EKONOMI RAKYAT

Pedagang Pasar Lesu, Daya Beli Masyarakat Turun

Turunnya daya beli masyarakat mulai dirasakan pedagang, termasuk hasil peninjauan Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman ke pasar induk.

09 Jun 2026 18:27 WIB · Metropolitan

KOMPAS/FRANSISKUS WISNU WARDHANA DANY

Oleh Fransiskus Wisnu Wardhana Dany

JAKARTA, KOMPAS — Pedagang di pasar tradisional mengeluhkan turunnya pembeli karena kenaikan harga dan dampak program Makan Bergizi Gratis. Pelemahan daya beli masyarakat juga diakui Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman saat meninjau Pasar Induk Kramatjati dan Pasar Induk Beras Cipinang.

Turunnya omzet dikeluhkan oleh Suparna (45), pedagang ayam di Pasar Senen, Jakarta Pusat. Stok daging ayam masih menumpuk di lapaknya ketika dijumpai Selasa (9/6/2026). Harga ayam potong utuh saat ini Rp 40.000 per ekor, naik Rp 5.000 sejak sebulan lalu. Untuk ayam filet, harganya Rp 50.000-Rp 60.000 per kg, juga naik dari bulan lalu yang masih Rp 40.000-Rp 45.000.

”Kalau (harga) naik terus, (pembeli) makin sepi, (beban pedagang) tambah berat,” kata Suparna.

Pedagang ayam lainnya, Tin (49), mengeluhkan hal serupa. Pelanggannya yang merupakan pengelola kantin sekolah telah mengurangi pembelian semenjak ada program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kantin-kantin sekolah ditutup karena digantikan adanya satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG).

”Dulu satu orang biasa belanja 4-5 kg. Sekarang enggak lagi karena tutup. Pada enggak jualan,” tutur Tin.

Rusmini, pedagang bahan pangan di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, sedang menunggu pembeli, Senin (8/6/2026). Sejumlah pedagang mengeluhkan sepinya pembeli seiring dengan melonjaknya harga bahan pangan di atas harga acuan penjualan yang telah ditetapkan pemerintah, seperti bawang merah Rp 70 ribu per kilogram (kg), bawang putih Rp 40 ribu per kg, cabai rawit Rp 90 ribu per kg, dan cabai merah Rp 80 ribu per kg.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
08-06-2026

Sepi pembeli turut dirasakan oleh Kito (45), pedagang lainnya. Biasanya masuk pesanan daring hingga 200 paket bahan makanan pokok dalam sehari. Namun, dua pekan ini, pesanan turun menjadi 50 pesanan.

”Kebanyakan yang belanja, kan, rumah makan dan restoran. Sekarang kondisinya sepi juga. Mudah-mudahan kondisi membaik. Jangan tambah sepi,” ujar Kito.

Daya beli masyarakat

Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Perikanan Jakarta melaporkan harga cabai dan bawang merah naik, sedangkan harga minyak goreng dan gula pasir turun dalam laporan harga antarminggu pada awal Juni 2026.

Cabai merah keriting Rp 66.954 (naik Rp 7.153 per kg); cabai merah Rp 74.502 (Rp 7.406 per kg); cabai rawit merah Rp 91.420 (naik Rp 5.460 per kg); cabai rawit hijau Rp 63.343 (naik Rp 2.390 per kg); dan bawang merah Rp 61.127 per kg (naik Rp 1.329 per kg).

Sementara minyak goreng Rp 22.168 per liter (turun Rp 40 per liter) dan gula pasir Rp 18.609 per kg (turun Rp 40 per kg).

Aktivitas pedagang di Pasar Senen, Jakarta Pusat pada Selasa (9/6/2026). Pedagang mulai merasakan daya beli masyarakat turun.

Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman dalam keterangannya seusai meninjau Pasar Induk Kramatjati dan Pasar Induk Beras Cipinang, Selasa, menyampaikan adanya fluktuasi harga cabai dan bawang. Namun, situasi di masyarakat relatif stabil dan harga secara umum berada dalam kondisi yang terkendali.

Kenaikan harga setelah Ramadhan dan Lebaran merupakan dinamika yang wajar. Faktor cuaca juga disebut turut memengaruhi pasokan dari sentra produksi, seperti Bali dan Cianjur.

Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) - Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman Kompas/Hendra A Setyawan

Dudung menekankan pasokan pangan domestik berada dalam kondisi yang melimpah karena peningkatan produktivitas di tingkat petani. Akan tetapi, ada tren penurunan daya beli, seperti di pasar induk.

Penurunan tersebut salah satunya dipicu sistem distribusi dari distributor yang langsung menjangkau masyarakat. Pola konsumsi rumah tangga juga berganti seiring berjalannya program MBG.

”Daya beli yang kalau saya lihat di pasar semakin menurun. Nah, saya tanya penyebabnya adalah ya karena ada sistem distributor langsung ke masyarakat (pasar-pasar rakyat) karena di sini kan pasar induk. Kemudian yang kedua, masyarakat banyak yang tidak semuanya masak. Karena ada juga di cerita bahwa mereka itu di sekolah sudah dikasih makan sehingga dia tidak terlalu banyaklah masak,” kata Dudung.

Sebagai tindak lanjut dari peninjauan ini Kantor Staf Presiden bersama Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Badan Pangan Nasional, serta kementerian/lembaga terkait akan mengevaluasi sembari memantau pergerakan harga di pasar secara berkala demi menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan, serta menjaga keseimbangan daya beli masyarakat.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransiskus Wisnu Wardhana Dany
 | 

Editor:

Irma Tambunan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati