Paus Fransiskus Serukan Budaya Damai

Paus Fransiskus menjadikan Paskah sebagai pengingat pentingnya perdamaian. Perang dan keserakahan harus dihentikan.

21 Apr 2025 06:36 WIB · Internasional

Oleh Bonifasius Josie Susilo H, Pradipta Pandu Mustika

VATIKAN, MINGGU-Pada hari Paskah, Paus Fransiskus kembali menyerukan perdamaian di Timur Tengah, khususnya di Gaza. Selain dengan beribadah, umat Kristiani, termasuk di Indonesia, juga merayakan hari suci ini dengan aneka cara.

Vatikan, Minggu Meski belum sepenuhnya pulih dari serangan pneumonia ganda, Paus Fransiskus menyapa ribuan umat yang memadati Lapangan Santo Petrus, Vatikan, seusai Misa Paskah, Minggu (20/4/2025).

”Selamat Paskah,” sapa Paus dengan suara lemah dari balkon Basilika Santo Petrus, Vatikan. Sembari tetap duduk di kursi roda, Paus melambaikan tangan ke arah umat di Alun-alun Santo Petrus. Dengan serempak, umat menyambut sapaan itu dengan tepuk tangan meriah.

Seminggu sebelumnya, Paus juga menemui umat seusai misa Minggu Palma di Lapangan Santo Petrus, Minggu (13/4). ”Selamat Hari Minggu Palma, selamat Minggu Suci,” kata Paus Fransiskus saat itu dari kursi rodanya.

Biasanya, seusai menyapa umat, Paus menyampaikan pidato singkat. Namun, karena kondisi kesehatannya, Paus, yang dirawat 38 hari di rumah sakit sejak 14 Februari 2025 itu, pada Minggu Paskah kemarin menyerahkan tugas tersebut kepada Uskup Agung Diego Ravelli, Kepala Liturgi Kepausan.

Quote

Keserakahan seperti ini dapat dengan mudah mengubah watak pribadi dan akan menghancurkan bukan hanya kehidupan pribadi, melainkan juga kehidupan bersama

Seusai Mgr Ravelli membacakan pesan, Paus memberikan berkat untuk Kota dan Dunia, Urbi et Orbi. Selanjutnya, dengan menggunakan kendaraan terbuka, Paus Fransiskus mengelilingi Alun-alun Santo Petrus untuk menyapa umat.

Pesan perdamaian

Dalam pesan yang dibacarakan Mgr Ravelli, Paus kembali menyerukan perdamaian di Timur Tengah, khususnya Gaza. ”Saya mohon sekali lagi, untuk segera diwujudkan gencatan senjata di Jalur Gaza, pembebasan sandera dan akses terhadap bantuan kemanusiaan,” kata Paus dalam pesannya.

Paus juga mendorong masyarakat internasional untuk memberi bantuan bagi mereka yang kelaparan dan mendambakan perdamaian.

Selain Gaza, Paus juga memberi perhatian kepada Suriah, krisis kemanusiaan di Yaman, Ukraina, Sudan, Kongo, Balkan, hingga Myanmar.

Untuk beragam konflik di beragam belahan dunia itu, Paus mendorong digelarnya dialog konstruktif. ”Cahaya Paskah mendorong kita untuk meruntuhkan penghalang yang memisahkan kita,” ujar Paus. Penghalang itu tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga politik, ekonomi, dan spiritual.

Dalam pesannya, Paus juga memberi perhatian pada peran pemimpin politik atau mereka yang memegang tanggung jawab politik agar tidak menyerah pada logika ketakutan. Paus mendorong para pemimpin menggunakan sumber daya yang ada demi membantu mereka yang membutuhkan, memerangi kelaparan, dan mendorong inisiatif yang mempromosikan pembangunan.

Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo saat memberikan homili atau khotbah Misa Hari Raya Paskah Pontifikal di Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga, Katedral, Jakarta, Minggu (20/4/2025).

Hal serupa disampaikan Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo saat Misa Hari Raya Paskah Pontifikal di Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga, Katedral, Jakarta, Minggu (20/4).

Dalam khotbahnya, Kardinal Suharyo menyinggung berbagai persoalan bangsa dan negara. Masalah itu mulai dari tindak pidana perdagangan orang, kerusakan lingkungan penyebab berbagai bencana, judi online, hingga kekerasan fisik dan mental.

Kardinal Suharyo juga menyoroti korupsi yang masih banyak terjadi di Indonesia. ”Korupsi adalah skandal publik yang berat. Tidak sulit disimpulkan bahwa hulu dan hilir dari semua tindakan seperti itu adalah keserakahan. Keserakahan seperti ini dapat dengan mudah mengubah watak pribadi dan akan menghancurkan bukan hanya kehidupan pribadi, melainkan juga kehidupan bersama,” ujarnya.

Menjelang akhir khotbahnya, Kardinal juga berpesan agar umat Katolik semakin menghormati manusia, ikut mengusahakan kebaikan bersama, serta merawat dan mengembangkan semangat solidaritas.

”Kita juga perlu memberikan perhatian lebih kepada saudara-saudara kita yang kurang beruntung dan ikut bertanggung jawab menjaga kelestarian alam,” ucapnya. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Bonifasius Josie Susilo H, Pradipta Pandu Mustika
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari