekaman video kebakaran pasar tersebut dengan cepat menyebar di media sosial. Kebakaran yang terjadi saat sore jelang malam tepat di saat jam pulang kantor menyebabkan kemacetan di ruas Jalan Kyai Maja dan sekitarnya.

Menurut penuturan warga, kemacetan terjadi hingga halte CSW. Petugas kepolisian pun mengalihkan arus lalu lintas untuk memudahkan akses bagi mobil pemadam kebakaran. Kebakaran juga menyebabkan layanan bus Transjakarta rute Koridor 13 sempat dihentikan karena jalan layang bus Transjakarta terletak persis di sebelah bangunan pasar yang terbakar.

Foto udara pascakebakaran di Pasar Taman Puring, Jakarta Selatan, Selasa (29/7/2025). Petugas memadamkan kebakaran di Pasar Taman Puring pada pukul 01.30 WIB. Saat pagi hari, para pemilik toko mulai berdatangan untuk mencari sisa-sisa barang dagangan mereka. Pemadam kebakaran pun masih bertugas untuk melakukan pendinginan. Beberapa titik panas masih terlihat pada pukul 11.00 WIB. Lokasi terdampak berada di zona JS 29 dengan jumlah kios 552 unit. Luas area yang terbakar diperkirakan 2.000 meter persegi dengan bangunan menempati kurang lebih 1.500 meter persegi. Diperkirakan kerugian akibat kebakaran mencapai Rp 2 miliar. Selain itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjanjikan revitalisasi Pasar Taman Puring pascakebakaran. Namun, belum dipastikan kapan waktu revitalisasi tersebut.



KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)

29-07-2025

Foto udara dengan menggunakan drone karya pewarta foto Kompas, Fakhri Fadlurrohman, dengan jelas memperlihatkan kerusakan bangunan sehari pascakebakaran. Dari udara terlihat seluruh bangunan pasar habis terbakar dan hanya menyisakan rangka utama bangunan pasar. Petugas pemadam kebakaran pun masih terlihat di lokasi kebakaran yang masih mengeluarkan asap tipis dari puing-puing bangunan dan barang–barang yang terbakar. Kebakaran yang  terjadi di pasar rakyat tersebut bukan kali pertama terjadi.

comparison left
comparison right
before-after-arrow

Berdasar arsip Kompas, kebakaran serupa sebelumnya pernah terjadi tahun 2002, tepatnya pada Sabtu, 29 Juni 2002. ”Si jago merah” mengamuk di pasar tersebut sekitar pukul 02.30 atau di saat dini hari. Sumber api diduga berawal dari korsleting listrik dari salah satu kios sepatu. Bahan yang mudah terbakar menyebabkan api dengan cepat merambat membakar deretan kios.

Melalui arsip foto Kompas, terlihat petugas berjibaku memadamkan api berjam-jam lamanya. Warga yang menyaksikan kebakaran pun bertambah ramai ketika terang pagi menjelang. Setelah api padam, pedagang dan warga tampak mengais puing-puing untuk mencari barang-barang yang masih dapat digunakan. Dua orang anak tampak mengais tumpukan sepatu yang terbakar, berharap mendapatkan sepasang sepatu yang masih dapat digunakan.

Tiga tahun berselang, tepatnya pada 13 April 2005, peristiwa serupa terulang. Kios elektronik, sepatu, dan pakaian ludes terbakar. Sepatu menjadi produk yang paling banyak diperjualbelikan di Pasar Taman Puring pada era 2000-an. Hingga kini, pasar tersebut dikenal sebagai ”surga  sepatu” Jakarta. Sepatu ”KW” berkualitas dengan harga miring banyak ditemukan di pasar tersebut.

Meskipun didominasi oleh pedagang sepatu, di Taman Puring juga dapat ditemukan kios yang menjajakan barang elektronik, seperti audio mobil, perlengkapan pertukangan, hingga barang-barang seken berupa jam dan telepon seluler. Pakaian seken juga dapat dijumpai di pasar tersebut.

Pasar Taman Puring di Kebayoran, Jakarta Selatan, 11 Januari 1994. Pasar yang berada dekat dengan Pasar Mayestik menjadi tempat jualan berbagai barang bekas, termasuk pakaian bekas di Ibu Kota.

Pasar Taman Puring yang berdiri tepat di samping taman kota yang asri ini dulunya merupakan pasar barang loak yang mana bagunan pasar terdiri dari deretan kios-kios kecil. Selain berdagang di kios, banyak juga pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya di sekitar pasar, bahkan hingga ke area pinggiran taman. Arsip foto tahun 1994 memperlihatkan pedagang barang bekas menggelar dagangan di seberang deretan kios dengan menggunakan meja rendah untuk memajang barang dagangan dan payung sebagai peneduh.

Saat krisis moneter pada Mei 1998 sempat muncul pasar ”tunggu” di Pasar Taman Puring. ”Tunggu” merupakan kepanjangan dari Sabtu-Minggu, yang menjadi hari pasarannya. Di mulai dari pukul 08.00 WIB hingga 17.00 WIB.

Pasar tunggu diperuntukkan bagi para pedagang yang terdiri dari mereka korban pemutusan hubunga kerja (PHK) dan belum memiliki pekerjaan. Para pedagang ini tidak dipungut biaya sepeser pun seperti yang dikatakan Wali Kota Jakarta Selatan saat itu Pardjoko seusai meresmikan lokasi pasar tunggu di Taman Puring, Kebayoran Baru. Terdapat 40 lokasi pasar tunggu yang  tersebar di wilayah Jakarta Selatan. Pasar tunggu yang  terletak di dekat area taman ini hanya menggunakan atap terpal layakya tenda untuk kawinan. Barang dagangan diletakkan di atas  meja kayu. Tampak mesin cuci, kipas angin, speaker, televisi tabung, hingga komputer ditawarkan di pasar tunggu Taman Puring.

Pasar Sabtu-Minggu alias Pasar Tunggu di Taman Puring, Jakarta Selatan, ini menampung warga Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) untuk berjualan barang-barang milik mereka selama belum memperoleh pekerjaan baru. Foto diambil beberapa tahun lalu.

Pasar Taman Puring yang  letaknya strategis membuat jumlah pedagang yang berjualan bertambah ramai. Lapak-lapak pedagang barang bekas tumbuh subur di sekitar bangunan pasar resmi. Kondisi tersebut membuat kawasan terlihat  kumuh. Apalagi, citra negatif sebagai pasar tempat barang curian telah lama melekat di Pasar Taman Puring. Hingga akhirnya Wali Kota Jakarta Selatan berencana untuk menata ulang Pasar Taman Puring.

Setelah melalui surat pemberitahuan sebanyak tiga kali tidak ditanggapi pedagang, tepat pada malam Hari Raya Idul Fitri pertama tahun 2000, sekitar 600 aparat gabungan membongkar kios-kios liar yang ditinggal pedagangnya mudik  Lebaran. Peristiwa itu memicu protes para pedagang melalui unjuk rasa di kantor Wali Kota Jakarta Selatan. Sekitar 800 pedagang ditawari relokasi ke Pasar Pondok Indah dan Pasar Kebayoran Lama.

Pembongkaran Kios Taman Puring Berjalan Lancar. Sebagian pedagang yang selama ini menempati lokasi Taman Puring, Mayestik Kebayoran Baru, Rabu kemarin dipindahkan ke tempat yang ditentukan, sedang pedagang lain akan dipindahkan tanggal 30 April 1984.
Pengosongan sebagian pedagang di Pasar Taman Puring tidak mengalami kesulitan. Di bagian kios-kios pedagang buah, petugas tinggal membongkar kiosnya, sedangkan dagangan telah diangkut sendiri oleh pemiliknya.
Lokasi Pasar Sabtu-Minggu atau Pasar Tunggu di kawasan Taman Puring, Jakarta Selatan. Dari mulai pedagang perabot rumah tangga, kaset, baju, hingga barang-barang bekas. Pasar Tunggu diperuntukkan bagi warga sekitar korban PHK pada masa krisis moneter.
Pasar loak Taman Puring, Jakarta Selatan, kebanjiran pembeli saat para pedagang barang-barang baru di pusat-pusat perbelanjaan semakin terpuruk akibat krisis moneter. Karena tidak ingin kehilangan pembeli, pasar-pasar loak mulai mempercantik diri. Kebersihan ditingkatkan, tempat parkir kendaraan diatur, kios-kios ditata berkelompok menurut jenis barang yang dijual.
Taman Puring, Kebayoran, Jakarta Selatan, semakin padat dengan para pedagang barang bekas, Kamis (7/10/1999).
Papan pemberitahuan di area Pasar Taman Puring, Jakarta Selatan. Pemerintah Kota Jakarta Selatan menutup Pasar Taman Puring Jakarta Selatan dan menggusur ratusan kios. Sekitar 600 aparat gabungan membongkar kios-kios kosong yang sedang ditinggal pemiliknya mudik.
Unjuk rasa pedagang Pasar Taman Puring yang digusur Pemerintah Kota Jakarta Selatan. Sebenarnya informasi penutupan dan pembongkaran berupa surat perintah bongkar (SPB) sudah disampaikan tiga kali ke pedagang oleh Kepala Suku Dinas Pertamanan DKI Jakarta Ir Sri Budisetiati. Sementara Kepala Polda Metro Jaya Mayjen (Pol) Noegroho Djajoesman meminta agar para eks pedagang Taman Puring pindah ke Pasar Pondok Indah.

Pasar Taman Puring yang habis terbakar pekan lalu itu merupakan pasar yang dulunya dibangun seusai kebakaran hebat pada 29 Juni 2000. Pembangunan gedung pasar berbentuk joglo Betawi untuk mendukung konsep pasar wisata yang disematkan bagi Pasar Taman Puring dengan maksud menghilangkan kesan kumuh dan menghapus citra Taman Puring sebagai pasar loakan dan tempat penadah barang-barangg curian.

Dinamakan pasar wisata karena menggabungkan antara taman dan pasar yang mempunyai keunikan bentuk dan barang-barang yang diperdagangkan. Misalnya, barang-barang yang diperdagangkan memang diburu para pehobi dan anak muda. Konsep tersebut terbukti berhasil karena banyaknya anak muda yang berburu sneakers di pasar tersebut sebelumnya akhirnya terbakar habis pekan lalu.

comparison left
comparison right
before-after-arrow

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung berjanji akan merevitalisasi Pasar Taman Puring pascakebakaran. Semoga saja pasar legendaris di Kebayoran Baru ini segera dibangun dan kembali menunjukkan pesonanya.

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Priyombodo
 | 

Editor:

Aris Prasetyo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto