Penyelidikan awal PBB menyimpulkan, peluru tank Israel meledakkan markas TNI yang bertugas di UNIFIL Lebanon.
08 Apr 2026 15:00 WIB · Internasional
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
JAKARTA, KOMPAS — Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut peluru dari tank Merkava Israel menjadi penyebab Kopral Dua Farizal Rhomadhon gugur. Hal itu berdasarkan bukti awal di lokasi peledakan.
Pusat Informasi PBB (UNIC) Jakarta menyiarkan kabar itu pada Rabu (8/4/2026). UNIC mengutip keterangan Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB Stephane Dujarric yang disampaikan di New York, Amerika Serikat, Selasa (7/4/2026).
”Terkait insiden 29 Maret, berdasarkan bukti yang tersedia, termasuk analisis lokasi dampak dan khususnya fragmen proyektil yang ditemukan di posisi Perserikatan Bangsa-Bangsa 7-1, proyektil tersebut adalah peluru utama tank kaliber 120 milimeter, yang ditembakkan oleh tank Merkava milik Pasukan Pertahanan Israel dari arah timur, menuju Ett Taibe. Perlu diingat bahwa untuk mengurangi risiko terhadap personel Perserikatan Bangsa-Bangsa, UNIFIL kembali telah memberikan koordinat seluruh posisi dan fasilitasnya kepada Pasukan Pertahanan Israel pada 6 Maret dan 22 Maret,” demikian pernyataan Dujarric seperti disampaikan dalam keterangan UNIC.
Dalam insiden lain pada 30 Maret, PBB menemukan, peledak rakitan (IED) Hizbullah menjadi penyebab gugurnya anggota TNI yang bertugas dalam UNIFIL di Lebanon. ”Investigasi telah menyimpulkan bahwa mengingat lokasi kejadian, sifat ledakan, dan konteks saat ini, IED tersebut kemungkinan besar ditempatkan oleh Hizbullah,” kata Dujarric, sebagaimana dikutip kantor berita AFP, Rabu.
Pada 29 Maret 2026, markas Kontingen TNI dalam Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) diserang. Akibatnya, Kopda Farizal gugur dan tiga anggota TNI lainnya cedera.
Berselang sehari, kendaraan Kontingen Garuda pada UNIFIL meledak. Menurut PBB, kendaraan itu mengenai kawat pemicu ranjau darat.
Tragedi itu membuat Mayor Zulmi Aditya Iskandar dan Sersan Kepala Muhammad Nur Ichwan gugur. Selain itu, dua anggota TNI cedera.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/05/2b6be721b4ac8b09302a718558c02b7a-20260405DRA223.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/05/923571951a0ab1966a266685875a3c6f-20260405eng05.jpg)
”Perlu saya tegaskan kembali bahwa ini merupakan temuan awal, berdasarkan bukti fisik awal. Proses investigasi penuh oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa masih berlangsung, termasuk prosedur yang diperlukan serta keterlibatan dengan para pihak terkait untuk memahami konteks dan keadaan secara menyeluruh di tengah situasi permusuhan yang masih berlangsung,” lanjut Dujarric.
Insiden-insiden ini tidak dapat diterima. ”Kami telah meminta kepada pihak-pihak terkait agar kasus-kasus ini diselidiki dan diproses secara hukum oleh otoritas nasional untuk membawa para pelaku ke pengadilan dan memastikan pertanggungjawaban pidana atas kejahatan terhadap penjaga perdamaian,” ujarnya.
Pada 31 Maret, Wakil Tetap RI untuk PBB di New York Umar Hadi menegaskan, Indonesia meminta penyelidikan menyeluruh. ”Kami menuntut penyelidikan langsung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, bukan sekadar alasan-alasan dari Israel,” ujar Umar.
Ia menyebut, eskalasi ini berakar dari serangan militer Israel yang berulang kali melanggar kedaulatan Lebanon dan menargetkan wilayah tersebut. ”Indonesia menekankan bahwa serangan berulang ini merupakan ancaman langsung terhadap perdamaian dunia dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang di bawah hukum internasional,” ujarnya.
Pada saat yang bersamaan dengan penyelidikan atas kejadian pada 29-30 Maret 2026, Kontingen RI di UNIFIL kembali jadi sasaran serangan. Fasilitas UNIFIL di El-Adeisse, Lebanon selatan, meledak.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/04/3f4f2af3-cdd5-43a6-9413-0fa8bfffd655.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/04/b2411b70-9bcf-4c9c-8a26-761f5540bea8.jpg)
Akibatnya, tiga anggota TNI cedera. ”Kejadian ini menggarisbawahi pentingnya penguatan segera perlindungan bagi pasukan perdamaian PBB di tengah situasi konflik yang semakin berbahaya,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri RI.
Insiden itu, lanjut Kemenlu RI, terjadi di tengah serangan Israel ke Lebanon. Operasi militer Israel yang terus berlanjut di Lebanon selatan, termasuk pernyataan untuk mempertahankan keberadaan Israel, berisiko mendestabilisasi situasi dan terus membahayakan personel pasukan perdamaian PBB.
Juru bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, mengatakan, militer Israel telah memblokade konvoi logistik UNIFIL dan menahan salah satu penjaga perdamaiannya. Ia menambahkan, penahanan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional. Militer Israel telah memberi tahu UNIFIL bahwa mereka menyelidiki masalah tersebut.
Penulis:
Kris MadaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan