Paus Fransiskus dan Pesan Toleransi Antarumat Manusia

Toleransi itu bagi Paus tidak hanya dengan sesama umat beragama, tetapi antara manusia secara menyeluruh dan alamnya.

21 Apr 2025 18:03 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

Pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma, Paus Fransiskus, wafat pada usia 88 tahun, Senin (21/4/2025). Semasa hidup, Paus mungkin di Indonesia paling terkenal sebagai pejuang toleransi antarumat beragama. Bahkan, kunjungan Paus ke Indonesia pada 2024 dimaknai seperti itu.

Namun, apabila menilik kembali kiprah Paus Fransiskus, ia sejatinya memperjuangkan toleransi yang lebih besar. Ia sangat memercayai toleransi antarmanusia. Bagi dia, toleransi di antara orang-orang yang berlainan agama, kepercayaan, etnisitas, kelas sosial, lingkungan hidup, dan bangsa merupakan wujud dari kasih Yang Maha Kuasa.

Pandangan ini tecermin dari Laudato Si, ensiklik atau surat edaran Paus pada 2015. Di dalam dokumen sepanjang 246 paragraf ini, Paus Fransiskus mengingatkan lagi kepedulian pada alam sekitar dan sesama.

Ia mengkritik pembangunan yang mengorbankan lingkungan dan membuat manusia kini berhadapan dengan krisis iklim. Kritik itu sebelumnya juga diutarakan oleh para pendahulunya, yaitu Paul Paulus VI, Paus Yohannes Paulus II, dan Paus Benediktus. Manusia hanya melihat alam sebatas yang bisa mereka manfaatkan dan konsumsi.

”Menghancurkan alam berarti menghancurkan ekologi manusia. Padahal, hidup manusia itu berkah,” demikian yang ditulis Paus Fransiskus di dalam Laudato Si. Manusia belum kehilangan waktu untuk secara berkelanjutan membangun rumah bersama.

Pope Francis embraces Al-Azhar's Grand Imam Ahmed al-Tayeb during Al-Azhar International peace conference at Cairo, Egypt April 28, 2017. Osservatore Romano/Handout via REUTERS ATTENTION EDITORS - THIS PICTURE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. EDITORIAL USE ONLY. NO RESALES. NO ARCHIVE.

Paus menghubungkan kerusakan alam dengan kerentanan penduduk miskin di Bumi. Banyak dari penduduk miskin ini terdampak langsung oleh krisis iklim. Sementara itu, eksploitasi alam dan manusia oleh kalangan tertentu hanya menguntungkan mereka yang kaya.

Ia turut menekankan pembangunan kota yang sehat. Kota-kota di dunia kini tumbuh dengan tidak terkendali, tetapi tidak bisa memberi kesejahteraan bagi semua. Akses kepada kehidupan yang layak adalah hal yang eksklusif.

”Kita bisa memperkirakan di masa depan ketika semua sumber daya semakin meniris, akan muncul perang-perang baru,” tulis Paus Fransiskus.

Ia mengkritik masih lemahnya tanggapan dari negara-negara secara umum. Tanggapan yang ada pun masih sangat terbatas. Beberapa negara telah mulai mempraktikkan pola pembangunan dan hidup yang baik. Sistem ini memungkinkan masyarakat hidup bermartabat, tetapi mayoritas negara mengatakan masih sulit untuk mencapai masyarakat seperti itu.

Toleransi antarumat beragama

Di tengah toleransi yang memayungi manusia dengan alam itu juga tercakup toleransi antarumat beragama. Paus Fransiskus meyakini bahwa hidayah datang kepada setiap orang dengan cara yang berbeda-beda.

”Setiap orang diciptakan berdasarkan cinta Tuhan. Ini menunjukkan tingginya derajat martabat seseorang. Ia memiliki kemampuan menimba ilmu dan berkomunikasi dengan orang lain,” kata Paus Fransiskus.

Kesungguhan Paus Fransiskus membina toleransi antarumat beragama terlihat dengan eratnya hubungan dia dengan Imam Besar Masjid Al-Azhar Kairo, Mesir, Sheikh Ahmed el-Tayeb. Pada 2019, mereka bertemu di Uni Emirat Arab untuk menandatangani Dokumen Persaudaraan Sesama Manusia. Berkat ini pula keduanya menjadi penerima perdana Penghargaan Zayed untuk Kemanusiaan.

Dokumen itu menolak segala bentuk ekstremisme dalam beragama. Persaudaraan dan kemanusiaan merangkul semua orang tanpa terkecuali dan memperlakukan semua dengan setara. Tonggak keimanan adalah keadilan dan belas kasihan.

”Kami mengimbau semua kaum intelektual, filsuf, tokoh agama, seniman, awak media, dan budayawan dari seluruh dunia untuk menemukan kembali nilai-nilai keadilan, perdamaian, kebaikan, keindahan, dan persaudaraan,” demikian bunyi salah satu paragraf di Deklarasi Persaudaraan Sesama Manusia.

Semangat ini kembali diutarakan oleh Paus Fransiskus pada November 2024 ketika menerima para pemuka agama di Vatikan. Ia mengatakan, penyebab berbagai persoalan global ialah kurangnya saling menghormati kepercayaan-kepercayaan yang berbeda.

Paus Fransiskus menuturkan, setiap orang bebas menentukan dan mempraktikkan agama serta kepercayaan masing-masing. Keimanan dan ketakwaan justru mengajar manusia untuk saling menghormati dan memperlakukan sesama bagaikan saudara.

This photo taken and handout on October 7, 2021 by the Vatican media shows (From L) Catholicos Karekin II, Catholicos of All Armenians, the supreme head of the Armenian Apostolic Church, Italian priest, Monsignor Leonardo Sapienza, Pope Francis, ecumenical patriarch Bartholomew I of Constantinople and President of the Community of Sant'Egidio, Marco Impagliazzo attending a Prayer and Meeting for Peace, promoted by the Community of SantíEgidio, presided by Pope Francis (2ndL) and with ecumenical patriarch Bartholomew I of Constantinople (L) by the Colosseum monument in Rome. (Photo by Handout / VATICAN MEDIA / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO /VATICAN MEDIA / HANDOUT " - NO MARKETING - NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

”Setiap orang beragama juga berhak menawarkan, bukan memaksakan, kepercayaannya kepada orang lain,” kata Paus Fransiskus, dikutip oleh Vatican News edisi 26 Juni 2024.

Menurut dia, setiap orang berhak memperkenalkan agama dan kepercayaannya kepada orang lain, tetapi tidak boleh memaksa orang tersebut untuk mengikutinya. Perbedaan pandangan merupakan hal yang harus dihormati.

Toleransi juga ditunjukkan oleh Paus Fransiskus dengan menyampaikan salam persaudaraan kepada pemimpin tertinggi Gereja Ortodoks Konstantinopel, Uskup Agung Bartolomeus. Kedua Gereja melakukan rekonsiliasi pada 1964 di bawah Paus Paulus VI dan Uskup Agung Konstatinopel Athenagoras. Pertemuan itu adalah kali pertama kedua Gereja bertemu sejak 1483.

Sejak diangkat pada 2013, Paus Fransiskus setiap tahun selalu bersurat kepada Gereja Ortodoks Konstantinopel. Tepatnya setiap perayaan hari Santo Andreas. Paus Fransiskus mengatakan, perayaan itu sebagai pengingat bahwa kedua Gereja bersaudara.

Demikian pula hubungannya dengan Gereja Ortodoks Rusia. Paus Fransiskus rajin berkomunikasi dengan Batrik Kiril, pemimpin tertinggi Gereja Ortodoks Rusia. Persahabatannya ini dituangkan ke dalam kritik yang membangun, yakni mengingatkan Kiril mengenai menghargai nyawa sesama manusia, termasuk di dalam konflik bersenjata.


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul