Paus Leo mendorong semua untuk menjadi pewarta persekutuan di dunia yang begitu sering hendak dipecah-belah dan diprovokasi.
22 Sep 2025 20:04 WIB · Internasional
VATICAN CITY, SENIN — Paus Leo XIV mengatakan, Takhta Suci telah mendampingi bangsa Asia Tenggara, khususnya Indonesia, sejak kemerdekaannya. Ikatan tersebut telah dibangun di atas rasa hormat, dialog, dan komitmen bersama terhadap perdamaian dan harmoni.
Hal itu dikatakan Paus Leo XIV dalam pidatonya saat menerima audiensi 200 anggota Ikatan Rohaniwan Rohaniwati Indonesia di Kota Abadi (IRRIKA), Rehat, dan keluarga besar KBRI Takhta Suci di Sala Clementina (Aula Clementina), Istana Vatikan, Senin (22/9/2025). Ini pertama kalinya anggota Rehat, IRRIKA, dan keluarga besar KBRI Takhta Suci diterima Paus untuk beraudiensi bersama.
Dalam pernyataan pers yang dikirim oleh KBRI Takhta Suci disebutkan, Paus Leo XIV mengapresiasi pertemuan tersebut. Paus mengatakan pertemuan itu sebagai pertemuan bersejarah.
Ada tiga yang membuat pertemuan tersebut menjadi pertemuan bersejarah. Pertama, memperingati setahun kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia pada September 2024. Kedua, berkaitan dengan ulang tahun ke-75 hubungan diplomatik Republik Indonesia dan Takhta Suci. Ketiga, pertemuan itu merupakan audiensi pertama bagi seluruh staf KBRI Takhta Suci beserta dengan keluarga.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/22/0051b61225315943682257c14ea58d3b-cropped_image.jpg)
Dalam sambutannya, Paus Leo XIV mengenang perjalanan apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia, September 2024, sebagai kunjungan istimewa yang mempererat persahabatan. Dialog antaragama menjadi sorotan utama dalam kunjungan Paus Fransiskus, terutama saat mengunjungi Masjid Istiqlal. Saat itu, Paus Fransiskus bersama Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar menandatangani Deklarasi Istiqlal untuk memupuk persatuan demi kebaikan umat manusia.
”Audiensi ini merupakan tanda buah-buah iman dan persatuan yang baik,” kata Paus Leo XIV.
Lebih lanjut, Paus Leo XIV memuji warga negara Indonesia, baik rohaniwan-rohaniwati maupun awam, yang terus merawat tradisi dan saling peduli. ”Bahkan jauh dari rumah, kalian melestarikan tradisi kalian yang semarak dan saling peduli,” kata Paus Leo XIV.
Terkait hal itu, Paus Leo XIV menggarisbawahi dan memuji ikatan yang kuat antar-umat beragama di Indonesia. Paus menyebut, hal itu menjadi wujud dari moto bangsa, Bhinneka Tunggal Ika.
Mengutip mendiang Paus Fransiskus saat mengunjungi Jakarta, Paus Leo XIV mengatakan, ”Masyarakat Indonesia membentuk jalinan pemersatu ketika diikat oleh keinginan bersama untuk mewujudkan kebaikan; sesungguhnya, menjaga keharmonisan di tengah keberagaman bagaikan sebuah karya seni yang dipercayakan kepada setiap orang.”
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/21/07b86b67-81b5-4008-b028-ff30aee85b86_jpg.jpg)
”Saya mendorong Anda semua untuk menjadi pewarta persekutuan di dunia yang begitu sering hendak dipecah belah dan diprovokasi,” kata Paus Leo. ”Jalan dialog, jalan persahabatan, mungkin menantang, tetapi menghasilkan buah perdamaian yang berharga.”
Di akhir pidatonya, Paus Leo XIV mengajak warga Indonesia yang tinggal di Roma untuk menjadi umat Katolik yang setia sekaligus warga Indonesia yang bangga, ”berbakti kepada Injil dan membangun keharmonisan dalam masyarakat”. Dalam bahasa Uskup Agung Semarang Mgr Sugiyapranata, ”seratus persen Katolik, seratus persen Indonesia”.
Dalam kesempatan tersebut, Paus Leo XIV juga mendoakan warga negara Indonesia. Paus memercayakan warga Indonesia kepada Santa Perawan Maria, Bunda Gereja, dan berdoa agar senantiasa menjadi ”pembangun jembatan antara bangsa, budaya, dan agama”.
Duta Besar RI untuk Takhta Suci Michael Trias Kuncahyono mengatakan, hubungan diplomatik kedua negara secara resmi dimulai pada 13 Maret 1950. Namun, Trias mengatakan, jauh sebelum itu, sejak tahun 1947 atau dua tahun setelah Indonesia merdeka, Takhta Suci sudah mengakui kemerdekaan dan kedaulatan NKRI. ”Takhta Suci menjadi negara pertama di Eropa yang mengakui kemerdekaan Indonesia,” ujar Trias.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/22/fb31783815471796fada105d01d01fe9-WhatsApp_Image_2025_09_22_at_18.58.43.jpeg)
Merujuk pernyataan pers KBRI Takhta Suci, permohonan untuk audiensi bersama itu sudah diajukan sejak awal tahun ini, di masa Paus Fransiskus. Akan tetapi, karena Paus Fransiskus jatuh sakit dan kemudian berpulang, maka permohonan itu diperbarui lewat Secretary of State Kardinal Pietro Parolin. Paus Leo XIV kemudian mengabulkannya.
Tidak semua anggota IRRIKA mendapat kesempatan untuk ikut audiensi. Saat ini, di seluruh Italia, jumlah biarawan dan biarawati Indonesia sebanyak 1.818 orang, terdiri dari 1.549 biarawati dan 269 biarawan.
Mereka tersebar di seluruh Italia. Yang berdomisili dan bertugas di Regio Lazio, yakni kota Roma dan sekitarnya, sejumlah 1.056 orang atau 58 persen. Adapun di Regio Campania, yakni kota Napoli dan sekitarnya, ada 416 orang atau 23 persen. Selebihnya, 346 orang atau 19 persen tersebar di sejumlah kota di Italia, termasuk di Pulau Sisilia dan Sardinia.
Tujuan mereka ke Italia bermacam-macam. Ada yang menjalankan misi ordo atau kongregasi, tugas belajar dari ordo atau kongregasi yang pada umumnya di universitas-universitas kepausan, dan bekerja sebagai pimpinan ordo atau kongregasi. Ada juga yang bekerja di Takhta Suci, mengajar di sekolah mulai dari semacam PAUD hingga SMA, mengurusi rumah jompo dan yatim piatu, serta mengurusi dan mengelola biara.
Penulis:
Bonifasius Josie Susilo HEditor:
Marcellus HernowoPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti