Penyitaan metamfetamin di Asia Tenggara dan Asia Timur mencapai total 236 ton pada 2024, naik 24 persen dari tahun 2023.
29 Mei 2025 20:21 WIB · Internasional
BANGKOK, KAMIS — Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan, perdagangan metamfetamin ilegal dan obat-obat berbahaya lainnya tumbuh pesat di Asia Tenggara. Pertumbuhan itu khususnya terjadi di kawasan Golden Triangle atau Segitiga Emas, yaitu Laos, Myanmar, Thailand. Skala pertumbuhan itu tecerminkan dari rekor jumlah penyitaan pihak berwenang selama beberapa tahun terakhir.
Laporan Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC), Rabu (28/5/2025) atau Kamis waktu Jakarta, menyebutkan, penyitaan metamfetamin di Asia Tenggara dan Asia Timur mencapai total 236 ton pada 2024, naik 24 persen dari tahun 2023. Peningkatan tersebut terjadi pada metamfetamin berbentuk kristal dan tablet.
Tahun lalu, pihak berwenang Thailand menyita sekitar 1 miliar tablet metamfetamin. Di pasaran, tablet metamfetamin dipatok dengan harga terendah 0,6 dollar AS (sekitar Rp 9.700) sebutir di Myanmar.
UNODC menyebutkan, jumlah sitaan metamfetamin tidak mencerminkan jumlah sebenarnya yang beredar di pasaran. Produksi berskala industri dan jaringan perdagangan gelap mendorong banjir metamfetamin yang berkelanjutan ke Asia Tenggara. Perdagangan dilakukan oleh organisasi-organisasi kriminal transnasional dengan sumber daya memadai.
”Meskipun penyitaan ini sebagian mencerminkan keberhasilan penegakan hukum, kami jelas melihat tingkat produksi dan perdagangan metamfetamin yang belum pernah terjadi sebelumnya dari Segitiga Emas, khususnya Negara Bagian Shan di Myanmar,” kata Benedikt Hofmann, penjabat Perwakilan Regional UNODC untuk Asia Tenggara dan Pasifik dalam laman resmi UNODC.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/07/07/MYANMAR-CHINA-HEALTH-VIRUS_97411301_1625649918_jpg.jpg)
Segitiga Emas adalah tempat pertemuan perbatasan Myanmar, Laos, dan Thailand. Kawasan ini terkenal sebagai penghasil opium dan heroin. Lokasinya terpencil sehingga penegakan hukum lemah. Dalam beberapa dekade terakhir, produksi metamfetamin berkembang pesat di kawasan tersebut karena lebih mudah secara produksi.
Selain itu, perdagangan metamfetamin juga tumbuh subur secara signifikan, khususnya di Shan, Myanmar. Sejak Februari 2021, Myanmar mengalami krisis politik lantaran kudeta militer yang memicu perang saudara.
”Krisis yang sedang berlangsung di Myanmar semakin meningkatkan kebutuhan akan hasil dari perdagangan narkoba, tetapi pada saat yang sama ada tingkat stabilitas di beberapa bagian negara tersebut, terutama yang dikenal dengan produksi narkoba sintetis skala besar,” kata Hofmann.
Kombinasi konflik dan stabilitas tersebut, ia melanjutkan, telah menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi perluasan produksi narkoba. Dampaknya tidak hanya terjadi di Asia Tenggara dan Asia Timur, tetapi juga ke Asia Selatan, khususnya India timur laut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/29/1bd796d5-404f-49cc-a8e3-2b40ffae8b32_jpg.jpg)
Laporan UNODC menyebutkan, para penyelundup memiliki rute beragam menuju pasar, baik di Asia Tenggara maupun luar kawasan. Thailand tetap menjadi titik transit dan tujuan utama bagi metamfetamin dari Myanmar.
Pada saat yang bersamaan, penyelundup semakin memanfaatkan rute perdagangan lain guna menghindari deteksi penegak hukum. ”Rute perdagangan yang menghubungkan Kamboja dengan Myanmar, terutama melalui Laos, telah berkembang pesat,” kata Inshik Sim, Analis Utama di Kantor Regional UNODC untuk Asia Tenggara dan Pasifik.
Koridor lain yang semakin signifikan adalah rute perdagangan laut yang menghubungkan Malaysia, Indonesia, dan Filipina. Sabah di Malaysia menjadi pusat transit utama.
Beberapa narkoba yang masuk ke kawasan juga berasal dari jalur luar, seperti Golden Crescent atau Bulan Sabit Emas. Bulan Sabit Emas adalah wilayah produksi narkoba utama lainnya yang meliputi wilayah pegunungan terpencil di Afghanistan, Pakistan, dan Iran timur. Metamfetamin kristal dari Bulan Sabit Emas telah ditemukan di Filipina, Jepang, dan Korea Selatan.
Sementara itu, metamfetamin ilegal di Indonesia, Hong Kong, China, Jepang, Filipina, dan Korea Selatan kebanyakan berasal dari Amerika Utara. Perdagangan obat ini melibatkan kartel Meksiko.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/07/18/d2cd41bb-75ea-4caf-859a-ad44b861d2ac.jpg)
Laporan ini turut menyoroti kelincahan kelompok-kelompok penyelundup narkoba transnasional. Mereka menyebarkan lokasi produksi ketamin dan bahan kimia prekursor terkait yang telah mencapai sebagian besar negara-negara di hilir Sungai Mekong.
Pada Maret 2025, polisi di Vietnam membongkar pabrik narkoba berskala industri terbesar. The Laotian Times melaporkan, polisi menyita 1,4 ton ketamin di kota pesisir Nha Trang. Adapun contoh lainnya adalah meningkatnya produksi ilegal produk farmasi, terutama etomidate dan analognya yang dirancang untuk menghindari kontrol atas zat baru.
”Para penyelundup telah menunjukkan ketajaman bisnis dengan memanfaatkan perangkat digital dan teknologi baru untuk memfasilitasi dan mendapatkan keuntungan dari perdagangan gelap narkoba sintetis,” tambah laporan tersebut.
Beberapa kelompok pedagang gelap bahkan menyusup ke bisnis yang sah atau mendirikan perusahaan sebagai kedok. Hal lain yang menjadi perhatian adalah meningkatnya konvergensi antara kelompok kejahatan terorganisasi yang melakukan perdagangan gelap dengan yang menawarkan layanan perbankan gelap.
”Sebagian besar negara melaporkan peningkatan keseluruhan dalam penggunaan metamfetamin dan ketamin. Namun, di beberapa negara, kami melihat penurunan jumlah pengguna narkoba muda yang mungkin disebabkan oleh kampanye pencegahan penggunaan narkoba yang menargetkan populasi muda,” ujar Hofmann.
Oleh karena itu, ujarnya, peningkatan investasi dalam strategi pencegahan dan pengurangan pasokan akan menjadi kunci bagi kawasan ini. (AP/AFP)
Penulis:
elsa emiria lebaEditor:
Bonifasius Josie Susilo H