Paus Fransiskus dan Sepasang Sepatu Pantofel Hitam yang Sederhana

Sepatu hitam menjadi simbol kesederhanaan Paus Fransiskus. Pada umumnya, Paus mengenakan sepatu berwarna merah dari beludru atau sutra berhiaskan sulaman salib emas.

25 Apr 2025 12:30 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

Sepatu andalan Jorge Mario Bergoglio adalah pantofel dari kulit hitam. Setelah menjadi Paus Fransiskus, sepatu itu tetap menemani langkah kakinya. Sepatu hitam itu pun menjadi simbol kesederhanaan bagi Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Sedunia ini, lantaran Paus Fransiskus memilih menggunakannya daripada sepatu merah, lambang kemartiran dan martabat kepausan.

Pilihan itu sejatinya bukan pilihan tiba-tiba atau setelah ia terpilih menjadi Paus. Akar untuk hidup secara biasa-biasa saja, cukup dengan yang fungsional, telah ada sejak Fransiskus masih belia.

Begini ceritanya…

Di era tahun 1945, seiring berakhirnya Perang Dunia II dan beberapa tahun setelah Bergoglio lahir, sebuah keluarga memulai usaha toko sepatu di lingkungan kelas menengah Flores, Buenos Aires bagian barat, Argentina. Pemilik usaha itu adalah keluarga Muglia yang adalah tukang sepatu pertama di Flores.

Usaha tersebut berjalan lancar, apalagi kala itu tidak banyak toko sepatu lain di Flores. Suatu hari, datang seorang pemuda untuk membeli sepatu di toko milik keluarga Muglia itu. Kakek dari Juan Jose Muglia—pewaris toko sepatu itu—yang melayaninya. Pemuda itu adalah Jorge Mario Bergoglio

Bergoglio muda kala itu masih berusia 20-an tahun. Lahir dan besar di Flores, dia tengah bertugas sebagai frater jesuit di Basilika San José de Flores yang terletak di sekitar blok tersebut.

”Ayah saya, kakek saya, mereka bercerita kepada saya tentang bagaimana Frater Jorge datang dari gereja di sekitar sudut untuk membeli sepatu ini, sepatu itu adalah sepatu yang disukainya, ia memakainya sepanjang waktu,” kata Muglia (52), Kamis (24/4/2025).

Juan Jose Muglia menunjukkan model sepatu, kanan, yang secara teratur dikenakan oleh Jorge Bergoglio di toko sepatu Muglia di lingkungan Flores tempat mendiang Paus Fransiskus dibesarkan dan di mana ayah dan kakek Muglia menghadiri mantan paus di toko mereka di Buenos Aires, Argentina, Kamis, 24 April 2025.

Sepatu buatan tangan itu sederhana. Modelnya pantofel hitam bertali yang sering dipakai pelayan-pelayan saat ini. Solnya kuat dan antiselip. ”Sepatu ini bisa awet bertahun-tahun,” ujar Muglia sembari mengangkat contoh sepatu.

Ketika Muglia mewarisi toko itu setelah ayahnya meninggal, ia menambahkan poster Elvis Presley, sepeda motor Harley Davidson, dan piringan putar vinil. Rak-rak juga kini memajang model sepatu terbaru, seperti sepatu dek yang runcing dan sepatu kulit berwarna cerah. Kesan hipster terpancar dari tempat itu.

Namun, sebagian besar tokonya tetap sama dengan dinding berpanel kayu pinus. Rak sepatu menjulang sampai ke langit-langit berisi kotak-kotak sepatu berwarna krem ​​dan, tentu saja, sepatu pantofel kulit hitam seperti yang dibeli berulang kali oleh Bergoglio.

Jadi inspirasi

Ketika Bergoglio menjadi Paus Fransiskus pada 2013, dunia menyoroti sepatunya. Alih-alih memakai sepatu khas kepausan, dia tetap memakai sepatu hitam dari Flores.

Sepatu kepausan adalah sepatu berwarna merah dari beludru atau sutra berhiaskan sulaman salib emas. Di era Bizantium, peziarah biasanya mencium salib tersebut. Sepatu khas ini masih dipakai di era Paus Benediktus, sebelum Paus Fransiskus menjabat.

Keputusan Paus Fransiskus telah menunjukkan deviasi awal dari tradisi Gereja Katolik. Tak hanya menolak sepatu kepausan, beliau juga memilih memakai jubah putih sederhana ketimbang jubah beludru serta mobil Ford Focus atau Fiat seri terendah daripada limosin. Dunia tergugah dengan pilihannya yang sederhana.

Antonio Arellano berdiri di samping tiruan sepasang sepatu yang dia buat untuk Paus Benediktus XVI, di toko pembuat sepatunya, di Roma, Senin, 18 Maret 2013.

Muglia pernah menawarkan untuk mengirim sepatu baru bagi Paus Fransiskus ke Basilika Santo Petrus, Vatikan. Namun, kaki Bapa Suci sudah membengkak karena usia tua. Alhasil, beliau mencari alas kaki yang lebih pas dengan sol ortopedi di Roma, Italia. Langkah Bapa Suci menjadi inspirasi para imam Katolik di Bueno Aires.

”Para pastor datang ke sini dari semua basilika di kota ini, beberapa pastor muda bahkan datang dari Roma untuk membelinya,” tutur Muglia.

Harga sepatu hitam khas Paus Fransiskus sekarang sekitar 170 dollar AS atau Rp 2,9 juta. Maklum, inflasi di Argentina tidak terkendali.

Seiring waktu, selain beberapa pendeta atau umat paroki sekitar, hanya sedikit orang yang bertanya-tentang alas kaki milik Paus Fransiskus di Muglia Shoes. Namun, situasi berubah setelah Paus Fransiskus wafat di Vatikan, Senin (21/4/2025). Wartawan lokal datang meliput, sedangkan pelanggan yang penasaran membombardir dengan pesanan.

”Ini semua orang dari seluruh dunia. Mereka datang dari mana-mana,” ujar Muglia yang telah menaruh potret Paus Fransiskus di jendela tokonya.

Sangat berduka

Kisah sepatu itu sedemikian lekat sehingga di Flores, dukacita atas kepergian Paus Fransiskus terasa personal. Warga mengenangnya sebagai sosok hemat yang rajin mengunjungi dan mengadvokasi orang-orang termiskin di kota itu. Saat bersantai, Bergoglio suka minum yerba maté, minuman khas Argentina, bersama teman lama, bahkan orang asing.

Antonio Plastina (69), pemilik kios koran di ujung blok dari Muglia Shoes, teringat bagaimana dia dan Bergoglio berbincang-bincang seperti dua orang Argentina pada umumnya. Mereka membahas topik apa saja, termasuk politik bercampur sepak bola.

”Ia orang yang luar biasa, itu kenangan yang indah,” kata Plastina, matanya berkaca-kaca.

Seorang bapak mencium sepatu Paus Fransiskus, sesaat sebelum meninggalkan Indonesia, 6 September 2024.

Plastina mengenang, setelah menjadi uskup agung dan kardinal, Bergoglio masih menempuh perjalanan setengah jam dari pusat kota Buenos Aires ke Flores setiap hari Minggu, sebelum pergi ke gereja. Dia selalu membeli dua surat kabar lalu membaca berita dengan secangkir kopi di kafe seberang jalan, yang sekarang menjadi toko kasur.

Tidak mengherankan bila massa pun sempat membanjiri Flores setelah kabar Paus Fransiskus meninggal tersiar. Walau keramaian sudah berkurang, Kamis (24/4/2025), mereka meninggalkan banyak karangan bunga dan surat untuk Bapa Suci di jendela berjeruji besi di Membrillar 531. Ini adalah rumah sederhana tempat Paus Fransiskus tumbuh sebagai anak tertua dari lima bersaudara.

”Penglihatan saya kabur, tetapi ingatan saya panjang. Saya akan mengingatnya untuk waktu yang lama, kebaikannya, senyumnya, dan sapaannya, ketika Anda membunyikan bel pintu dan dia keluar ke jalan,” ujar Alicia Gigante (91), tetangga dan sahabat keluarga Paus Fransiskus.

Suara Gigante bergetar lanjut bercerita. ”Dia ada di sana, selalu sama, dia akan membelai dan memberkati Anda,” tuturnya. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase