Paus Leo XIV mengajak umat beriman untuk memulai tahun 2026 sebagai era perdamaian dan persahabatan sejati di antara semua bangsa.
01 Jan 2026 20:20 WIB · Internasional
AFP
ROMA, KAMIS — Paus Leo XIV membuka tahun 2026 dengan pesan yang berfokus pada perdamaian, harapan, dan pembaruan batin. Ia mengajak umat untuk memulai tahun 2026 sebagai era perdamaian dan persahabatan sejati di antara semua bangsa.
Dalam kesempatan itu, Paus menyempatkan mengucapkan salam Tahun Baru untuk para peziarah yang hadir di Alun-alun Santo Petrus, Vatikan. ”Saudara-saudari terkasih, selamat Tahun Baru!” kata Paus Leo, Kamis (1/1/2026).
Paus Leo mengingatkan, tahun baru hanya akan bermakna apabila umat berorientasi pada kebaikan bersama dan rekonsiliasi. Keinginan tulus untuk kebaikan itulah yang terpenting. Tanpa ada keinginan tulus, tak akan ada artinya.
Sebagaimana dikabarkan Vatican News, saat memimpin doa Malaikat Allah, Paus Leo mengajak umat beriman untuk berdoa bersama demi perdamaian. ”Pertama-tama, di antara bangsa-bangsa yang berlumuran darah akibat konflik dan penderitaan, tetapi juga di dalam rumah kita, di dalam keluarga yang terluka oleh kekerasan dan rasa sakit,” kata Paus Leo.
Dalam tradisi Gereja Katolik, tanggal 1 Januari diperingati sebagai Hari Perdamaian Dunia sekaligus perayaan hari raya Santa Maria Bunda Allah. ”Dengan datangnya tahun baru, Tuhan mengajak kita untuk memperbarui zaman kita dengan akhirnya mengantarkan era perdamaian dan persahabatan di antara semua bangsa,” kata Paus Leo.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/01/5b33d835d57c833f4cff7c732692fc28-wires_photo_86.jpg)
Merujuk Tahun Yubileum Agung, ketika manusia diajak membangun harapan untuk dunia, Paus mendorong umat untuk memaafkan, menghibur yang diimpit kesulitan, serta selalu berupaya berbuat kebaikan. Selain itu, Paus juga mengajak umat untuk berdoa bersama demi perdamaian dunia yang sedang didera konflik dan penderitaan serta keluarga yang terluka oleh kekerasan dan rasa sakit.
Sebelum menyampaikan pesan seusai memimpin doa Malaikat Allah, Paus Leo juga merayakan misa publik pertamanya tahun ini. Paus Leo mengatakan, setiap hari dapat menjadi awal dari kehidupan baru.
Oleh karena itu, umat harus memandang tahun yang baru sebagai perjalanan terbuka yang harus dijelajahi. Merujuk Bunda Maria, Paus Leo mengatakan bahwa dunia tidak diselamatkan oleh kekerasan, tetapi oleh upaya tanpa lelah untuk memahami, memaafkan, membebaskan, dan menyambut semua orang tanpa perhitungan dan tanpa rasa takut.
Paus Leo menutup khotbahnya di Basilika Santo Petrus dengan merenungkan Tahun Yubileum 2025. Ia mengutip kata-kata pendahulunya, Paus Santo Yohanes Paulus II, pada penutupan Yubileum 2000 dengan mengatakan, ”Betapa banyak kesempatan luar biasa yang ditawarkan Yubileum Agung kepada umat beriman! Dalam pengalaman pengampunan yang diterima dan diberikan, dalam peringatan para martir, dalam mendengarkan seruan kaum miskin di dunia, kita pun telah melihat sekilas kehadiran Allah yang menyelamatkan dalam sejarah. Kita, seolah-olah, secara fisik merasakan kasih-Nya yang memperbarui wajah bumi.”
Paus Leo juga memimpin ibadat sore pertama hari raya Maria Bunda Allah, perayaan terakhir pada tahun 2025, Rabu (31/12/2025). Pada kesempatan itu, Paus Leo berdoa agar Roma menjadi tempat yang ramah bagi orang asing dan orang-orang yang lemah, muda, dan tua. Leo memimpin kebaktian malam Tahun Baru di Basilika Santo Petrus, mengucap syukur atas Tahun Suci 2025 yang membawa jutaan peziarah ke Roma dalam perayaan kekristenan yang terjadi setiap seperempat abad sekali.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/01/283af9ae8e7ab19fab7417764a38a73f-wires_photo_84.jpg)
Paus Leo dalam khotbahnya juga berterima kasih kepada kota Roma dan para sukarelawan yang membantu menjaga kelancaran arus orang-orang yang mengunjungi Santo Petrus dan melewati Pintu Suci. Ia mengingatkan bahwa mendiang Paus Fransiskus, yang meresmikan Tahun Suci pada 24 Desember 2024, telah meminta agar Roma menjadi tempat yang lebih ramah.
”Saya ingin hal itu terjadi lagi, bahkan lebih lagi. Semoga kota ini layak bagi anak-anak, lansia yang kesepian dan rapuh, serta keluarga yang berjuang untuk bertahan hidup, laki-laki dan perempuan yang datang dari jauh dengan harapan akan kehidupan yang bermartabat,” kata Paus Leo.
Selain Yubileum, tahun 2025 juga penting karena transisi kepausan setelah Paus Fransiskus meninggal pada April lalu dan para kardinal memilih paus pertama dalam sejarah dari Amerika Serikat. Pada pekan ini, Vatikan merilis statistik yang menunjukkan 3,2 juta orang telah berpartisipasi dalam liturgi Vatikan, audiensi, doa Angelus, dan audiensi Yubileum tahun ini.
Angkanya kecil pada kuartal pertama mengingat masa rawat inap dan penyakit Paus Fransiskus yang panjang. Namun, angkanya kemudian melonjak tajam setelah pemilihan Paus Leo pada Mei lalu.
(AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti