Paus Fransiskus Buka KTT Hak Anak, Megawati Serukan Kepedulian Dunia

Para tokoh dan pemimpin dunia bertemu di Istana Kepausan, Vatikan untuk membicarakan upaya pemenuhan hak-hak anak. Megawati jadi salah satu panelis yang bicara dalam forum yang dibuka Paus Fransiskus tersebut.

03 Feb 2025 21:40 WIB · Politik & Hukum

Oleh Anita Yossihara dari Roma, Italia

VATIKAN, KOMPAS — Konferensi Tingkat Tinggi Pemimpin Dunia untuk Hak-hak Anak yang diikuti sejumlah tokoh dan pemimpin dunia dibuka Paus Fransiskus, Senin (3/3/2025). Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri yang hadir sebagai panelis menyerukan pentingnya kolaborasi untuk memenuhi hak-hak anak di seluruh dunia.

Pertemuan para tokoh dan pemimpin dunia, World Leaders Summit on Children's Rights, itu digelar di Aula Clementine, Istana Kepausan, Vatikan. Selain Megawati, sejumlah tokoh dunia juga hadir sebagai panelis. Mereka, antara lain, Ratu Rania dari Jordania dan mantan Wakil Presiden Amerika Serikat Al Gore.

Dalam pidatonya, Paus Fransiskus menyoroti berbagai krisis yang mengancam anak-anak di seluruh dunia, mulai dari perang, kemiskinan, hingga eksploitasi anak.

Paus juga menyampaikan keprihatinannya terhadap jutaan anak yang kehilangan hak-haknya akibat konflik bersenjata, perdagangan manusia, hingga kekerasan di dalam keluarga. Lebih dari 40 juta anak saat ini terpaksa mengungsi akibat konflik bersenjata. Sementara sekitar 100 juta anak kehilangan tempat tinggal.

Guru Agama Katolik SMA St. Ursula Jakarta yang juga Katekis Paroki Blok Q Jakarta Agnes Natalia usai berbicara dalam audiensi dengan Paus Fransiskus yang dilaksanakan di Gereja Katedral Jakarta, Rabu (4/9/2024). Dalam kesempatan itu, selain Agnes Natalia, berbicara juga Ketua UNIO Indonesia RD Maxi Un Bria; Suster Rina, MC; dan Guru Agama Katolik SMA Regina Pacis Bogor yang juga anggota Komisi Kataketik Keuskupan Bogor Nikolas Wijaya. INDONESIA PAPAL VISIT COMMITEE/ WISNU WIDIANTORO

Di beberapa negara, anak-anak bahkan dipaksa bertempur di garis depan perang di bawah pengaruh narkoba. Tidak hanya di zona konflik, kekerasan terhadap anak juga terjadi di negara-negara yang relatif damai.

Paus mengecam fenomena itu. ”Apa yang kita saksikan hampir setiap hari, anak-anak yang meninggal akibat bom, dikorbankan demi kekuasaan, ideologi, dan kepentingan nasionalistik, adalah sesuatu yang tidak dapat diterima. Tidak ada yang lebih berharga dari kehidupan seorang anak,” ujarnya.

Paus juga menyoroti fenomena perbudakan modern yang menimpa jutaan anak di dunia. Sekitar 160 juta anak menjadi korban kerja paksa, perdagangan manusia, kekerasan, dan eksploitasi, termasuk dalam pernikahan paksa.

Bahkan, bagi anak-anak yang selamat dari ancaman perang dan eksploitasi, masih ada hambatan lain, seperti status hukum yang tidak diakui. Diperkirakan 150 juta anak di dunia tidak memiliki identitas hukum sehingga mereka tidak bisa mengakses pendidikan, layanan kesehatan, serta rentan diperjualbelikan.

Reaksi seorang anak pengungsi Ukraina saat ia naik bus setelah tiba di stasiun kereta api Hendaye, barat daya Prancis, Rabu (9/3/2022). Sekitar 200 pengungsi Ukraina tiba di kota pantai Atlantik Prancis, Hendaye, di mana pihak berwenang setempat menyambut mereka di stasiun kereta api dan menawarkan mereka penginapan sementara. Mereka termasuk di antara 2 juta orang pengungsi yang kebanyakan adalah wanita dan anak-anak yang melarikan diri dari pertempuran di Ukraina sejak invasi Rusia dua minggu lalu dan mencari perlindungan di sekitar Eropa.

”Ini bukan hanya tragedi individu, melainkan juga krisis moral global,” ujar Paus.

Oleh karena itu, Paus menegaskan, perlindungan anak harus menjadi prioritas global. Ia mendorong negara-negara untuk mengambil tindakan nyata dalam meningkatkan kesejahteraan anak-anak, menghapus eksploitasi, dan memberikan akses yang lebih luas terhadap pendidikan serta layanan kesehatan.

Menutup pidatonya, Paus mengajak dunia untuk lebih mendengarkan suara anak-anak. ”Mereka berbicara kepada kita, baik melalui kata-kata, tatapan, maupun keheningan mereka. Maka, marilah kita mendengarkan mereka,” ujarnya.

Quote

Ini bukan hanya tragedi individu, melainkan juga krisis moral.

Pidato ini menjadi pengingat bahwa di tengah pesatnya kemajuan dunia, masih ada jutaan anak yang hidup dalam ketidakpastian. Paus Fransiskus menegaskan, masa depan umat manusia bergantung pada bagaimana dunia memperlakukan anak-anak hari ini.

Pastikan hak tumbuh-berkembang

Sejumlah tokoh yang menjadi panelis dalam forum itu juga menyampaikan pandangan mereka tentang solusi bagi persoalan yang masih harus dihadapi anak-anak, selain meneguhkan komitmen untuk mengupayakan pemenuhan hak-hak anak. Megawati, misalnya, menegaskan bahwa dunia harus memastikan setiap anak memiliki hak untuk tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang aman serta mendapatkan akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan perlindungan dari eksploitasi.

Megawati mengingatkan, anak-anak akan menanggung beban terberat dari krisis global yang diciptakan oleh orang dewasa. Ia menyebut beberapa tantangan utama yang semakin mengancam generasi mendatang, antara lain, perubahan iklim, ketidakadilan sosial dan ekonomi, kerawanan pangan dan gizi buruk, dan kesenjangan digital yang menciptakan ketimpangan dalam akses akses pendidikan dan informasi.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia disebut Megawati sebagai salah satu negara yang paling terdampak oleh perubahan iklim. Bencana ekologis yang semakin sering terjadi membawa dampak besar bagi anak-anak, terutama dalam akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan gizi.

”Saya melihat sendiri bagaimana anak-anak dari keluarga miskin semakin rentan. Mereka tidak hanya terancam oleh kemiskinan, tetapi juga oleh kurangnya akses terhadap pendidikan dan kesehatan yang layak,” ujarnya.

Suasana World Leaders Summit on Children's Rights di Istana Kepausan, Vatikan, Senin (3/2/2025). Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri duduk bersama Paus Fransiskus dan Ratu Rania dari Yordania. *** Local Caption *** Suasana World Leaders Summit on Children's Rights di Istana Kepausan, Vatikan, Senin (3/2/2025). Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri duduk bersama Paus Fransiskus dan Ratu Rania dari Yordania.

Megawati juga menyoroti bahwa kesenjangan digital telah menciptakan penjajahan dalam bentuk baru. Meskipun teknologi menawarkan peluang besar, akses yang tidak merata justru memperdalam ketidakadilan.

Tawarkan Pancasila sebagai solusi

Dalam menghadapi tantangan global, Megawati menekankan pentingnya menanamkan nilai-nilai toleransi, gotong royong, dan kemanusiaan sebagai fondasi bagi anak-anak untuk menghadapi dunia yang semakin kompleks.

Menurut dia, Indonesia memiliki Pancasila sebagai dasar pendidikan karakter yang dapat menjadi inspirasi bagi dunia.

”Pancasila adalah dasar dan falsafah hidup bangsa kami. Lima sila dalam Pancasila mengajarkan tentang ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial. Ini adalah nilai-nilai universal yang dapat menjadi landasan bagi pendidikan anak-anak kita,” ujarnya.

Megawati mengingatkan bahwa masa depan dunia berada di tangan anak-anak, dan mereka harus dibekali dengan nilai-nilai kemanusiaan yang kuat. ”Jika kita ingin membangun dunia yang lebih baik, kita harus menanamkan harapan dan impian tanpa batas bagi anak-anak kita,” tambahnya.

Megawati pun mengutip pesan Presiden Soekarno, ayahnya, yang berpesan kepada generasi muda, ”Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Sekiranya engkau jatuh, maka kau akan jatuh di antara bintang-bintang di angkasa raya.”

Quote

Lima sila dalam Pancasila mengajarkan tentang ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial. Ini adalah nilai-nilai universal yang dapat menjadi landasan bagi pendidikan anak-anak kita.

Menurut dia, anak-anak harus didorong untuk memiliki mimpi besar dan tidak takut menghadapi masa depan.

Menutup pidatonya, Megawati mengajak para pemimpin dunia untuk meneguhkan kembali komitmen mereka terhadap hak-hak anak. Ia menyerukan kerja sama lintas negara untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi anak-anak di seluruh dunia.

Megawati berharap bahwa konferensi ini tidak hanya menjadi sekadar forum diskusi, tetapi juga menghasilkan langkah-langkah nyata dalam melindungi dan memberdayakan anak-anak di seluruh dunia.

Presiden ke-RI Megawati Soekarnoputri berjabat tangan dengan Mantan Wakil Presiden AS Al Gore dalam jamuan makan malam di Vatikan, Minggu (2/2/2025).

Dengan pidato ini, Megawati mempertegas peran Indonesia dalam upaya global untuk melindungi hak-hak anak, sekaligus membawa gagasan bahwa nilai-nilai Pancasila dapat menjadi inspirasi bagi dunia dalam membangun generasi yang lebih baik.


Kerabat Kerja

Penulis:

Anita Yossihara dari Roma, Italia
 | 

Editor:

A. Ponco Anggoro