Mulai Pekan Depan Cek Kesehatan Gratis Anak Sekolah Dilakukan Serentak, 53 Juta Anak Jadi Sasaran

Sebanyak 53,8 juta anak di lebih dari 280.000 sekolah akan menjadi sasaran program cek kesehatan gratis sekolah.

31 Jul 2025 14:24 WIB · Kesehatan

Oleh Deonisia Arlinta

JAKARTA, KOMPAS — Program cek kesehatan gratis anak sekolah secara serentak akan mulai dilakukan pada 4 Agustus 2025. Sebanyak 53,8 juta anak di lebih dari 280.000 sekolah akan menjadi sasaran program tersebut. Berbagai pemeriksaan akan diberikan, antara lain pemeriksaan gizi, tekanan darah, kesehatan reproduksi, dan kesehatan jiwa.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers ”Kick-off Cek Kesehatan Gratis Sekolah”, di Jakarta, Kamis (31/7/2025), mengatakan, program cek kesehatan gratis anak sekolah sudah berjalan sejak tanggal 14 Juli 2025 lalu di Sekolah Rakyat.

Pada 4 Agustus 2025, program ini baru akan dimulai di sekolah lainnya, mulai dari tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan atas, serta madrasah.

”Cek kesehatan gratis ini diperlukan agar kita dapat mengetahui kondisi kesehatan anak-anak kita dan bisa menjaga kesehatan anak-anak kita. Menjaga kesehatan lebih penting dan lebih bermanfaat dibandingkan menyembuhkan kesakitannya,” tuturnya.

Jenis pemeriksaan untuk anak sekolah akan berbeda-beda di setiap jenjang sekolah. Untuk anak sekolah dasar atau sederajat akan mendapatkan 13 jenis pemeriksaan, antara lain status gizi, tingkat aktivitas fisik, tekanan darah, gula darah, tuberkulosis, mata, telinga, gigi, hepatitis B, kesehatan reproduksi, dan jiwa.

Quote

Cek kesehatan gratis ini diperlukan agar kita dapat mengetahui kondisi kesehatan anak-anak kita dan bisa menjaga kesehatan anak-anak kita.

Sementara anak sekolah di jenjang sekolah menengah pertama atau SMP akan mendapatkan 15 jenis pemeriksaan dengan tambahan pemeriksaan anemia, talasemia, dan riwayat imunisasi HPV. Untuk jenjang sekolah menengah atas (SMA) dan sederajat akan mendapatkan pemeriksaan yang sama dengan jenjang SMP, tetapi tanpa pemeriksaan riwayat imunisasi HPV.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan Maria Endang Sumiwi menuturkan, anak di jenjang sekolah dasar tidak akan dilakukan pemeriksaan darah. Pemeriksaan darah dengan metode cucuk jari baru akan diberikan kepada anak di jenjang SMP dan SMA.

Jenis Pemeriksaan Cek Kesehatan Gratis Anak Sekolah

Sebelum pemeriksaan dilakukan, pihak sekolah ataupun pesantren akan memberikan kuesioner kepada orangtua terkait dengan pemeriksaan yang akan dilakukan. Hasil dari pengisian kuesioner tersebut akan menjadi rujukan bagi puskesmas untuk mempersiapkan alat kesehatan dan bahan lainnya yang diperlukan untuk pemeriksaan.

Endang mengatakan, pelaksanaan cek kesehatan gratis akan dilakukan serentak di seluruh Indonesia, tetapi tetap mempertimbangkan waktu yang sudah dijadwalkan oleh puskesmas dan sekolah. Diperkirakan, pelaksanaan cek kesehatan gratis untuk 53,8 juta anak bisa selesai pada Desember 2025.

Terkait dengan kebutuhan SDM yang akan melakukan pemeriksaan, setidaknya akan ada empat petugas yang disiapkan, yakni dua orang dari puskesmas dan dua orang dari sekolah. ”Jadi, kita memang butuh setidaknya empat orang dalam satu kali pemeriksaan. Nanti bisa dibantu juga dari pustu (puskesmas pembantu),” katanya.

Endang menambahkan, bagi anak lain yang tidak mendapatkan pendidikan formal akan diarahkan untuk tetap melakukan cek kesehatan gratis di puskesmas terdekat. Waktu pemeriksaan bisa dilakukan selama program ini berjalan hingga akhir tahun 2025.

Masalah kesehatan

Budi menyampaikan, berdasarkan pemeriksaan kesehatan yang sudah dilakukan di Sekolah Rakyat ditemukan sejumlah masalah kesehatan. Dari sekitar 7.400 anak di 72 Sekolah Rakyat, setidaknya 49 persen anak ditemukan mengalami masalah kesehatan gigi.

Selain itu, 33 persen anak ditemukan memiliki tingkat kebugaran yang kurang dan 26,6 persen anak mengalami anemia. Masalah lain yang juga cukup banyak ditemukan pada anak sekolah adalah terkait masalah kecemasan dan depresi.

Dokter memeriksa kondisi gigi murid Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Bolon Colomadu di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Soelastri, Solo, Jawa Tengah, Rabu (20/11/2019). Kegiatan ini merupakan sarana edukasi bagi pelajar tentang pentingnya kesehatan gigi dan mulut. Para murid juga dikenalkan dengan berbagai layanan rumah sakit dalam kegiatan tersebut. KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Dari temuan masalah kesehatan pada anak sekolah ini tindak lanjut pun akan dilakukan. Salah satunya dengan memperkuat kerja sama antara Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk meningkatkan kebugaran anak sekolah. Program kesehatan, seperti senam sehat, diusulkan agar bisa masuk dalam kurikulum anak sekolah.

Budi menambahkan, tindak lanjut lain akan dilakukan pula untuk mengatasi masalah gigi yang banyak ditemukan di kalangan anak sekolah. Tingginya masalah gigi, menurut dia, terkait dengan masalah jumlah dokter gigi yang masih kurang di Indonesia.

”Kita kekurangan sekitar 4.000 dokter gigi. Jadi, kebijakan yang akan kita dorong adalah bagaimana kita bisa mengakselerasi produksi dokter gigi. Di beberapa layanan memang dokter giginya tidak ada. Task-shifting bisa dilakukan agar tugas dokter gigi, seperti membersihkan karies, bisa digeser ke tenaga kesehatan lain yang ada di puskesmas,” tuturnya.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno menyampaikan, program cek kesehatan gratis merupakan program yang fundamental untuk mendukung pembangunan masyarakat yang unggul di Indonesia. Pemeriksaan kesehatan terhadap anak sekolah tidak sekadar untuk mendeteksi penyakit sejak dini agar segera diobati. Program ini diharapkan dapat mendorong perbaikan ekosistem yang lebih baik di masyarakat untuk hidup lebih sehat.

”Jadi, bapak ibu guru dan orangtua dimohon untuk memperbaiki ekosistem hidup sehat bagi anak-anak, termasuk menjaga kualitas sanitasi, air bersih, kebersihan sekolah dan kantin, dan edukasi anak untuk makan minum dan jajan yang sehat, serta berolahraga dan tetap bergembira,” ujarnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Deonisia Arlinta
 | 

Editor:

Nasrullah Nara
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra