Diperkuat sebagian besar atlet tim nasional, PB Djarum Kudus menjadi klub bulu tangkis terbaik Tanah Air. Djarum menjadi juara nasional beregu campuran 2024.
08 Des 2024 20:08 WIB · Olahraga
JAKARTA, KOMPAS — PB Djarum dikenal sebagai klub bulu tangkis terbesar di Indonesia, tetapi selalu tersisih karena meratanya persaingan klub-klub besar dalam Kejuaraan Nasional setelah 2016. Djarum baru mengukuhkan kembali sebagai klub terbaik dengan menjuarai Kejuaraan Nasional Beregu Campuran Antarklub 2024.
Djarum tak terkalahkan dalam enam pertandingan sejak penyisihan grup hingga final pada ajang yang digelar di GOR UNJ, Jakarta, 3-8 Desember. Mereka menang atas Hasta Yudha Padang, Jaya Raya Satria, dan Daihatsu Yonex Sunrise Candra Wijaya di fase grup. Setelah itu, kemenangan didapat atas Mansion Sports Box dan juara bertahan, Jaya Raya Jakarta, pada perempat final dan final.
Dalam laga perebutan gelar juara yang berlangsung Minggu (8/12/2024), Djarum mengalahkan Exist Jakarta, 3-0. Hasil tersebut membalas kekalahan Djarum dari Exist pada semifinal Kejurnas 2022 dengan skor 2-3. Djarum pun menjadi juara kejurnas untuk keempat kalinya setelah meraih gelar yang sama pada 1994, 1998, dan 2010.
Djarum, yang diresmikan pada 1974, adalah salah satu klub bulu tangkis besar di Tanah Air. Beberapa nama besar yang lahir dari klub ini adalah Liem Swie King, Alan Budikusuma, Hariyanto Arbi, dan Sigit Budiarto. Setidaknya dalam satu dekade terakhir, pemain bintang asal klub ini di antaranya Tontowi Ahmad, Liliyana Natsir, Praveen Jordan, Debby Susanto, Mohammad Ahsan, dan Kevin Sanjaya Sukamuljo.
Praveen, Debby, Ahsan, dan Kevin menjadi bagian dari tim ketika Djarum mengalahkan Jaya Raya pada final Kejurnas 2016, gelar terakhir yang diraih sebelum 2024. Dalam rentang delapan tahun, Djarum tersingkir sebelum final.
Kejurnas antarklub yang digelar bersamaan dengan kategori perseorangan taruna setiap tahun genap—kejurnas pada tahun ganjil berkategori perorangan—masih memperlihatkan dominasi klub-klub besar di Jawa. Akan tetapi, persaingan di antara klub-klub besar tersebut bisa dikatakan merata.
Pada Kejurnas 2018, terjadi kejutan ketika Djarum yang berstatus juara bertahan dan unggulan teratas disingkirkan Mutiara Cardinal Bandung di semifinal, 1-3. Pada edisi berikutnya, yaitu 2022, giliran Exist yang menghentikan langkah Djarum di semifinal dengan skor 2-3. Adapun pada 2020 dan 2021, kejurnas tak digelar karena pandemi Covid-19.
Delapan tahun setelah menjadi juara di Solo, Jawa Tengah, barulah Djarum kembali menjadi juara. Mereka mengandalkan kekuatan pemain-pemain senior dan yunior yang sarat pengalaman bersaing di arena internasional.
Saat melawan Exist di final, Djarum membuka kemenangan ketika Rinov Rivaldy/Siti Fadia Silva Ramadhanti mengalahkan Zaidan Arrafi Nabawi/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu dengan skor 21-17, 21-18. Seperti Rinov dan Fadia, Zaidan/Felisha juga merupakan pemain pelatnas dengan usia lebih muda. Zaidan berstatus pemain ganda campuran pelatnas pratama, sementara Felisha baru baik ke pelatnas utama pada 2024.
”Pertandingan yang tidak mudah untuk kami jalani. Lawan sangat tangguh. Pada laga ini kami merasa unggul jam terbang. Dari segi permainan, kami sudah sama-sama tahu kelebihan dan kekurangan lawan karena kami sudah sama-sama berlatih di Pelatnas Cipayung,” ujar Rinov.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/08/8c6aef16cd4e0173ab41cbcad279622a-WhatsApp_Image_2024_12_08_at_16.12.21.jpeg)
Rinov, yang berpasangan dengan Pitha Haningtyas Mentari di pelatnas, adalah pemain senior yang lolos ke Olimpiade Paris 2024. Fadia juga merasakan Olimpiade pertamanya pada ganda putri, berpasangan dengan Apriyani Rahayu. Pengalaman tampil pada turnamen-turnamen level tinggi itulah yang membuat Rinov/Fadia bisa mengatasi tekanan tampil di final.
Djarum memperbesar keunggulan melalui tunggal putra berusia 17 tahun, Richie Duta Ricardo. Partai kedua ini, di atas kertas, seharusnya menjadi milik Exist karena menurunkan pemain senior pelatnas, Chico Aura Dwi Wardoyo. Namun, Richie justru membuat Chico berada dalam tekanan sepanjang pertandingan hingga menang 21-12, 21-12.
Kunci kemenangan Richie adalah bermain tanpa beban, seperti yang disampaikan para seniornya sebelum pertandingan. Berkat pola pikir itu, Richie tak menduga bisa mendapat kemenangan straight games.
”Perasaan saya campur aduk. Rasa tegang pasti ada, tetapi, saya pun punya semangat tidak mau kalah karena melawan senior. Namun, saat bertanding, saya tidak berpikir hasil, yang penting bermain nothing to lose,” kata Richie.
Sementara, Chico, yang lebih sering kalah pada babak pertama dalam turnamen BWF, menyatakan tak bisa tampil maksimal. Dia kesulitan untuk keluar dari tekanan lawan.
Selain Richie, Djarum memiliki tunggal putra potensial lainnya yang juga berusia 17 tahun, Mohammad Zaki Ubaidillah. Mereka menjadi bagian dari tim Indonesia yang menjuarai Piala Suhandinata (Kejuaraan Dunia Yunior Beregu Campuran) pada 2024. Dalam persaingan perseorangan, Zaki menembus semifinal, sedangkan Richie bertahan hingga perempat final.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/08/59854a552a6121a9a2bf5ca2d127f4cf-WhatsApp_Image_2024_12_08_at_16.12.45.jpeg)
Persaingan berformat seperti Piala Sudirman, yang mempertandingkan lima nomor, akhirnya hanya berlangsung dalam tiga nomor. Djarum mendapat kemenangan ketiga dari partai ketiga pada nomor ganda putra melalui pasangan lama, Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin. Mereka menang atas Sabar Karyaman Gutama/Yeremia Erich Yoche Racob Rambitan 21-15, 17-21, 21-9.
”Pertandingan yang tidak mudah. Saat tim kami unggul 2-0, kami menjadi penentu. Tekanan pun sangat tinggi. Kami bisa mengendalikan hal tersebut dan akhirnya menang,” komentar Daniel.
Leo dan Daniel adalah pemain pelatnas yang berganti pasangan sejak Agustus. Saat ini, Leo berpasangan dengan Bagas Maulana yang juga merupakan pemain Djarum. Adapun Daniel berduet dengan Muhammad Shohibul Fikri (SGS PLN Bandung).
Yeremia juga menjadi bagian dari tim pelatnas, sementara Sabar menjalani turnamen internasional sebagai pemain profesional bersama Muhammad Reza Pahlevi. Sabar/Reza bahkan berstatus ganda putra nomor dua Indonesia di bawah Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto.
Setelah tampil di Kejurnas, Sabar/Reza berangkat menuju Hangzhou, China, untuk mengikuti turnamen Final BWF World Tour 11-15 Desember. Pemain Indonesia lainnya pada turanmen yang diikuti delapan wakil terbaik dari setiap nomor itu adalah Fajar/Rian, Jonatan Christie, Gregoria Mariska Tunjung, Febriana Dwipuji Kusuma/Amalia Cahaya Pratiwi, dan Dejan Ferdinansyah/Gloria Emanuelle Widjaja. Sabar/Reza dan Fajar/Rian berada dalam satu grup pada babak penyisihan.
Adapun dari kejurnas kategori perseorangan taruna (yunior), pemain-pemain Jawa Tengah memborong tiga gelar juara. Mereka adalah Sausan Dwi Ramadhani (tunggal putri), Ardita Anjani/Titis Maulida Rahma (ganda putri), dan Anselmus Breagit Fredy Prasetya/Pulung Ramadhan. Gelar tunggal putra didapat Muhammad Yusuf (Jawa Barat) adapun ganda campuran dijuarai M Nawaf Khoiriyansyah/Luna Rianty Saffana (DKI Jakarta).
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase