Kematian telah kehilangan kekuasaannya atas kita, jadi kita tidak lagi membutuhkan kekerasan. Hidup manusia telah menjadi ruang untuk cinta yang mengabdi.
18 Apr 2025 10:00 WIB · Opini
Dalam perayaan Paskah, umat Kristen sedunia merayakan empati Allah dengan seluruh hidup manusia. Dalam peristiwa Paskah, Allah tidak dialami sebagai yang melayang-layang di singgasana kekuasaan, tapi sebagai Dia yang masuk ke dan mengambil bagian dalam sejarah penderitaan dan kematian umat manusia. Bahkan, penderitaan yang dialami oleh Yesus itu melampaui imajinasi sebagian besar umat manusia.
Penderitaan, salib, dan kematian yang dialami Yesus adalah bukti cinta Allah kepada manusia. Jika kita benar-benar mencintai seseorang, maka kita juga siap untuk menderita bersama orang itu. Kita juga bersedia untuk mengambil bagian dalam penderitaan yang disebabkan oleh kelemahan atau kekurangan orang yang kita cintai itu.
Tidak ada cinta antara manusia, di mana manusia tidak juga melukai satu sama lain, di mana tidak ada penderitaan. Jika seseorang yang kita cintai menderita, maka kita akan lebih menderita bersamanya, maka kita akan lebih berharap agar penderitaan itu cepat berlalu. Dalam persahabatan dan pernikahan, ya dalam hubungan yang baik, ada fase dan jam-jam kekecewaan dan penderitaan. Sebuah cinta tanpa penderitaan tidak pernah ada, seindah dan sebaik apa pun keinginan tersebut.
Dalam peristiwa Paskah, kita mengenang bahwa kehidupan Yesus dari awal hingga kematiannya ditentukan oleh penderitaan, rasa sakit, dan kesedihan. Juga setelah kebangkitannya, Yesus terutama dikenali melalui bekas-bekas lukanya.
Ada sebuah legenda tentang Santo Martin. Ia pernah bermimpi, setan muncul dalam wujud Yesus Kristus. Namun, setan yang menyamar sebagai Kristus tidak memiliki luka. Santo Martin berkata kepada setan, ”Kamu tidak bisa menjadi Kristus, karena kamu tidak membawa bekas luka itu padamu.”
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/15/8861c4d4adc78885e2f13d7f700b1474-AUSTRIA_EASTER_CANDLES_129020011.jpg)
Surat kepada umat Ibrani memperlihatkan Yesus sebagai orang yang menderita. Yesus dapat merasakan kelemahan manusia. Seperti kita, Dia mengalami godaan dan tantangan. Namun, dalam segala hal, Yesus tetap tanpa dosa. Yesus telah ”dengan teriakan keras dan air mata mempersembahkan doa dan permohonan kepada Allah” (Ibrani 5:7). Melalui penderitaan, dia belajar ketaatan dan membawa keselamatan bagi umat manusia.
Kita mungkin bertanya, ”Di mana Tuhan, di mana Yesus di antara semua orang yang menderita? Mengapa Tuhan membiarkan perang terjadi? Dari mana ketidakadilan itu berasal? Mengapa anak-anak harus mati?”
Dalam peristiwa Paskah, kita menyaksikan bahwa Tuhan berjalan bersama kita manusia melalui penderitaan dan kesedihan, melalui rasa sakit dan ketakutan. Dia telah mengalami pengkhianatan, Dia telah mengalami bagaimana Dia diejek. Yesus harus menderita karena jalan-jalan Tuhan sering kali berbeda dari jalan-jalan manusia. Oleh karena itu, Yesus menempuh jalan yang ditentukan oleh cinta, menolak segala bentuk kekerasan.
Dalam peristiwa Paskah, kita menyaksikan bagaimana kekerasan diubah menjadi cinta. Persis tantangan mengerikan inilah yang dihadapi Yesus dengan kebebasan yang sempurna, yang telah dimenangkannya di Taman Ketakutan di Bukit Zaitun dalam pergulatan dengan Bapanya. Dan, Dia menghadapi tantangan itu karena cinta. Dia sendiri telah berkata, ”Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seseorang yang memberikan hidupnya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13).
Betapa berita yang sangat mendesak untuk dunia kita yang penuh dengan kekerasan. Kita menyaksikan kekerasan terjadi di mana-mana: kekerasan brutal dalam perang, kekerasan melawan hukum internasional terhadap warga sipil, pemerkosaan, human trafficking, pelecehan anak, kekerasan terhadap alam, kekerasan rasial terhadap mereka yang berbeda.
Dalam kematian di kayu salib, Yesus menetapkan standar yang sangat tinggi untuk umat manusia dan mengubah kekerasan menjadi cinta. Karena tangannya dipaku, Dia tidak bisa lagi menunjukkan tinju kepada umat manusia. Dia tidak membayar tebusan kepada iblis, Dia tidak memberikan kepuasan untuk memulihkan kehormatan Tuhan yang terluka. Dia menunjukkan kepada kita jalan dari kekerasan menuju cinta. Dan meminta kita untuk meneladaninya. ”Cintailah satu sama lain, seperti Aku telah mencintai kamu” (Yoh 15:12).
Pandangan pada salib jadi lebih dalam. Bagaimana Yesus bisa mengatasi ketakutan ini?
Menurut semua penelitian, kekerasan selalu berasal dari ketakutan, pada akhirnya ketakutan akan kematian. Tepatnya, Yesus menghadapi ketakutan ini di Taman Getsemani, ”Taman Ketakutan”. Dia telah mengalahkan ketakutan akan kematiannya dengan menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan. Seberapa pun Yesus berteriak tentang ketakutannya akan ditinggalkan Tuhan di kayu salib: Dia tidak melepaskannya. Dia tidak hanya tergantung di salib, Dia juga tergantung pada Tuhannya. Keterikatannya yang tak tergoyahkan membuatnya menempuh jalan penderitaan dan kematian dalam cinta yang bebas.
Bagi Yesus, tetapi juga bagi dunia, kematian dan dengan itu kekerasan telah kehilangan kekuatannya. Lebih dari itu, sekarang kita bahkan bisa bergaul dengan kematian. Fransiskus dari Assisi menyebut kematian sebagai saudaranya.
Melalui kematian Yesus di kayu salib dan kebangkitan yang bersinar di baliknya, kematian kehilangan daya yang menakutkan. Kematian terbukti sebagai tukang kebun bedengan yang penuh kasih dan perhatian. Dia dengan penuh kasih memindahkan setiap bunga manusia ke surga.
Juga tidak ada lagi kekerasan dalam hidup sebelum mati, karena ketakutan akan kematian tidak lagi menguasai kita. Kematian telah kehilangan kekuasaannya atas kita, jadi kita tidak lagi membutuhkan kekerasan. Hidup manusia telah menjadi ruang untuk cinta yang mengabdi. Dan, itu karena Yesus telah pergi ke Taman Kematian sebelum kita dan untuk kita, dan sebagai pendamping setia akan berjalan bersama kita.
Otto Gusti Madung, Rektor Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Maumere, Flores; Dosen Filsafat dan Alumnus Program Doktoral dari Hochschule fuer Philsophie Muenchen, Jerman
Penulis:
Otto Gusti MadungEditor:
Johanes Waskita UtamaPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul