Paus Leo Serukan Penghentian Pandemi Senjata Api

Hukum jangan berpihak kepada pemakaian senjata api. Terlalu banyak anak dan orang tak bersalah menjadi korban timah panas.

01 Sep 2025 06:00 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

VATIKAN, MINGGU — Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Roma Paus Leo XIV mengimbau penghentian pandemi senjata api. Ia mengatakannya seusai memanjatkan doa untuk para korban penembakan massal, termasuk anak-anak, di Amerika Serikat.

”Mari kita doakan anak-anak yang tewas ditembak di misa di Minneapolis, AS. Mari kita doakan juga anak-anak tak berdosa yang meregang nyawa di ujung laras senjata di seluruh dunia,” kata Paus Leo ketika memimpin misa di Alun-alun Santo Petrus, Vatikan, Minggu (31/8/2025).

Paus Leo mengatakan, dirinya tidak memahami logika senjata api. Ia menolak pemakaian senjata api sebagai pemicu dan penyebab berlarutnya konflik di sejumlah negara di dunia. Oleh sebab itu, ia mengajak agar semua orang berdoa dan memohon kepada Tuhan menghentikan pandemi senjata api yang menginfeksi Bumi.

Di dalam misa itu, Paus Leo juga berbicara mengenai perang Ukraina. Ia mengingatkan pentingnya Ukraina dan Rusia sama-sama meletakkan senjata dan memulai dialog damai. ”Janganlah kita menggunakan logika senjata. Kedepankan logika perdamaian yang mendukung masyarakat dunia,” ujarnya.

A giant screen broadcasts Pope Leo XIV's Sunday Angelus prayer in St.Peter's square at the Vatican on August 31, 2025. (Photo by Alberto PIZZOLI / AFP)

Langkah Paus Leo mengikuti pendahulunya, almarhum Paus Fransiskus. Paus Fransiskus mengampanyekan pelucutan senjata maupun industrinya. Ia mengatakan, industri senjata adalah industri kematian.

”Kita semua tahu alasan senjata pembunuh diperjualbelikan, semua demi uang. Uang yang bersimbah darah orang tak bersalah. Sungguh memalukan jika kita tidak menghentikannya,” kata Paus Fransiskus ketika berpidato di hadapan Kongres AS pada 2015.

Penembakan di AS

Paus Leo memimpin misa dengan berbahasa Inggris, pertama kalinya di Vatikan. Ia berasal dari Chicago, Negara Bagian Illinois, AS. Sejak awal mengabdi kepada Gereja Katolik, Paus Leo sudah sangat vokal menentang pemakaian senjata api.

Pada Rabu (27/8/2025), Gereja Katolik Roma Anunsiasi di kota Minneapolis, Minnesota, menyelenggarakan misa pagi guna menyambut tahun ajaran baru. Ratusan murid dari Sekolah Katolik Anunsiasi menghadiri misa itu.

Ketika misa berjalan, seorang laki-laki yang berdiri di trotoar luar gereja melepas tembakan ke jendela. Ia melepas 116 ronde peluru dari senjata otomatis. Sebanyak 20 orang terluka. Dua anak, Fletcher Merkel (8) dan Harper Moysk (10), tewas.

Pelaku kemudian berusaha kabur dari kejaran aparat penegak hukum. Ketika terpojok, ia memutuskan menembak diri sendiri dan tewas.

Paus Leo kemudian segera mengirim telegram ke AS guna mengutarakan belasungkawa. ”Ini tragedi yang sangat menyedihkan,” katanya.

MINNEAPOLIS, MINNESOTA - AUGUST 30: A general view outside Annunciation Church and School on August 30, 2025 in Minneapolis, Minnesota. The church resumed mass today, the first to occur since a mass shooting took place there earlier this week. According to Minneapolis Police, a gunman fired through the windows of the Annunciation Church at worshippers sitting in pews during a Catholic school Mass, killing two children and injuring at least 18 others. The gunman reportedly died at the scene from a self-inflicted gunshot wound. Stephen Maturen/Getty Images/AFP (Photo by Stephen Maturen / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Kejadian di Gereja Anunsiasi itu terjadi satu hari setelah peristiwa penembakan di salah satu SMA di Minneapolis. Satu orang tewas dan enam orang terluka di dalam tragedi itu. Uskup Minneapolis Bernard Hebda menyuarakan pentingnya hukum yang tegas terkait kepemilikan senjata api.

”Kita harus menghentikan kekerasan akibat pemakaian senjata api. Terlalu lazim senjata api beredar di negara kita ini. Tentu kita berdoa dan menahan diri, tetapi hukum yang tegas harus diterapkan,” kata Hebda, dikutip oleh USA Today, 27 Agustus 2025.

Menurut data lembaga kajian Pew, pada 2023, sebanyak 46.728 di AS tewas akibat kekerasan senjata api. Kematian ini disebabkan ditembak oleh polisi atapun menjadi korban peristiwa penembakan.

Pegiat antikekerasan senjata api, Melissa Alvarez-Zabriskie, menulis di kolom opini harian The Tennessean, 30 Agustus 2025. Ia menjelaskan, mengetatkan aturan kepemilikan senjata api saja tidak cukup. Harus ada kerja sama sejak di akar rumput untuk mencegah ekstremisme.

Ia menerangkan, ekstremisme bukan persoalan aliran kanan ataupun kiri. Ekstremisme terjadi ketika seseorang mengisolasi diri dan menganggap hanya pendapatnya yang benar. Orang itu menolak berinteraksi, apalagi bekerja sama dengan orang lain.

”Di AS, semua anggota masyarakat menjadi korban kekerasan senjata api. Berkulit hitam, putih, Muslim, Kristen, Yahudi, liberal, konservatif, tua, dan muda semua tewas terkena peluru,” tuturnya.

Pelaku penembakan juga berasal dari berbagai latar belakang kelompok etnis, agama, dan tingkat ekonomi. Alvarez-Zabriskie melalui organisasinya, Jaringan Aksi Hispanik Tennessee (THAN), melihat pelaku umumnya terpengaruh pemikiran ekstrem.

Ekstremisme ini tumbuh subur di media sosial. Orang yang terpapar mengisolasi diri dan hanya mengonsumsi konten-konten ini secara daring. Ini yang memunculkan kebencian teramat sangat kepada masyarakat atau kelompok tertentu.

”Kita sangat mudah mengucilkan seseorang yang pandangannya kita anggap kacau. Walhasil, dunia maya menjadi pelarian dia dan dia semakin membenci orang lain,” kata Alvarez-Zabriskie.

Oleh sebab itu, Alvarez-Zabriskie mengambil langkah dialog. Salah satunya adalah yang ia lakukan dengan sejumlah anggota neo-Nazi. Hal itu tidak mudah, tetapi mereka semua belajar untuk membahas perbedaan melalui perdebatan, bukan ujaran kebencian.

”Kami menemukan, komunikasi ini dimulai dari rumah dan dari tetangga. Memberi perhatian kepada orang lain, terlepas semenyebalkan apa pun dia, adalah langkah awal mencegahnya terjerumus ekstremisme,” tuturnya. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto