Paus Fransiskus, Paus Para Papa, dan Mereka yang Terpinggirkan

Krisis migran, pengungsi, dan alam menjadi prioritas perhatian dan perjuangan Paus Fransiskus sejak ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1969.

21 Apr 2025 15:30 WIB · Internasional

Oleh Luki Aulia

Paus Fransiskus meninggal dunia pada Senin (21/4/2025) dalam usia 88 tahun. Dalam sebulan terakhir, Paus berjuang menghadapi pneumonia ganda sebelum penyakit itu akhirnya merenggut nyawanya.

Semasa hidupnya, Paus Fransiskus dikenal sebagai sosok yang intens membela warga miskin dan terpinggirkan, khususnya kaum migran dan pengungsi. Keberpihakan kepada migran dan pengungsi ini sudah ditunjukkan Jorge Mario Bergoglio atau Paus Fransiskus sejak 13 Maret 2013.

Paus Fransiskus memilih melakukan perjalanan resmi pertama ke luar negeri sebagai Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Roma ke Lampedusa, pulau terbesar di Kepulauan Pelagie, Italia. Pulau ini terletak di Laut Tengah, antara Malta dan Tunisia. Lampedusa merupakan bagian dari wilayah otonomi Sisilia, Italia.

Lampedusa dan Laut Tengah yang memisahkan Eropa dan Afrika, bagi Paus Fransiskus, adalah simbol krisis migrasi dan pengungsi dunia hingga hari ini. Ribuan migran yang mendamba kehidupan lebih baik berjuang melintasi lautan berbahaya itu. Banyak yang tak selamat ketika kapal-kapal mereka ditolak masuk Eropa sehingga terkatung-katung dan sebagian tenggelam.

Dengan berkunjung ke Lampedusa, Paus Fransiskus mengajak dunia melihat situasi krisis kemanusiaan atau tragedi dehumanisasi pada kaum migran yang meninggalkan tempat asal mereka akibat kemiskinan, eksploitasi ketidakadilan, dan konflik.

Lahir di Buenos Aires, Argentina, pada 17 Desember 1936, Paus Fransiskus dapat merasakan apa yang dialami migran karena dirinya juga berasal dari keluarga imigran Italia. Pada tahun 2023, Paus Fransiskus kembali menegur Eropa ketika Perdana Menteri Italia Giorgio Meloni mengusulkan agar Uni Eropa memberlakukan blokade di Laut Tengah.

Usulan itu disampaikan setelah setidaknya 18.000 pengungsi masuk ke Lampedusa lewat Laut Tengah pada September 2023. Teguran Paus Fransiskus didasarkan fakta Komisi Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR) yang menyebutkan setidaknya 2.500 pengungsi tewas di Laut Tengah pada 2023.

Adapun dalam 10 tahun terakhir, menurut Organisasi Migrasi Internasional (IOM), 28.000 pengungsi tewas di Laut Tengah. Sebagian besar kematian mereka terjadi kala kapal pengangkut pengungsi karam di Laut Tengah.

Paus Fransiskus meminta Laut Tengah jangan dibiarkan jadi lautan kematian. Laut Tengah seharusnya dijadikan laboratorium perdamaian. Laut Tengah adalah cerminan dunia di mana negara-negara di belahan selatan Bumi dilanda ketidakpastian, perang, dan penggundulan hutan. Penduduknya tidak punya pilihan selain menuju ke belahan utara Bumi.

Paus Fransiskus mengatakan, pengungsi yang tewas di Laut Tengah jangan sampai dianggap sebagai kumpulan angka semata. Mereka adalah orang-orang yang berusaha menyelamatkan diri dari konflik, kemiskinan, dan bencana alam.

”Berhentilah menganggap kapal karam sebagai berita belaka, kematian di laut sebagai angka baru. Mereka orang yang punya nama, cerita, dan derita,” ujar Paus Fransiskus.

Paus Fransiskus melihat kondisi tempat tinggal para pengungsi dan pencari suaka di Pusat Penerimaan dan Identifikasi di Mytilene, Pulau Lesbos, Yunani, Minggu (5/12/2021). Paus Fransiskus juga menyoroti Laut Mediterania, Òtempat lahirnya begitu banyak peradaban,Ó telah menjadi kuburan bagi orang-orang yang putus asa dimana perahu-perahu yang membawa pengungsi dan pencari suaka banyak yang tenggelam. AFP/VATICAN MEDIA This handout photograph taken on December 5, 2021 and released by Vatican Media shows Pope Francis meeting refugees at the Reception and Identification Centre in Mytilene on the island of Lesbos. (Photo by VATICAN MEDIA / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / - / VATICAN MEDIA " - NO MARKETING - NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Paus Fransiskus menyesalkan sejumlah kota Eropa di pesisir Laut Tengah malah menutup pelabuhan dari para pengungsi. Mereka yang mempertaruhkan nyawanya di laut, kata Paus Fransiskus, tidak akan menyerbu. Mereka mengharapkan penyambutan dan kehidupan.

Paus Fransiskus juga menolak gagasan Eropa sedang dalam situasi darurat karena gelombang pengungsi. Wacana itu hanya bentuk propaganda kelompok tertentu. ”(Pengungsi dan migrasi) Adalah fakta masa kini, proses yang melibatkan tiga benua di sekeliling Laut Tengah dan harus dikelola dengan bijaksana, termasuk cara Eropa menanggapi kesulitan ini,” ujar Paus Fransiskus.

Paus Fransiskus menegaskan menyelamatkan pengungsi di Laut Tengah adalah wujud tugas kemanusiaan dan peradaban. Mereka yang merintangi penyelamatan pengungsi di laut menunjukkan kebencian. Padahal, pengungsi adalah saudara dalam kemanusiaan. ”Tuhan akan memberkati kita jika di laut dan darat ada perawatan kepada yang lemah,” ujarnya.

Kehidupan Paus Fransiskus tak pernah lepas dari migran dan pengungsi. Bahkan, Paus Fransiskus pernah membuat tongkat kepausan dari kayu bekas kapal migran dan kayu zaitun. Seorang tukang kayu Italia bernama Francesco Tuccio membuat tongkat kepausan dari kayu yang ditemukan di kuburan kapal.

Tongkat tersebut dilengkapi dengan salib yang diukir dari kayu merah dan biru. Tidak hanya itu. Pada Oktober 2019, Paus Fransiskus meresmikan patung di Lapangan Santo Petrus yang didedikasikan untuk migran dan pengungsi di seluruh dunia.

Di Alun-alun Santo Petrus terdapat patung yang menggambarkan para pengungsi, migran, dan mereka yang tersisih atau disisihkan. Paus Fransiskus memberi perhatian khusus mereka. Patung tersebut dinamai "Angels Unawares"

Perahu ”Angels Unaware” karya seniman Kanada Timothy P Schmalz menggambarkan 140 migran mulai dari seorang laki-laki Yahudi yang melarikan diri dari Nazi Jerman hingga seorang pengungsi Suriah yang melarikan diri dari perang saudara.

Pada monumen itu juga disertakan penggambaran orangtua Kristus, Maria dan Yusuf. Paus Fransiskus pernah menyamakan perjalanan Yusuf dan Maria ke Betlehem dengan migrasi jutaan pengungsi yang melarikan diri dari perang.

Alam dan manusia

Paus Fransiskus mengeluarkan ensiklik ”Fratelli Tutti” pada 3 Oktober 2020. Ensiklik merupakan surat edaran yang dikeluarkan Paus dan ditujukan kepada para uskup untuk diteruskan kepada umat Katolik di seluruh dunia. Melalui ensiklik ”Fratelli Tutti”, Paus Fransiskus menyerukan pentingnya persaudaraan dan persahabatan sosial, termasuk pada migran dan pengungsi.

Paus Fransiskus membongkar problem ketidakpedulian manusia. Banyak orang yang menemukan sesamanya ”diserang” di jalan, tetapi berlagak seolah tidak melihat apa pun.

Menurut Paus Fransiskus, manusia sangat berpusat pada kebutuhan diri sendiri dan melihat saja seseorang yang menderita sudah mengganggu dan merisaukan. Karena itu, orang tak ingin membuang-buang waktu dengan masalah orang lain.

Pope Francis meets migrants during his visit at the Karatepe refugee camp, on the northeastern Aegean island of Lesbos, Greece, Dec. 5, 2021.Ten years after Pope Francis made a landmark visit to the Italian island of Lampedusa to show solidarity with migrants, he is joining Catholic bishops from around the Mediterranean this weekend in France to make the call more united, precisely at the moment that European leaders are again scrambling to stem the tide of would-be refugees setting off from Africa. (AP Photo/Alessandra Tarantino, file) *** Local Caption *** Paus Fransiskus bertemu para migran selama kunjungannya di kamp pengungsi Karatepe, di pulau Lesbos, Aegean, Yunani, 5 Desember 2021.

Dari fenomena yang sederhana ini, masalah kepengungsian yang kini menjadi masalah global bukan tidak mungkin bersumber dari ketidakpedulian tiap-tiap orang. Karena itu, untuk keluar dari masalah kemanusiaan, prinsip yang dipegang selayaknya tidak perlu rumit, sebaliknya dari hal sederhana, yakni kepedulian terhadap sesama.

Meskipun ensiklik merupakan dokumen Gereja, Paus menunjukkan ”Fratelli Tutti” kepada semua orang yang berkehendak baik, terlepas apa pun keyakinan agamanya.

Selain migran dan pengungsi, Paus Fransiskus menekankan pentingnya moral untuk merawat ciptaan Tuhan. Visi dan spiritualitas ekologi ditunjukkan Paus Fransiskus dengan ensiklik ”Laudato Si” (2015) yang membahas krisis lingkungan hidup dunia yang menggelisahkannya.

Melalui ensiklik ini, ia mengajak umat Katolik dan semua manusia bergerak ikut ambil bagian menyelamatkan kehidupan dari krisis lingkungan hidup global. Bahkan, karena sedemikian gelisahnya, Paus Fransiskus kemudian mengeluarkan lagi ensiklik yang lebih fokus pada krisis iklim, yakni ”Laudate Deum” (2023).

”Laudato Si” menjadi renungan luas tentang kedudukan manusia di Bumi dan implikasi spiritual dari pemanasan global yang disebabkan oleh manusia. Kemudian Paus Fransiskus tampaknya tak punya lagi kesabaran untuk renungan semacam itu sehingga diterbitkanlah ”Laudato Deum” yang lebih spefisik pada krisis iklim. Isinya terdengar jauh lebih emosional ketimbang ”Laudato Si”.

Sejak ”Laudato Si” terbit, Paus Fransiskus belum melihat ada respons dunia yang memadai dalam menangani isu perubahan iklim. Padahal, dunia sudah di ambang kehancuran. Paus Fransiskus meminta seluruh dunia bergerak lebih cepat karena cuaca ekstrem yang saat ini sering terjadi tak bisa lagi diabaikan.

”Laudato Si” disusun dalam enam bab. Melalui ”Laudato Si”, Paus Fransiskus menyalurkan rasa frustrasinya dengan menyinggung krisis iklim, paradigma teknokratis, kelemahan politik internasional, kemajuan dan kegagalan konferensi iklim, dan motivasi spiritual.

Jika dalam ”Laudato Si”, Paus Fransiskus membungkus keprihatinan akan masa depan Bumi dalam bahasa yang menyedihkan tentang penyakit rohani, dalam ”Laudato Deum” Paus Fransiskus menggunakan nada yang jauh lebih politis, bahkan legalistik.

”Transisi energi harus efisien, wajib, dan mudah dipantau. Syarat untuk berhasil, harus drastis, intens, dan mengandalkan komitmen semua orang,” tulis Paus dalam ”Laudato Deum”.

Panggilan Tuhan

Paus Fransiskus ditahbiskan menjadi imam (pastor) pada 1969. Perjalanan gerejawi yang panjang dimulai dengan menjadi seorang imam, kemudian ditahbiskan menjadi Uskup, Uskup Agung, Kardinal, hingga pada puncaknya terpilih menjadi Paus, pemimpin Gereja Katolik seluruh dunia. Moto ”Miserando atque Eligendo” dipilih ketika ia ditahbiskan menjadi Uskup Auksilier Buenos Aires pada 1992.

Moto yang berarti ”Karena belas kasih-Nya, Dia memanggilnya” itu menggambarkan bagaimana luar biasa latar belakang panggilan religius Paus Fransiskus. Moto ini terinspirasi dari kisah Injil tentang pertobatan Matius, seorang pemungut cukai. Matius bertobat setelah Tuhan memandangnya dengan penuh kasih.

Dengan moto ini, ia disadarkan bahwa panggilan untuk menjadi imam merupakan inisiatif dari Tuhan yang memanggil dan menunggu jawaban dari manusia. Disadari atau tidak, panggilan religius merupakan panggilan Tuhan bagi hati yang menanti.

Paus Fransiskus berinteraksi dengan anak-anak pengungsi dan pencari suaka saat mengunjungi kamp pengungsi Karatepe di Pulau Lesbos, Yunani, Minggu (5/12/2021). Dalam kunjungannya Paus Fransiskus memberikan penghiburan kepada para pengungsi dan pencari suaka dan mengecam ketidakpedulian yang ditunjukkan oleh Eropa. AP PHOTO/ALESSANDRA TARANTINO Pope Francis meets migrants during his visit at the Karatepe refugee camp, on the northeastern Aegean island of Lesbos, Greece, Sunday, Dec. 5, 2021. Pope Francis is offering comfort migrants at a refugee camp on the Greek island of Lesbos. He is blasting what he says is the indifference and self-interest shown by Europe "that condemns to death those on the fringes." (AP Photo/Alessandra Tarantino)

Paus Fransiskus adalah anak pertama dari lima bersaudara pasangan Mario Jose Bergoglio dan Regina Maria Sivori. Ia berasal dari keluarga Katolik sederhana. Ayahnya adalah imigran Italia yang menjadi pegawai jawatan kereta api, sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga.

Kisah panggilannya terjadi saat Jorge masih berusia 17 tahun. Saat hendak merayakan ”hari musim semi” bersama teman-temannya, ia merasa terdorong untuk mampir terlebih dahulu ke gerejanya di San Jose de Flores. Di sana ia bertemu dengan seorang pastor yang belum dikenal sebelumnya.

Ia merasakan ada suatu suasana rohani dalam perjumpaan itu dan ada dorongan untuk mengaku dosa. Saat itu pula ia merasakan ada pengalaman religius yang membuatnya tidak jadi menemui teman-temannya, tetapi memutuskan untuk pulang dengan satu keyakinan bahwa ia mau menjadi imam.

Keputusan untuk menjadi imam dan masuk seminari baru terjadi ketika Jorge berusia 21 tahun. Setelah meraih gelar sebagai teknisi kimia, ia bekerja di laboratorium penelitian makanan Hickethier-Bachmann, mewujudkan cita-citanya menjadi ahli kimia. Sebelumnya, ketika masih muda, ia bahkan pernah bekerja sebagai seorang penjaga bar dan petugas kebersihan.

Ia lalu akhirnya meninggalkan itu semua dan menjadi seorang seminaris di Seminari Concepcion Villa Devoto, Buenos Aires, pada 1957 dan kemudian masuk novisiat Serikat Yesus pada 11 Maret 1958. Keputusan ini sempat ditentang oleh ibunya mengingat Jorge adalah anak laki-laki tertua. Seiring berjalannya waktu, sang ibu bisa menerima keputusan tersebut dan memberi dukungan kepada Jorge untuk menjadi imam memenuhi panggilan hatinya.

Berselang 12 tahun kemudian terhitung sejak masuk seminari, ia menerima Sakramen Imamat dan ditahbiskan sebagai imam pada 13 Desember 1969 oleh Uskup Agung Ramon Jose Castellano. Kemudian, pada 1970-1971, ia melanjutkan pendidikan di Universitas Alcala de Henares, Spanyol. Pada 22 April 1973, Jorge mengikrarkan kaul kekal bersama para Yesuit.

Infografik Profil Paus Fransiskus

Tak berselang lama, pada 31 Juli 1973, Pastor Jorge diangkat sebagai Provinsial Yesuit di Argentina. Jabatan penting dalam Serikat Yesus itu juga diembannya selama enam tahun. Selanjutnya perjalanan imamat Jorge banyak diisi dengan pelayanan di bidang pendidikan. Ia pernah mengajar sastra, psikologi, filsafat, dan teologi.

Dari Spanyol, ia kembali ke Argentina. Jorge kemudian diutus menjadi guru novis di Villa Barilari, San Miguel, sebagai profesor di Fakultas Teologi San Miguel dan menjadi Rektor Colegio Maximo dari Fakultas Filsafat dan Teologi. Tugas perutusan itu dijalani selama enam tahun dari 1980 hingga 1986.

Karier gerejawinya semakin meningkat ketika Paus Yohanes Paulus II menunjuknya sebagai Uskup Auca dan Uskup Auksilier Buenos Aires pada 20 Mei 1992. Puncak kariernya di Argentina tercapai saat ia diangkat menjadi Uskup Agung Buenos Aires pada 28 Februari 1998 dan kemudian diangkat sebagai kardinal oleh Paus Yohanes Paulus II pada 21 Februari 2001.

Kerendahan hati dan kesederhanaan

Kardinal Jorge Mario Bergoglio dikenal karena kerendahan hatinya, konservatisme doktrinal, dan komitmennya terhadap keadilan sosial. Kerendahan hatinya juga tergambar dalam gaya hidupnya yang sederhana. Alih-alih tinggal di kediaman uskup yang elegan, ia memilih tinggal di sebuah apartemen kecil, naik angkutan umum, bahkan memasak makanannya sendiri.

Kerendahan hati dan kesederhanaan itu pula yang melatarbelakangi pemilihan nama Fransiskus ketika terpilih menjadi Paus pada tahun 2013. Setelah 12 tahun menjalankan karya sebagai kardinal, tak terduga Kardinal Jorge Mario Bergoglio terpilih menjadi Paus pada 13 Maret 2013, menggantikan Paus Emeritus Benediktus XVI.

Tak disangka jika Kardinal Jorge Mario Bergoglio yang terpilih menjadi Paus gereja Katolik Roma ke-266. Selain usia yang sudah 76 tahun, Kardinal Jorge juga punya catatan kesehatan karena kehilangan satu paru-paru akibat infeksi pada masa muda.

Di samping itu, berbeda dengan para kardinal lain yang dijagokan, Kardinal Jorge tidak pernah memegang jabatan apa pun di pemerintahan (kuria) Vatikan.

Paus Fransiskus

Dia hanya tercatat menjadi anggota sejumlah kongregasi dan komite, seperti Kongregasi untuk para Imam, Dewan Kepausan untuk Keluarga, dan Komite Amerika Latin. Namanya juga tidak masuk dalam papabili atau daftar kandidat unggulan untuk menjadi Paus baru pengganti Paus Emeritus Benediktus XVI.

Namun, nama Jorge Bergoglio sebenarnya sudah ada dalam benak para kardinal sejak konklaf 2005. Ia berada di urutan kedua ketika Kardinal Joseph Ratzinger (Jerman) terpilih menjadi Paus dan kemudian menjadi Paus Benediktus XVI.

Itulah misteri konklaf atau pemilihan Paus. Selain tak terduga, terpilihnya Kardinal Jorge Mario Bergoglio menjadi Paus juga tercatat memiliki banyak keunikan.

Tak sampai 48 jam, konklaf—pertemuan para kardinal untuk memilih Paus—memilih Kardinal Jorge Mario Bergoglio yang berasal dari Argentina menjadi Paus. Ia menjadi Paus pertama asal Benua Amerika dan Paus non-Eropa pertama sejak Gregorius III asal Suriah yang meninggal pada 741 (lebih dari satu milenium). Dia juga menjadi rohaniwan asal Ordo Yesuit pertama yang menjadi Paus dan untuk pertama kalinya pula seorang Paus mengambil nama Fransiskus.

Nama Fransiskus dipilih sebagai bentuk penghormatan kepada Santo Fransiskus dari Asisi, santo asal Italia, tokoh religius sangat terkemuka, dan pembaru pada abad ke-13. Fransiskus dari Asisi pendiri Ordo Fransiskan atau Ordo Saudara-saudara Dina, berlatar belakang dari keluarga saudagar dan bangsawan rela meninggalkan semua itu untuk mengabdikan diri kepada sesama demi kemanusiaan dalam kemiskinan.

Fransiskus Asisi memiliki penghayatan bahwa Allah adalah sumber yang mempersatukan seluruh ciptaan yang ada sebagai saudara dan bahwa semua ciptaan lahir dari satu sumber yang sama, yaitu Allah sendiri, sehingga semua adalah saudara.

Itulah yang menginspirasi Paus Fransiskus hingga dalam pelayanan dan pengabdiannya sejak 2013. Inspirasi ini membawa semangat pengabdian kepada sesama, solidaritas kepada kaum miskin, dan kesederhanaan. Asisi juga menjadi gambaran harmoni, rekonsiliasi, dan sikap merangkul yang sejalan dengan misi Paus Fransiskus untuk menjunjung dialog antaragama untuk perdamaian.

Cara hidupnya yang sederhana, rendah hati, membumi, tetapi tetap kukuh dalam prinsip doktrin konservatif gereja memberikan udara segar bagi kehidupan Gereja Katolik. Di bawah kepemimpinannya, Gereja Katolik dalam ”pelayanan iman” dan ”pewartaan keadilan” harus lebih konkret mewujudkan kepeduliannya terhadap mereka yang lemah, kecil, dan tersingkirkan. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi, Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul