VATIKAN, SENIN — Dengan mengenakan selang oksigen di hidung, Paus Fransiskus (88) kembali menyapa umat di Lapangan Santo Petrus, Vatikan. Paus gembira dapat kembali melanjutkan pelayanan selepas dirawat di Rumah Sakit Gemelli karena komplikasi di paru.
Tidak ada agenda Paus ke Lapangan Santo Petrus pada Minggu (6/4/2025). Meski demikian, Paus terlihat di lapangan itu di ujung Misa Yubileum Orang Sakit dan Pekerja Kesehatan.
”Selamat hari Minggu, terima kasih,” kata Paus dengan suara perlahan, sebagaimana dilaporkan Vatican News. Sapaan singkat itu seketika dibalas umat dengan teriakan ”Viva il Papa” atau Hidup Paus.
Umat gembira karena sapaan itu merupakan penampilan perdana Paus setelah keluar dari rumah sakit pada 23 Maret 2025. Paus dirawat di RS Gemelli sejak 14 Februari 2025 karena komplikasi di paru dan sejumlah organ lain.
Pada Jumat (4/4), Vatikan mengumumkan kondisi Paus terus membaik. Meski demikian, Paus belum diagendakan tampil di hadapan umum. ”Saya terkejut dan bahagia melihat Bapa Suci hadir. Sepengetahuan saya, beliau masih beristirahat,” kata Dora Moncada, dokter yang ikut misa di Lapangan Santo Petrus.
Ukuran sejati kemanusiaan ditentukan dari hubungan dengan yang menderita.
Seorang sumber di Vatikan menyebut, kehadiran Paus di acara itu menunjukkan kondisinya membaik. ”Beliau semakin pulih dan ingin agar umat mengetahuinya,” kata sumber yang menolak identitasnya diungkap itu.
Sejatinya, tim medis masih meminta Paus beristirahat total selama dua bulan di kediaman di Casa Santa Marta di Vatikan. Demi pemulihan kesehatan, Vatikan sudah mengganti jadwal kegiatan Paus. Sejumlah lawatan pihak lain dibatalkan karena pertimbangan kesehatan Paus.
Di sisi lain, Vatikan belum bisa memastikan apakah Paus bisa memimpin misa Paskah pada 20 April 2025. Paus juga belum bisa memimpin misa rutin.
Dalam kondisi normal, biasanya Paus Fransiskus memimpin doa tengah hari di lapangan Santo Petrus tiap Minggu. Terakhir kali Paus memimpin doa tengah hari adalah pada 9 Februari 2025, sebelum dirawat di rumah sakit.
Sejak Paus dirawat, pesan dan doa yang disusun Paus dibacakan oleh kardinal lain. Hal itu masih dilakukan sampai akhir pekan ini.
Khotbah Yubileum Orang Sakit dan Pekerja Kesehatan dibacakan Uskup Agung Rino Fisichella. ”Ranjang rumah sakit dapat menjadi tempat suci, di mana amal mengalahkan perbedaan dan rasa terima kasih memekarkan harapan,” tulis Paus.
Sakit, lanjut Paus, bisa membuat orang merasa terasing. Di sisi lain, sakit juga bisa menjadi kesempatan belajar lagi soal kasih dengan kerendahan hati serta syukur.
Paus menyinggung pengalamannya dirawat di rumah sakit. Selama dirawat, Paus harus bergantung pada orang lain.
Alih-alih hanya merasa menjadi beban, Paus menganggapnya sebagai pelajaran tentang kepercayaan, terima kasih, dan harapan. ”Jangan menolak. Izinkan diri kita dicintai,” tulis Paus.
Dalam khotbah itu, Paus berterima kasih kepada pekerja kesehatan. Paus mendorong mereka terus melayani setiap pasien sebagai cara terus memperbarui rasa kemanusiaan. ”Ukuran sejati kemanusiaan ditentukan dari hubungan dengan yang menderita,” ujarnya.
Komunitas yang mengabaikan orang lemah akan menjadi kejam dan tidak manusiawi. Paus mengajak umat menolak godaan mengabaikan orang tua, sakit, atau yang sedang mengalami cobaan berat. ”Hilangkan penderitaan dari sekeliling kita,” katanya.
Konflik
Paus secara tertulis menyampaikan doa perdamaian bagi konflik di berbagai daerah. Bahkan, Paus secara khusus menyinggung perang di Gaza, Ukraina, Sudan, Sudan Selatan, Kongo, Haiti, dan Myanmar.
Paus meminta perang Gaza dihentikan dan perundingan segera dilanjutkan lagi. Gaza menjadi tempat orang hidup dalam kondisi tak terperi. ”Tanpa tempat berlindung, tanpa makanan, tanpa air minum,” tulisnya dalam Doa Malaikat.
Paus meminta pembebasan sandera dan tawanan. Paus juga mengimbau agar senjata berhenti bersuara. ”Mari berdoa bagi perdamaian di seluruh Timur Tengah, Sudan dan Sudan Selatan, Republik Demokratik Kongo, dan di Burma (Myanmar) yang dihantam keras oleh gempa,” tulis Paus
Soal perang Ukraina, Paus juga mengajak berdoa. Ukraina sedang tersiksa oleh serangan yang telah menewaskan banyak orang, termasuk anak-anak.
Pekan lalu, Menteri Luar Negeri Vatikan Paul Richard Gallagher menelepon Menlu Rusia Sergei Lavrov. Dalam telepon itu, Uskup Gallagher kembali menyampaikan dukungan Paus kepada bina damai. (AFP/REUTERS)
VATIKAN, SENIN — Dengan mengenakan selang oksigen di hidung, Paus Fransiskus (88) kembali menyapa umat di Lapangan Santo Petrus, Vatikan. Paus gembira dapat kembali melanjutkan pelayanan selepas dirawat di Rumah Sakit Gemelli karena komplikasi di paru.
Tidak ada agenda Paus ke Lapangan Santo Petrus pada Minggu (6/4/2025). Meski demikian, Paus terlihat di lapangan itu di ujung Misa Yubileum Orang Sakit dan Pekerja Kesehatan.
”Selamat hari Minggu, terima kasih,” kata Paus dengan suara perlahan, sebagaimana dilaporkan Vatican News. Sapaan singkat itu seketika dibalas umat dengan teriakan ”Viva il Papa” atau Hidup Paus.
Serial Artikel
Paus Fransiskus Menyapa dari Balkon Rumah Sakit
Penampilan pertama Paus Fransiskus setelah dirawat di rumah sakit sejak 14 Februari 2025.
Umat gembira karena sapaan itu merupakan penampilan perdana Paus setelah keluar dari rumah sakit pada 23 Maret 2025. Paus dirawat di RS Gemelli sejak 14 Februari 2025 karena komplikasi di paru dan sejumlah organ lain.
Pada Jumat (4/4), Vatikan mengumumkan kondisi Paus terus membaik. Meski demikian, Paus belum diagendakan tampil di hadapan umum. ”Saya terkejut dan bahagia melihat Bapa Suci hadir. Sepengetahuan saya, beliau masih beristirahat,” kata Dora Moncada, dokter yang ikut misa di Lapangan Santo Petrus.
Ukuran sejati kemanusiaan ditentukan dari hubungan dengan yang menderita.
Seorang sumber di Vatikan menyebut, kehadiran Paus di acara itu menunjukkan kondisinya membaik. ”Beliau semakin pulih dan ingin agar umat mengetahuinya,” kata sumber yang menolak identitasnya diungkap itu.
Sejatinya, tim medis masih meminta Paus beristirahat total selama dua bulan di kediaman di Casa Santa Marta di Vatikan. Demi pemulihan kesehatan, Vatikan sudah mengganti jadwal kegiatan Paus. Sejumlah lawatan pihak lain dibatalkan karena pertimbangan kesehatan Paus.
Di sisi lain, Vatikan belum bisa memastikan apakah Paus bisa memimpin misa Paskah pada 20 April 2025. Paus juga belum bisa memimpin misa rutin.
Dalam kondisi normal, biasanya Paus Fransiskus memimpin doa tengah hari di lapangan Santo Petrus tiap Minggu. Terakhir kali Paus memimpin doa tengah hari adalah pada 9 Februari 2025, sebelum dirawat di rumah sakit.
Serial Artikel
Paus Fransiskus Masih Kritis, Bagaimana Mekanisme Kepemimpinan di Vatikan?
Saat ini Paus Fransiskus sudah mendelegasikan tugas harian dalam menjalankan roda pemerintahan di Vatikan dan gereja.
Sejak Paus dirawat, pesan dan doa yang disusun Paus dibacakan oleh kardinal lain. Hal itu masih dilakukan sampai akhir pekan ini.
Khotbah Yubileum Orang Sakit dan Pekerja Kesehatan dibacakan Uskup Agung Rino Fisichella. ”Ranjang rumah sakit dapat menjadi tempat suci, di mana amal mengalahkan perbedaan dan rasa terima kasih memekarkan harapan,” tulis Paus.
Sakit, lanjut Paus, bisa membuat orang merasa terasing. Di sisi lain, sakit juga bisa menjadi kesempatan belajar lagi soal kasih dengan kerendahan hati serta syukur.
Paus menyinggung pengalamannya dirawat di rumah sakit. Selama dirawat, Paus harus bergantung pada orang lain.
Alih-alih hanya merasa menjadi beban, Paus menganggapnya sebagai pelajaran tentang kepercayaan, terima kasih, dan harapan. ”Jangan menolak. Izinkan diri kita dicintai,” tulis Paus.
Dalam khotbah itu, Paus berterima kasih kepada pekerja kesehatan. Paus mendorong mereka terus melayani setiap pasien sebagai cara terus memperbarui rasa kemanusiaan. ”Ukuran sejati kemanusiaan ditentukan dari hubungan dengan yang menderita,” ujarnya.
Komunitas yang mengabaikan orang lemah akan menjadi kejam dan tidak manusiawi. Paus mengajak umat menolak godaan mengabaikan orang tua, sakit, atau yang sedang mengalami cobaan berat. ”Hilangkan penderitaan dari sekeliling kita,” katanya.
Serial Artikel
Paus Fransiskus Kritis, Vatikan Bantah Pengunduran Diri
Paus Fransiskus dalam kondisi kritis setelah harus menerima transfusi darah dan memakai alat bantu pernapasan.
Paus secara tertulis menyampaikan doa perdamaian bagi konflik di berbagai daerah. Bahkan, Paus secara khusus menyinggung perang di Gaza, Ukraina, Sudan, Sudan Selatan, Kongo, Haiti, dan Myanmar.
Paus meminta perang Gaza dihentikan dan perundingan segera dilanjutkan lagi. Gaza menjadi tempat orang hidup dalam kondisi tak terperi. ”Tanpa tempat berlindung, tanpa makanan, tanpa air minum,” tulisnya dalam Doa Malaikat.
Paus meminta pembebasan sandera dan tawanan. Paus juga mengimbau agar senjata berhenti bersuara. ”Mari berdoa bagi perdamaian di seluruh Timur Tengah, Sudan dan Sudan Selatan, Republik Demokratik Kongo, dan di Burma (Myanmar) yang dihantam keras oleh gempa,” tulis Paus
Soal perang Ukraina, Paus juga mengajak berdoa. Ukraina sedang tersiksa oleh serangan yang telah menewaskan banyak orang, termasuk anak-anak.
Pekan lalu, Menteri Luar Negeri Vatikan Paul Richard Gallagher menelepon Menlu Rusia Sergei Lavrov. Dalam telepon itu, Uskup Gallagher kembali menyampaikan dukungan Paus kepada bina damai. (AFP/REUTERS)