Paus mengingatkan, dunia bukan sedang dalam era perubahan, melainkan di masa berubahnya suatu era. Menjaga komunikasi dan diplomasi menjadi kunci perdamaian dunia.
10 Jan 2026 10:00 WIB · Internasional
AFP
VATIKAN, SABTU — Paus Leo mengingatkan pentingnya menjaga multilateralisme sebagai tempat bertemunya gagasan dan dialog antarbangsa. Paus menggunakan situasi abad ke-5 zaman Santo Agustinus berkarya sebagai perumpamaan karena banyak kemiripan dengan situasi dunia saat ini.
Pidato disampaikan Paus kepada para diplomat berbagai negara untuk Takhta Suci Vatikan, Jumat (9/1/2026). Duta Besar RI untuk Vatikan Michael Trias Kuncahyono ikut dalam kegiatan itu.
Inti kegiatan adalah pidato kenegaraan Paus. Selain sebagai Pemimpin Tertinggi umat Katolik Roma, Paus sekaligus menjadi Kepala Negara Vatikan serta Uskup Roma.
Dalam pidato itu, Paus juga mengecam penggunaan militer dalam hubungan internasional akibat kebuntuan dialog dan komunikasi. Paus mengingatkan, manusia kini berada di masa migrasi yang terjadi semakin luas.
Ada perubahan geopolitik dan kekuatan besar, serta paradigma budaya. Dunia saat ini berada bukan pada era perubahan. Dunia berada di momentum berubahnya suatu era.
Melemahnya multilateralisme perlu menjadi kepedulian di tatanan internasional. Model diplomasi yang mengedepankan dialog untuk mufakat sedang digantikan oleh diplomasi dengan kekuatan senjata oleh para individu atau persekutuan militer. Nafsu berperang sedang kembali ke dunia.
”Multilateralisme mengambil model Forum Roma atau alun-alun Abad Pertengahan. Di sana terjadi dialog dan diperlukan kesepakatan terhadap konsep dan perkataan yang digunakan,” kata Paus.
Paus mengingatkan pentingnya menjaga komunikasi dan diplomasi demi menghindari keadaan dua orang yang saling bersama, tetapi tidak memahami bahasa dan pemikiran masing-masing. Paus merujuk pada kisah yang disampaikan Santo Agustinus soal berkomunikasi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/10/6906e597edc43854e1818d4533fceba5-wires_photo_2026_01_10T091649.819.jpg)
Kebuntuan komunikasi sesama manusia, ujar Paus, membuat situasi tragis ketika seseorang lebih mudah bergaul dan berinteraksi dengan seekor anjing daripada dengan sesamanya.
Hari ini, perkataan yang disampaikan menjadi lebih cair dan ambigu dalam hubungan sesama manusia. Bahkan, bahasa dan komunikasi digunakan menjadi senjata untuk mengelabui, menghantam, atau menyalahkan lawan.
Paus mengingatkan, sangat penting berkomunikasi yang jelas dan tegas sehingga dialog sejati terjadi tanpa menimbulkan kesalahpahaman.
Hal itu diperlukan dalam komunikasi di rumah, ruang publik, politik, media, dan media sosial. Komunikasi seperti itu, tegas Paus, juga harus terjadi dalam hubungan internasional dan multilateralisme.
Dengan komunikasi yang jernih, multilateralisme memiliki kekuatan sehingga dapat berperang dalam menghadapi dinamika internasional dan menjadi penengah dalam perbedaan.
Paus Leo melanjutkan, dengan diplomasi melalui komunikasi yang baik dan jernih, konflik dapat dihindarkan dan pihak-pihak yang ingin menguasai pihak lain secara verbal ataupun dengan kekuatan militer mampu dicegah.
Dia mengingatkan paradoks yang terjadi ketika kebebasan berekspresi, terutama di Barat, justru menyusut. Gaya diplomasi Orwellian (George Orwell) semakin berkembang, yakni cara-cara infklusif, mengesampingkan pihak yang tidak sepaham dan tidak satu ideologi.
Kondisi tersebut, Paus mengingatkan, berdampak pada pembatasan hak asasi yang diawali dari kebebasan berpikir dan bersikap.
Hak tersebut memberikan seseorang kewenangan untuk tidak terlibat dalam tugas berperang atas nama antikekerasan, ataupun seorang tenaga medis menolak terlibat dalam praktik aborsi atau eutanasia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/10/9c66dee391b9a8f91ef0466f2ba798fb-wires_photo_2026_01_10T091732.594.jpg)
KBRI Takhta Suci dalam rilis media menyoroti bagian pidato Paus soal konflik bersenjata, konflik politik, ketidakadilan, terosisme, dan ketidakbebasan beragama di berbagai negara. Paus memprakarsai gaya pemerintahan baru yang mengutamakan kolegialitas serta menyerukan diakhirinya konflik. Kini, dunia menyaksikan perang di Ukraina, Timur Tengah, Afrika, Asia (Myanmar), dan di kawasan Karibia dengan secara khusus menyebut Venezuela.
Paus berkata, meningkatnya ketegangan di Laut Karibia dan sepanjang Pantai Pasifik Amerika sangat memprihatinkan. ”Saya mengulangi permohonan mendesak saya bahwa solusi politik yang damai untuk situasi saat ini agar diupayakan, dengan tetap memperhatikan kepentingan bersama seluruh rakyat dan bukan pembelaan kepentingan partisan,” tutur Paus.
Secara khusus, Paus bicara perkembangan terkini soal situasi Venezuela. ”Saya kembali menyerukan untuk menghormati kehendak rakyat Venezuela dan melindugi hak asasi manusia dan hak sipil semua orang serta memastikan masa depan yang stabil dan harmonis,” kata Paus.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/06/dc6fb3e2-7bbf-43ea-a196-2ba030df5db2.jpg)
Dalam pidato yang digelar pagi hari di tengah gerimis musim dingin sejak Minggu malam, Paus Leo XIV yang pernah mengunjungi Jakarta dan Papua ketika menjadi pemimpin Tarekat Agustinus itu menyinggung situasi di Asia Timur. ”Kita tidak boleh mengabaikan tanda-tanda meningkatnya ketegangan di Asia Timur”.
Paus Leo XIV berharap semua pihak yang terlibat dapat mengadopsi pendekatan damai dan berbasis dialog terhadap isu kontroversial yang berpotensi menjadi sumber konflik.
Ketegangan di Asia Timur tinggi, terutama didorong oleh meningkatnya sengketa teritorial, khususnya atas Taiwan, Laut China Selatan. Juga antara Thailand dan Kamboja.
Titik rawan lainnya adalah program nuklir Korea Utara, klaim maritim yang melibatkan banyak pihak, dan persaingan strategis yang melibatkan AS sehingga menciptakan masalah keamanan yang kompleks.
Paus Leo XIV juga secara khusus menyebut Myanmar dalam pidatonya. ”Pikiran saya khusus tertuju pada krisis kemanusiaan dan keamananan yang parah yang melanda Myanmar,” katanya. (AP/AFP)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra