Pencarian manajer Manchester United berujung pada pelatih muda Ruben Amorim. Apakah pelatih asal Portugal ini mampu mengembalikan kejayaan ”Setan Merah”?
13 Nov 2024 14:43 WIB · Opini
Sir Alex Ferguson makin terbukti sebagai legenda. Berselang 11 tahun setelah purna tugas sebagai pelatih Manchester United, tim ”Setan Merah” belum juga menemukan pelatih sekaliber dia.
Dalam rentang era kepelatihannya sejak 1986 hingga 2013, Ferguson mengantar MU meraih 13 trofi Liga Inggris dan dua trofi Liga Champions Eropa. Musim fenomenal Fergie adalah 1998/1999 ketika dia membawa Setan Merah merebut tiga trofi juara, yakni Liga Inggris, Liga Champions, dan Piala FA.
Era keemasan MU bersama Ferguson mulai datang pada musim 1992-1993. Meski diawali awal musim yang seret kemenangan, dengan bertengger di peringkat ke-10 di awal November 1992, kesuksesan MU kala itu mulai terasa sejak kehadiran Eric Cantona yang direkrut dari Leeds United, dan menjalin kerja sama optimal dengan Mark Hughes.
Selepas musim itu, Fergie membawa tim asuhannya meraih 12 trofi juara Liga Inggris, sebagian di antaranya berturut-turut. Termasuk saat MU juara tiga musim berturut-turut, yakni musim 1998-1999, 1999-2000, dan 2000-2001. Berlanjut pada 2006-2007, 2007-2008, dan 2008-2009. Harus diakui, tak banyak pelatih yang mengukir prestasi segemilang ini. Total, dalam 23 tahun melatih MU, Ferguson membawa Setan Merah mengemas 528 kemenangan dari 810 laga selama 21 musim.
Ferguson, dalam bukunya, Memimpin, mengakui bahwa akhir era kepelatihannya di MU tergolong rumit. Setelah dalam beberapa kalimat mengulas performa MU yang buruk pada musim 2013-2014, musim pertama masa tugas penggantinya, David Moyes, dia menulis, ”Di United, masalah itu diperumit panjangnya masa bakti saya. Saya tak mau terdengar sombong, tetapi tak ada manajer pasca-Perang Dunia II yang memimpin tim dalam waktu yang setara dengan saya di United”.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/08/31/FILES-FBL-ENG-PR-MAN-UTD-RONALDO_98704757_1630422583.jpg)
Dia kemudian mengisahkan betapa MU sudah mencari beberapa alternatif penggantinya. Calon dari internal? Ferguson mencalonkan Carlos Queiroz, asistennya selama di MU. Namun, Queiroz justru ”merusak peluangnya sendiri” setelah dua kali meninggalkan MU, yakni hengkang ke Real Madrid dan menjadi pelatih tim Portugal.
Beberapa pemain terbaik MU, seperti Ryan Giggs, Gary Neville, Darren Fletcher, Nicky Butt, Dwight Yorke, dan Andy Cole, juga sudah didorong untuk mendapat kualifikasi pelatih. Lagi-lagi, di mata Ferguson, tak semudah itu. ”Tidak realistis mengharapkan mereka langsung beralih peran dari pemain menjadi pelatih klub tempat mereka pernah bermain,” kata Ferguson.
Tentang David Moyes, Ferguson menyatakan bahwa pemberian kontrak enam tahun untuk mantan pelatih Everton itu didasari niat baik. ”Semua orang berharap dia bakal bertahan sangat lama di United. Namun, ternyata tak seperti itu jadinya. Saya juga tahu bahwa keluarga Glazer menganggap pencopotan David (Moyes) adalah hal terakhir yang mereka ingin lakukan,” tulis Ferguson.
Kepergian Moyes yang hanya memandu MU dalam 51 laga, mengawali ”pengembaraan” MU mencari pelatih yang mampu membawa klub ke pencapaian signifikan. Moyes kemudian digantikan pelatih interim Ryan Giggs yang membawa Setan Merah hanya dalam empat laga, sebelum MU menunjuk Louis van Gaal.
Van Gaal, yang cukup ternama, sebelumnya mengantar Barcelona dua kali juara Liga Spanyol, Bayern Muenchen sekali juara Bundesliga, dan Ajax Amsterdam tiga kali juara Liga Belanda, juga hanya dua tahun di Old Trafford. Dalam kurun dua tahun itu, Van Gaal mengantar MU juara Piala FA musim 2015-2016.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/23/f9f535f0-ef0a-46d1-9b85-9332b3c29f2a_jpeg.jpg)
Jose Mourinho lantas hadir, dan melatih MU hanya dua tahun lebih beberapa bulan, yakni 27 Mei 2016 hingga 18 Desember 2018. Pelatih asal Portugal yang sebelumnya sukses bersama Chelsea itu membawa MU juara Liga Europa, Piala Liga, dan Community Shield. Namun, kegagalan Mourinho mengantar MU menjuarai Liga Inggris membuatnya dicopot juga.
Dua mantan pemain MU kemudian menangani tim dalam dengan interim, yakni Ole Gunnar Solskjaer dan Michael Carrick, disusul pelatih asal Jerman, Ralf Rangnick, juga dalam status caretaker. Saat ditangani ketiganya, MU sama sekali tanpa trofi. Kemarau prestasi di Old Trafford masih berlanjut.
Hingga kemudian MU menunjuk Erik ten Hag asal Belanda. Manajemen MU terpikat kesuksesan Ten Hag yang memoles Ajax Amsterdam hingga tiga kali juara Liga Belanda, yakni musim 2018-2019, 2020-2021, dan 2021-2022. Sebagai apresiasi terhadap karya gemilangnya itu, Ten Hag tiga kali menerima Rinus Michels Award, yakni pada 2015-2016, 2018-2019, dan 2020-2021.
Namun, Ten Hag yang membawa MU juara Piala FA musim 2023-2024 juga hanya bertahan dua tahun di Old Trafford. Awal buruk di musim 2024-2025, diperparah kegagalan menundukkan Porto di Liga Europa, dan Aston Villa di Liga Inggris, sehingga membuat MU bertengger di posisi ke-14 klasemen dengan hanya delapan poin dari tujuh laga. Ini terkategori awal terburuk MU di liga sejak musim 1989-1990.
Pada 28 Oktober 2024, Ten Hag dipecat dari jabatan pelatih MU, menyusul deretan hasil jauh di bawah performa terbaik, di antaranya hasil seri dengan Fenerbahce di Liga Europa dan kalah 1-2 dalam laga tandang di liga melawan West Ham. Posisi MU masih di tangga ke-14 saat asisten pelatih Ruud van Nistelrooy menggantikan Ten Hag sebagai pelatih sementara.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/18/c4d6ac39-9e05-4b23-a0fd-7b21e07d151c_jpg.jpg)
Terhitung delapan pelatih termasuk pelatih sementara yang telah menangani MU pasca-Ferguson, yakni mulai dari Moyes, Giggs, Van Gaal, Mourinho, Solskjaer, Carrick, Rangnick, Ten Hag, hingga Ruud van Nistelrooy. Malangnya, mereka belum berhasil mengangkat derajat MU hingga gilang-gemilang sebagaimana era Ferguson.
Ferguson mengakui, transisi dari dirinya ke Moyes tidak ideal, dan itu penyebab seretnya prestasi MU. ”Mungkin satu-satunya transisi manajer di persepakbolaan Inggris tingkat tertinggi yang berjalan lancar bagi klub adalah saat Bob Paisley menggantikan Bill Shankly di Liverpool. Shankly merombak klub itu, meraih promosi ke divisi teratas, meraih gelar juara divisi, dua piala FA, dan satu piala UEFA selama masa baktinya. Sementara Paisley mengungguli itu dengan menjadi juara Liga Champions tiga kali,” tulis Ferguson.
Bisakah semua transisi pelatih di klub begitu mulus dan ideal? Tentu tidak. Berakhirnya masa tugas seorang pelatih klub kerapkali juga tergantung bagaimana pemilik klub berkompromi dengan pencapaian si pelatih, dan itu sering pula dipengaruhi ekspektasi suporter.
Relasi antara pemilik klub dan pelatih dibahas secara khusus di buku The Manager, Inside the Minds of Football’s Leaders karya Mike Carson. ”Saat hubungan antara pemilik klub dan pelatih sedang baik, maka kehidupan bakal baik. Akan tetapi, sukses itu bisa saja fana. Saat musim kedua melatih Manchester City, 2011-2012, Roberto Mancini membawa tim ’Biru Langit’ di puncak klasemen di mayoritas bulan dalam semusim,” tulis Carson.
Namun, pada Maret 2012, City terpeleset dari puncak dan tekanan ke Mancini melonjak signifikan. Di momen seperti saat itulah, menurut Carson, relasi pelatih dengan pemilik klub benar-benar diuji. Saat itu, Carlo Ancelotti berujar, ”Semua orang bilang Mancini harus membawa timnya menang. Jika tidak menang, tahun ini akan jadi problem besar. Namun, pemilik City, pekan lalu, menyatakan senang dengan penampilan tim. Masalahnya adalah, di sepak bola hanya satu tim yang menang.”
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/10/28bd6c7a-d844-4239-8fb5-712d33f967a3_jpg.jpg)
Ferguson pun mengakui ini. ”Di persepakbolaan, pemberi wewenang adalah pemilik klub. Jika pemilik klub tegas menyatakan kepercayaan terhadap---dan mendukung----pelatih, pekerjaan pelatih jadi lebih mudah.”
Berkaca dari penuturan Carson dan Ferguson ini, kepercayaan keluarga Glazer dan Sir Jim Ratcliffe sebagai dua pemilik saham terbesar di MU terhadap Ruben Amorim bakal sangat menentukan keleluasaan si pelatih asal Portugal ini pada bulan-bulan dan musim pertamanya di Old Trafford.
”Ruben (Amorim) adalah salah satu pelatih muda yang paling menarik dan bernilai tinggi di sepak bola Eropa. Dikenal baik sebagai pemain dan pelatih, titelnya termasuk memenangi Liga Portugal dua kali dengan Sporting yang salah satunya gelar pertama klub dalam 19 tahun,” ungkap MU dalam pernyataan penunjukan Amorim, Jumat (1/11/2024).
Menarik ditunggu, seperti apa MU di bawah Amorim, yang terkenal banyak memainkan formasi 3-4-2-1 bersama Sporting CP? Keberhasilan Amorim bersama MU memainkan formasi tiga bek yang jauh beda dengan sepak bola modern, yang mayoritas memasang empat bek, bakal jadi penentu berakhirnya pengembaraan MU mencari pelatih ideal pasca-Ferguson.
Kepercayaan MU, setidaknya terbukti dari pernyataan penunjukan Amorim, harus segera dibayar dengan prestasi riil MU. Amorim semestinya paham, seiring kemarau panjang prestasi MU pasca-Ferguson, kesebaran pemilik klub dan suporter amat terbatas. ”Kedigdayaan” polesan tangan dingin Amorim benar-benar ditunggu.
Penulis:
Adi PrinantyoEditor:
Prasetyo Eko Prihananto