PDI-P merespons pertemuan cagub Jakarta Ridwan Kamil dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Upaya cari dukungan dari Jokowi dinilai tidak akan berhasil.
03 Nov 2024 13:12 WIB · Politik & Hukum
Oleh Kurnia Yunita Rahayu - [email protected]
JAKARTA, KOMPAS — Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDI-P angkat bicara terkait pertemuan calon gubernur Jakarta, Ridwan Kamil, dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Pertemuan tersebut dianggap sebagai upaya untuk mendongkrak elektabilitas Ridwan Kamil. Namun, upaya itu dinilai sia-sia karena Jokowi sudah tidak bisa cawe-cawe lagi.
”Cawe-cawe Jokowi sudah enggak bisa lagi meskipun kita lihat ada berbagai elemen aparatur negara yang masih mencoba dikerahkan. Oleh karena itu, jangan takut intervensi aparat negara karena Presiden Prabowo sudah mengatakan komitmennya untuk netral. Kalau ada aparatur negara termasuk oknum polisi yang bergerak untuk memenangkan pasangan calon tertentu, itu artinya berseberangan dengan garis kebijakan Presiden Prabowo,” tutur Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto setelah menghadiri lomba lari, di Tangerang, Banten, Minggu (3/11/2024).
Ia meyakini langkah Kamil bertemu Jokowi untuk meminta restu dan pertolongan agar bisa memenangkan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jakarta 2024. Apalagi, mengacu hasil survei sejumlah lembaga, elektabilitas dari Kamil yang berpasangan dengan Suswono, stagnan, bahkan ada yang memperlihatkan elektabilitas pasangan itu kalah dari pasangan yang diusung PDI-P, yakni Pramono Anung-Rano Karno.
Padahal, menurut dia, langkah meminta restu dan pertolongan di kontestasi politik seperti mengembalikan Indonesia ke budaya Orde Baru. Anak muda yang mendominasi pemilih di pilkada dinilainya tidak suka dengan langkah-langkah seperti itu. Mereka dinilainya lebih suka kandidat yang menawarkan gagasan dan mempertontonkan prestasi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2018/08/05/a9a6be16-d7f6-4cc2-9d6e-7cefb261bbca_jpg.jpg)
”Budaya restu-restuan itu budaya lama, budaya Orde Baru. Berbeda dengan budaya anak muda, generasi milenial, gen Z ya mengedepankan prestasi, itu bedanya. Harus turun ke bawah, dengan menampilkan gagasan yang baik sehingga ketika RK datang ke Pak Jokowi itu menunjukkan sekali lagi mentalitet kalah, mentalitet bukan pejuang,” tutur Hasto.
Mengacu hasil survei Parameter Politik Indonesia (PPI) yang dilaksanakan pada 21-25 Oktober 2024, elektabilitas Ridwan Kamil-Suswono sebesar 47,8 persen. Kemudian elektabilitas Pramono-Rano 38 persen, dan Dharma Pongrekun-Kun Wardana sebesar 4,3 persen. Survei melibatkan 1.200 responden.
Sementara mengacu hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, elektabilitas pasangan Ridwan Kamil-Suswono sebesar 37,4 persen atau hanya unggul sekitar 0,3 persen dengan pasangan yang diusung PDI-P, Pramono Anung-Rano Karno, sebesar 37,1 persen. Posisi ketiga pasangan Dharma-Kun dengan elektabilitas 4 persen. Adapun 21,5 persen lainnya menyatakan belum menentukan pilihan atau tidak menjawab. Survei digelar pada 16-22 Oktober 2024 dan melibatkan 800 responden yang dipilih dari multistage random sampling.
Hasil survei Poltracking Indonesia sebelumnya pada 10-16 Oktober 2024 juga memerlihatkan keunggulan Kamil-Suswono. Elektabilitas pasangan ini mencapai 51,6 persen. Selanjutnya, elektabilitas Pramono-Rano 36,4 persen, kemudian pasangan Dharma-Kun 3,9 persen.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/27/38ea8d11-02ff-47a6-bd29-6bb1efde657b_jpg.jpg)
Di luar itu, ada pula yang hasil surveinya menunjukkan keunggulan Pramono-Rano. Hal ini seperti terlihat dari hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI). Berkaca pada hasil survei 10-17 Oktober 2024, elektabilitas Pramono-Rano sebesar 41,6 persen, sedangkan Ridwan Kamil-Suswono di urutan kedua dengan elektabilitas 37,4 persen. Adapun Dharma-Kun di posisi ketiga dengan elektabilitas 6,6 persen.
Budaya restu-restuan itu budaya lama, budaya Orde Baru. Berbeda dengan budaya anak muda, generasi milenial, gen Z ya mengedepankan prestasi, itu bedanya.
Survei melibatkan 1.200 responden dengan margin of error survei 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Ridwan Kamil berkunjung ke kediaman pribadi Joko Widodo, di Kota Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (1/11/2024). Kamil mengaku, dalam pertemuan ia bertanya pengalaman Jokowi saat masih memimpin Jakarta.
”Saya bertanya tentang pengalaman beliau yang teknis tentang Jakarta. Karena, Pak Jokowi dulu juga pernah menjabat Gubernur Jakarta juga. Tentu, membekali saya dengan hal-hal terkait masa depan Jakarta seperti apa. Ya, 90 persennya nasihat-nasihat buat saya yang masih muda,” kata Kamil seusai pertemuan itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/01/957faf91-b1d7-4f9c-af35-f55bae50e1f3_jpg.jpg)
Ia mengaku tidak ada arahan spesifik untuk memenangi pilkada. Ia sekadar menerima saran tentang prinsip pembangunan kota yang adil serta mampu memahami tantangan-tantangan yang akan dihadapi pada masa mendatang. Ia juga diberi masukan agar kelak menjadi pemimpin yang bisa merangkul semua kalangan.
”Intinya saya belajar dari keteladanan Pak Jokowi. Salah satunya sewaktu menjadi gubernur di Jakarta,” katanya.
Kamil juga menyatakan tidak ada perbincangan soal kampanye. Apalagi, meminta Jokowi sebagai juru kampanyenya. Meski begitu, ia tak memungkiri jika berharap supaya bisa mendapat dukungan dari mantan Wali Kota Surakarta itu di Pilkada Jakarta.
Pertemuan Kamil dengan Jokowi hanya dua hari setelah deklarasi dukungan dari organisasi sukarelawan pendukung Jokowi, yakni Projo, untuk Kamil-Suswono. Menurut Kamil, adanya deklarasi itu pasti telah direstui Jokowi sebagai panutan kelompok sukarelawan tersebut.
”Tentunya sudah mendapatkan arahan dan restu dari Pak Jokowi. Kan, enggak mungkin, Projo ini kan organisasi yang logonya saja wajahnya beliau (Jokowi),” kata Kamil.
Sementara itu, Jokowi menilai Kamil sebagai sosok yang berpengalaman sebagai gubernur. Itu karena pengalaman Emil menduduki jabatan kursi Gubernur Jawa Barat. ”Tadi juga diskusi mengenai perencanaan untuk Jakarta. Gagasan besar untuk Jakarta. Saya kira semuanya sudah sangat jelas,” kata Jokowi.
Awak media juga menanyakan soal peluang dukungan Jokowi kepada Emil. Ia tak memberikan jawaban gamblang. Hanya tertawa lepas bersama Emil. ”He-he-he, ya, nanti diputuskan sambil berjalan,” ucap Jokowi seraya terkekeh.
Penulis:
Kurnia Yunita RahayuEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra