Paus Fransiskus, Seruan Tak Henti Soal Krisis Iklim

Paus Fransiskus dikenal sebagai pemimpin umat yang kritis pada isu-isu terkait darurat iklim dan mengajak komunitas internasional mengatasinya.

22 Apr 2025 07:00 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan

Perusakan lingkungan adalah ”pelanggaran terhadap Tuhan” dan ”dosa struktural” yang membahayakan semua orang.

Demikian dinyatakan Paus Fransiskus secara tegas dalam konferensi global tentang isu lingkungan pada 15-17 Mei 2024 di Vatikan. Konferensi digelar berangkat dari krisis iklim yang terus-menerus menggerus Bumi. Pemanasan global diperkirakan akan melampaui 1,5 derajat celsius pada awal 2030 dan membuat krisis menjadi lebih buruk.

Hal ini menjadi salah satu keprihatinan mendalam pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma itu. Selain menerbitkan ensiklik Laudato Si, Paus Fransiskus melalui Akademi Ilmu Pengetahuan Kepausan (PAS) membentuk inisiatif baru tentang Ketahanan Iklim pada 2022.

Inisiatif itu diikuti dengan konferensi global tentang isu lingkungan pada 2024. Konferensi ini mempertemukan para wali kota, gubernur, dan para ahli. Dalam inisiatif itu terungkap perlunya semua pihak mulai membangun ketahanan iklim. Dengan demikian, orang-orang dapat mengurangi kurva emisi dan bangkit kembali dari krisis iklim dengan lebih aman, lebih sehat, lebih sejahtera menuju dunia yang berkelanjutan.

Merujuk laporan Vatican News, Mei 2024, dalam pidatonya di konferensi, Paus menyesalkan data terkait perubahan iklim yang terus memburuk. Ia menyerukan tindakan segera ”untuk melindungi manusia dan alam.”

Menurut Paus, negara-negara berkembang menderita karena dampak perubahan iklim secara langsung. Dalam konferensi, Paus Fransiskus juga bertanya kepada para pemimpin politik dari sejumlah negara, ”Apakah kita bekerja untuk budaya kehidupan atau budaya kematian?”

Seorang anak menyalami Paus Fransiskus saat berkunjung ke Kantor Konferensi Waligereja Indonesia, Jakarta, Kamis (5/9/2024). Paus Fransiskus bertemu dengan para penerima manfaat dari organisasi amal. INDONESIA PAPAL VISIT COMMITTEE/ADRYAN YOGA PARAMADWYA 05-09-2024

Paus menyatakan, ”Negara-negara yang lebih kaya, sekitar 1 miliar orang, menghasilkan lebih dari setengah polutan yang memerangkap panas. Sebaliknya, 3 miliar orang miskin berkontribusi kurang dari 10 persen, tetapi mereka menderita 75 persen dari kerusakan yang diakibatkannya.”

Isu krisis iklim ini, menurut Paus, menghadirkan tantangan sistemik yang berbeda, tetapi saling terkait. Tantangan itu mulai dari perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, kerusakan lingkungan, kesenjangan global, kurangnya ketahanan pangan, dan ancaman terhadap martabat masyarakat yang terkena dampaknya.

Setiap masalah harus ditangani dengan segera dan kolektif untuk melindungi orang miskin di dunia, terutama perempuan dan anak-anak. Mereka inilah yang paling banyak menanggung beban yang tidak proporsional.

Paus Fransiskus menyerukan pendekatan universal dan tindakan tegas untuk membawa perubahan arah politik. Paus juga menyoroti perlunya mengurangi separuh laju pemanasan selama 25 tahun ke depan. Ia mendesak para pembuat kebijakan untuk memanfaatkan kekuatan regeneratif alam guna menghilangkan sejumlah besar karbon dioksida dari atmosfer.

Intervensi Paus Fransiskus pada isu lingkungan, menurut Celia Deanne-Drummond, Direktur Institut Penelitian Laudato Si pada Universitas Oxford, sangat jelas.

Merujuk laporan The Conversation, seusai pertemuan puncak iklim PBB, COP21, di Paris, Perancis, Paus Fransiskus menunjukkan bagaimana sebagian besar negara gagal menerapkan perjanjian Paris. Perjanjian itu menyerukan pembatasan kenaikan suhu global pada abad ini di bawah 2 derajat celsius.

Paus Fransiskus mengenakan hiasan kepala adat selama pertemuan dengan komunitas adat, termasuk Bangsa Pertama, Metis, dan Inuit, di Gereja Katolik Our Lady of Seven Sorrows di Maskwacis, dekat Edmonton, Kanada, Senin, 25 Juli 2022.

Paus Fransiskus menyoroti kurangnya pemantauan terhadap komitmen tersebut dan kelesuan politik. Ia lantas berusaha sebaik mungkin untuk menggunakan posisinya yang menonjol guna meminta pertanggungjawaban para penguasa dunia.

Intervensi Paus Fransiskus kemudian terlihat pada pertemuan puncak iklim PBB, COP28. Pertemuan itu menandai pertama kalinya hampir 200 negara sepakat untuk beralih dari bahan bakar fosil.

Inisiatif Paus Fransiskus berpotensi membantu menggeser situasi sedikit ke arah yang diinginkan. ”Penekanan (Paus Fransiskus) pada mendengarkan masyarakat pribumi mungkin telah memengaruhi pertemuan ini,” tulis Celia.

Paus Fransiskus di sini menganjurkan para pembela lingkungan pribumi untuk bertindak. Meski ada 196 pembela lingkungan terbunuh di seluruh dunia pada tahun 2023, Paus Fransiskus terus mengadvokasi atas nama orang-orang yang paling terpinggirkan serta lingkungan.

Langkah Paus Fransiskus dengan menerbitkan Laudato Si, menurut Deanne-Drummond, menginspirasi aktivis untuk bertindak. Dalam skala yang lebih besar, Laudato Si’ memunculkan gerakan yang mengoordinasikan aksi iklim di seluruh dunia. Gerakan ini memiliki 900 organisasi Katolik serta 10.000 orang yang dikenal sebagai ”animator” Laudato Si’. Semuanya merupakan duta besar dan pemimpin di komunitas masing-masing.

Meninggalnya Paus Fransiskus pada Senin (21/4/2025) menjadikan dunia kehilangan salah satu pemimpin yang memandu gerakan mengatasi krisis iklim global. Meski begitu, Deanne-Drummond tetap menaruh harapan setiap negara akan membangun warisan Paus Fransiskus terkait isu lingkungan dan memengaruhi perubahan politik untuk kebaikan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul