Perang di Timur Tengah membuat Paskah tahun ini berbeda.
06 Apr 2026 08:40 WIB · Internasional
AFP
”Selamat Paskah,” kata Patriark Latin Jerusalem Kardinal Pierbattista Pizzaballa setelah fajar menyingsing, Minggu (5/4/2026). Pagi itu, ia memasuki gereja yang dikelilingi oleh sekelompok kecil pendeta.
Di lorong-lorong kota tua Jerusalem yang biasanya ramai, keheningan menyelimuti Minggu Paskah hari itu.
Perang Iran melawan Amerika dan Israel yang terus berkobar membuat banyak pembatasan akses ke Makam Suci, tempat umat beriman memperingati penyaliban dan kebangkitan Kristus.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/06/63455b5d-33b4-41a0-acdd-42efcb69742b.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/06/1c6b5a31-1780-40c1-982c-31cc8fa907d2.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/06/7b2edfbd-2649-4ffa-a8ce-be247701e432.jpg)
Di rute menuju gereja, tempat umat Kristen percaya bahwa Yesus Kristus disalibkan, dikuburkan, dan bangkit dari kematian, dijaga ketat polisi Israel. Hanya sebagian kecil umat yang diizinkan mendekati lokasi itu setelah melalui pemeriksaan. Semua toko di area tersebut tutup, menambah kesan sepi.
Beberapa umat Katolik dan Kristen Ortodoks mencoba mendekati gereja, tetapi dijauhkan oleh pasukan keamanan. Setelah terjadi perang, keamanan ditingkatkan di kota tua di Jerusalem timur yang dianeksasi Israel itu. Daerah ini merupakan rumah bagi situs-situs suci umat Yahudi, Kristen, dan Islam.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/06/2bde93ef-fcc6-4ab9-a2cf-f7b272b966bd.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/06/a37ca37b-f02a-476b-b0f5-8dfe0a03a54c.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/06/8e8ce7ec-a6ef-4574-b7ba-7a46c94ce544.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/06/b7ce2744-b381-4180-b580-b513ce2f3e5e.jpg)
Israel juga memberlakukan pembatasan pada pertemuan besar sebagai tindakan pencegahan karena ancaman serangan saat perang Timur Tengah sedang berlangsung. Namun, bagi banyak umat Kristen, pembatasan ibadah telah menghilangkan makna perayaan Paskah.
”Seumur hidup saya, saya tidak pernah membayangkan akan ada hari ketika kami dilarang untuk melangkah ke gereja,” kata seorang perempuan Palestina dari Jerusalem, Huda al-Imam. Menurut dia, menutup Makam Suci berarti menghentikan jantung kehidupan budaya dan spiritual umat.
Wisatawan yang berasal dari Romania, Christina Toderas, mengatakan, ”Saya datang dan hanya ingin berdoa tidak menemukan apa pun. Semuanya tutup.” Seperti umat lainnya, dia akhirnya pasrah menyaksikan misa di Gereja Makam Suci melalui televisi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/06/3593aae0-6245-4ab3-9ab2-8640ef5bff5f.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/06/13206fb4-74df-4f72-b26f-a2fb3456a96c.jpg)
Di dalam Gereja Makam Suci, perayaan Paskah diadakan tertutup dengan jumlah jemaat yang sangat kecil. Ini sangat berbeda dengan keramaian setiap tahun. Di sekitar kota tua, tempat nyanyian pujian dan prosesi biasanya mendominasi saat Paskah, hanya bisikan yang terdengar di antara umat yang bergerak diam-diam melalui lorong-lorongnya.
”Di sini, di dalam makam ini, kita sedang menghadapi kekosongan yang nyata,” kata Kardinal Pizzaballa pada misa Paskah di gereja tersebut. Bacaan Injil pada Sabtu Paskah diambil dari Injil Lukas yang menceritakan beberapa perempuan yang datang ke makam Yesus, tetapi mereka menjumpai batu besar penutup makam telah terguling dan makam itu kosong.
”Kita berdiri di tempat batu itu digulingkan. Namun, kita tahu betul bahwa masih banyak batu yang tetap tertutup di sekitar kita,” tambah Kardinal Pizzaballa.
Sebelumnya, pada Minggu Palma, Kardinal Pizzaballa diusir oleh polisi Israel saat akan memasuki Makam Suci untuk mengikuti misa. Hal ini lantas memicu kemarahan dunia sebelum Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memerintahkan agar Kardinal diizinkan masuk.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/06/5680c9dd-163e-4866-a055-9fa7579ec314.jpg)
Sejak perang meletus pada 28 Februari, puing-puing dari rudal atau pencegat Iran telah berjatuhan di kota tua Jerusalem, termasuk di dekat Makam Suci, Masjid Al-Aqsa, dan di kawasan Yahudi. ”Ini sungguh menyedihkan. Saya hanya berharap perang ini segera berakhir,” kata Julio Makhalfeh, seorang warga Jerusalem.
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti