Berprinsip YOLO, Warganet Tak Mau Ketinggalan Konser dan Makanan Viral (11)

Sejumlah warganet rela merogoh kocek demi menonton konser atau mencicipi makanan yang viral di media sosial

13 Mar 2025 06:00 WIB · Investigasi

Oleh Margaretha Puteri Rosalina, M Paschalia Judith J, Pandu Wiyoga, Albertus Krisna

Kamu hanya hidup sekali alias you only live once. Kalimat yang biasa disingkat ”YOLO” itu kerap melatari keputusan berisiko, termasuk mempertaruhkan isi dompet yang mengering. Mayoritas warganet menerapkan YOLO untuk konser dan makanan viral di tengah keuangan yang ”pas-pasan”.

Berdasarkan data Monitoring Media Litbang Kompas, terdapat 70.584 konten menggunakan kata YOLO dan FOMO (fear of missing out atau takut ketinggalan tren) sepanjang November 2024 hingga pertengahan Februari 2025. Sebanyak 96,2 persen di antaranya berasal dari Twitter.

Terdapat 6.699 konten dengan kata YOLO dan FOMO yang dapat dikelompokkan berdasarkan obyek. Sekitar 33,9 persen dari konten-konten itu menyebutkan, YOLO dan FOMO demi konser, makan (23 persen), menjadi fans (19,5 persen), kripto (11,8 persen), sepak bola (6,8 persen), serta Korean pop atau K-pop (4,7 persen).

Reza (30) mengatakan, selalu berupaya menabung jika grup band asal Korea Selatan atau K-Pop kesukaannya menggelar konser di Jakarta. Laki-laki asal Banjarnegara, Jawa Tengah, itu mengidolakan Blackpink dan Seventeen.

 ”Kalau (nonton) Seventeen kemarin Februari 2025. Terus kalau terakhir nonton Blackpink itu 2023. Semua harus ke Jakarta,” kata Reza, Rabu (5/3/2024).

Ia menuturkan, biaya yang perlu dikeluarkan untuk menonton konser Seventeen sebesar Rp 1,7 juta. Adapun untuk menonton Blackpink, ia harus merogoh kocek hingga Rp 3 juta. Selain itu, ia juga harus menyiapkan uang lebih kurang Rp 1,5 juta untuk biaya transportasi dari Banjarnegara dan akomodasi selama berada di Jakarta.

Karena itu, Reza biasanya sudah mulai menabung sejak 6 bulan sebelum hari H konser. Pengeluaran harus ditekan oleh Reza agar dapat menonton konser meliputi uang membeli makan dan minum di luar saat nongkrong bersama kawan-kawannya serta anggaran untuk membeli pakaian dan peralatan gunung yang menjadi hobinya.

Quote

”Aku kerja di pabrik bulu mata dengan gaji antara Rp 2 juta sampai Rp 3 juta per bulan. Jadi harus pintar-pintar mengelola keuangan supaya keinginan tercapai,” ucapnya.

Suasana konser grup K-Pop, 2NE1, di Beach City International Stadium, Jakarta, Jumat (22/11/2024). 2NE1 menggelar konser selama 22-23 November 2024 di Jakarta. Konser ini merupakan bagian dari Welcome Back Tour 2024-25 Asia Tour untuk merayakan 15 tahun grup ini debut. Berdiri di bawah YG Entertaiment, 2NE1 hanya aktif selama 2009-2016 tetapi berhasil mencatat prestasi sebagai salah satu pelopor Gelombang Korea ke ranah global. *** Local Caption *** Suasana konser grup K-Pop, 2NE1, di Beach City International Stadium, Jakarta, Jumat (22/11/2024). 2NE1 menggelar konser selama 22-23 November 2024 di Jakarta. Konser ini merupakan bagian dari Welcome Back Tour 2024-25 Asia Tour untuk merayakan 15 tahun grup ini debut. Berdiri di bawah YG Entertaiment, 2NE1 hanya aktif selama 2009-2016 tetapi berhasil mencatat prestasi sebagai salah satu pelopor Gelombang Korea ke ranah global.

Tren kuliner

Tren kuliner menjadi salah satu faktor utama yang memicu perilaku FOMO dan YOLO di media sosial. Contohnya cokelat Dubai yang menjamur di media sosial pada 2024. Menurut tinjauan Tim Jurnalisme Data Harian Kompas pada Google Trends, pencarian kata ”dubai chocolate” mulai menanjak sejak Agustus 2024 dan memuncak pada November 2024.

Sejumlah pelaku usaha pangan Tanah Air pun berlomba-lomba memproduksi cokelat tersebut pada periode tersebut. Tak jarang, terpantau antrean konsumen di gerai-gerai yang menjual cokelat berisi kataifi atau kunafa dengan pasta kacang pistachio.

Penutur kuliner (food blogger) juga punya andil dalam memviralkan produk pangan. Maria (28), karyawan swasta di Jakarta Barat, mengaku selalu mencoba makanan hasil ulasan. ”Setelah hasil review restoran oleh food blogger diposting di media sosial, aku merasa gak boleh ketinggalan ini. Harus cepat ke sana, meski sebenarnya enggak tahu bakalan suka atau enggak dengan makannya,” kata Maria tertawa.

Sejumlah warga tampak mengantre di seberang lapak yang menjajakan cokelat dubai di sebuah pusat perbelanjaan, Jakarta, Minggu (8/12/2024), sekitar pukul 16.30. Pada saat itu, cokelat dubai (cokelat yang berisi kataifi dengan pasta kacang pistacio) yang dijual tengah viral di media sosial.

Rasa penasaran

Rasa penasaran Maria akan rasa makanan semakin tinggi, saat melihat antrean orang di video hasil unggahan food blogger. Hal itulah yang membuatnya semakin tidak ingin ketinggalan mencoba rasa makanannya.

Quote

”Aku penasaran, pengin tahu apakah makanan itu worth it untuk diantre atau tidak dari sisi harga. Aku merasa, ketinggalan kalau teman-temanku di instagram sudah mengantre makanan (viral) itu, sedangkan aku belum,” ucap Maria Rabu 5/3/2025. 

Maria tahu risiko yang harus dijalaninya saat mencoba makanan viral, yakni antrean yang panjang. Namun, demi memuaskan rasa penasaran dan tidak ingin ketinggalan, ia rela mengantre berjam-jam.

Vero (28), karyawan swasta di Jakarta Barat, sedang mengantre kuliner Serabi Notosuman di salah satu pusat perbelanjaan di Kabupaten Tangerang, Banten, Sabtu, 8/3/2025. Setelah melihat hasil ulasan penutur kuliner di media social, Vero merasa tak ingin ketinggalan dan penasaran ingin mencoba makanan tersebut. Rasa penasaran Vero akan rasa makanan semakin tinggi, saat melihat antrian orang di video hasil unggahan food blogger

Salah satu makanan favoritnya adalah pecel ayam di Kawasan Dharmawangsa, Jakarta Selatan. ”Aku antre pecel ayam itu sampai satu setengah jam. Tapi worth it-lah. Rasanya enak dan harganya juga bersahabat,” kata Maria. 

Maria tidak punya preferensi khusus makanan yang ingin dicobanya. Makanan tradisional, makanan Barat, Asia dicobanya. Hanya saja, dia tidak suka dengan jenis makanan masakan rumah seperti nasi sayur. Jadi, saat salah satu penutur kuliner yang diikutinya dalam media sosial mengulas sebuah warteg di Tebet, Maria tidak tertarik untuk mencobanya. 

Biasanya selama hari kerja, dia mencatat makanan apa saja yang viral dari hasil ulasan penutur kuliner. Baru di akhir pekan, dia dan suaminya akan menentukan lokasi tempat mana yang akan dituju. 

Sejumlah warga tampak mengantre di depan kios yang menjajakan donat labu di kawasan Blok M, Jakarta, Selasa (23/4/2024), sekitar pukul 18.00. Pada saat itu, donat labu yang dijual tengah viral di media sosial.

Namun sebelum menentukan restoran, dia akan melihat harga makanan terlebih dulu yang tercantum dalam hasil ulasan atau akan menggunakan mesin pencari Google untuk mencari tahu harganya. Jika harga satu porsi makanan lebih dari Rp 150.000, ia akan mengurungkan diri untuk mencoba makanan tersebut. Untuk memuaskan hobinya ini, Maria menetapkan bujet berkisar Rp 500.000-600.000 per bulan.

Setelah mencoba makanan viral, biasanya Maria akan mengunggahnya ke media sosial Instagram melalui fitur Instagram Story. Selain video atau foto, Maria akan memberi penilaian dari skala 1 sampai 10 untuk makanan yang ia coba. Hasil ulasannya ini, selanjutnya menjadi rujukan teman-temannya saat akan mencoba kuliner di Kawasan Jabodetabek.

Sesuai dengan kemampuan

Pengamat sosial budaya Idi Subandy menyarankan gaya hidup sebaiknya sesuai dengan kemampuan. Selama ini banyak gaya hidup masyarakat diarahkan lingkungan sekitar atau meniru orang lain, meski kondisi ekonominya berbeda.

Ia pernah memberi masukan kepada temannya yang hendak menyelenggarakan pesta pernikahan anaknya. ”Jangan samakan orang yang bisa menyelengarakan pesta Rp 1 miliar dengan kamu yang punya 200 juta. Kamu harus membujuk calon besanmu untuk pesta Rp 100 juta saja. Sisanya Rp 100 juta bisa buat rumah anak kamu,” kata Idi, Rabu (12/2/2025). 

Menurut Idi, untuk menyenangkan anak dapat didefinisikan secara sederhana. Kebahagiaan bukannya dilarang, tetapi dapat diatur. Jika kebahagiaan seorang anak membuat tabungan ibu bapaknya habis, secara rasional hal itu justru menjerat kehidupan orangtua. 

Idi Subandy IbrahimPengamat media dan budaya pop

Kontribusi media

Idi menilai kehadiran media berkontribusi mengubah gaya hidup masyarakat yang semula sarat dengan hidup hemat. Salah satunya ketika muncul bahasa cuan setelah tahun 2020. Setelah media-media asing masuk ke Indonesia, kata cuan tidak hanya sekadar bahasa, melainkan menjadi logika. Cuan yang identik dengan uang atau untung. 

Quote

”Cuan itulah yang mewakili pandangan materialistik dari masyarakat kita. Semuanya cuan… cuan… cuan di TV. Jadi, orang tidak melihat efek dari kata-kata cuan itu. Cuan dipakai secara membabi buta mempengaruhi kesadaran generasi saat ini. Jadi ekspresi kesuksesan itu kalau banyak cuan,” lanjut Idi. 

Menurut dia, sebuah hasil tidak dilihat dari prosesnya, tetapi cuannya. Hal itu mengonstruksi gaya hidup bahagia dengan memiliki sesuatu. Ekspresi kesuksesan diukur dengan kepemilikan. 

Untuk mengikuti liputan tema ini selengkapnya, kami mengajak Anda bergabung dalam grup Whatsapp Pembaca Kompas ”Investigasi & Jurnalisme Data” dengan mengeklik tautan link ini.

Kami juga ingin mendengarkan pandangan Anda tentang artikel ini melalui survei lewat berikut ini


Kerabat Kerja

Penulis:

Margaretha Puteri Rosalina, M Paschalia Judith J, Pandu Wiyoga, Albertus Krisna
 | 

Editor:

Andy Riza Hidayat, Margaretha Puteri Rosalina