Serikat pekerja mendesak pemerintah mengambil langkah antisipasi untuk mencegah gelombang PHK di sektor elektronik.
21 Feb 2025 20:18 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Penutupan pabrik PT Sanken Indonesia di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada Juni 2025 berdampak pada 457 pekerja. Manajemen perusahaan induk di Jepang memutuskan untuk menghentikan pengoperasiannya karena PT Sanken Indonesia telah mengalami kerugian sejak 2019.
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Setia Diarta mengatakan, keputusan penutupan pabrik PT Sanken Indonesia di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, langsung dari perusahaan induknya atau mother company di Jepang.
”PMA (penanaman modal asing) dari Jepang asli. Manajemen PT Sanken Indonesia pada Februari 2024 sudah berencana menghentikan produksi. Tetapi, dengan pertimbangan dan selanjutnya akan diberhentikan produksi pada Juni 2025. Total ada sekitar 450 pegawai yang tercatat,” kata Setia, Jumat (21/2/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/21/a4133d9ab94c612f592ff72660c199ed-IMG_20250221_152549.jpg)
Terkait transisi masalah kepegawaian, lanjut Setia, pihak PT Sanken Indonesia telah mempersiapkan upah untuk pensiun. Selain itu, pihak perusahaan berkomunikasi untuk menawarkan para pekerja ke pabrik-pabrik PMA Jepang yang ada di sana. Pihak perusahaan juga membekali para pekerja yang tertarik dengan pelatihan kewirausahaan.
”Bukan PHK (pemutusan hak kerja), ya. PHK, kan sepihak. Ini memang golden shake hand (pensiun dini). Ini sesuai dengan ketentuan peraturan Undang-Undang Ketenagakerjaan,” ujar Setia.
Setia menekankan, penghentian lini produksi PT Sanken Indonesia ini bukan karena iklim usaha di Indonesia. Namun, lebih pada kebijakan manajemen perusahaan induk di Jepang untuk berhenti karena perusahan PT Sanken Indonesia sudah merugi sejak tahun 2019.
Pada periode tahun 2017-2019, divisi terkait power supply dan transformator di perusahaan induk dijual kepada grup perusahaan lain di Jepang.
Namun, kepemilikan PT Sanken Indonesia tidak ikut berpindah sehingga berakibat tidak ada lagi dukungan pemutakhiran desain dan teknologi produk terhadap PT Sanken Indonesia dari perusahaan induk di Jepang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/02/14/5539c3b7-ff61-41ad-8d46-e176832eb6b9.png)
Alasan kedua, perusahaan tidak mampu bersaing untuk menyesuaikan dengan produk-produk baru.
”Perusahaan terus mengalami kerugian. Kerugian ini juga menjadi perhatian mengingat produk PT Sanken Indonesia tidak lagi menjadi bisnis utama Sanken Electric yang fokus kepada pengembangan produk semikonduktor,” ungkapnya.
PT Sanken Indonesia sudah mulai memberikan dukungan desain produk existing mereka kepada perusahaan lain agar dapat diproduksi dalam rangka memenuhi kebutuhan pelanggannya.
Adapun produk yang dihasilkan PT Sanken Indonesia adalah switch mode power supply dengan kapasitas produksi sebesar 3,95 juta pieces per tahun dan transformator dengan kapasitas produksi mencapai 4,32 juta per tahun. Pangsa pasar mereka untuk sektor otomotif dan elektronik.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2018/12/10/59fd407a-6ee2-42a9-a87b-fff21b5d43bf_jpg.jpg)
PT Sanken Indonesia masih berproduksi dengan utilitas sekitar 10 persen untuk memasok kebutuhan komponen otomotif bagi pelanggannya di dalam negeri sampai Juni 2025.
PT Sanken Indonesia berdiri sejak tahun 1997 di kawasan industri MM 2100 Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Total investasi yang telah mereka gelontorkan sebanyak Rp 49 miliar yang merupakan penanaman modal asing (PMA).
Selain itu, Setia menegaskan bahwa PT Sanken Indonesia dengan PT Sanken Argadwija merupakan dua perusahaan yang berbeda. Adapun perusahan PT Sanken Argadwija berada di Tangerang, Banten.
Presiden Partai Buruh sekaligus Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengatakan, dengan penutupan pabrik PT Sanken Indonesia berarti sekitar 400 buruh dipastikan mengalami PHK per Juni 2025. Sebanyak 400 orang itu bagian dari KSPI. Adapun pada 2024, perusahaan sudah melakukan PHK terhadap sekitar 500 buruh.
”Ditutupnya pabrik Sanken di Indonesia telah mengakibatkan 900 buruh kehilangan pekerjaan dengan masa kerja rata-rata 15 tahun, dengan usia pekerja 30-40 tahun, yang bisa dipastikan akan sulit mencari kerja setelah di-PHK,” kata Said melalui siaran pers, Jumat (21/2/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/01/14/7f09c98c-e44c-400e-98ac-0c55aa4f5acc.jpg)
Dampak serius lainnya dari PHK adalah angka pengangguran yang semakin tinggi. ”Manajemen perusahaan sudah memberitahu kepada karyawan dari satu tahun yang lalu bahwa perusahaan akan ditutup atau berhenti beroperasi pada Juni 2025,” lanjut Said.
Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI)-KSPI PT Sanken Indonesia masih terus berunding dengan manajemen perusahaan tentang nilai pesangon dan hak-hak lainnya yang akan diterima pekerja.
PT Sanken Indonesia yang berasal dari Jepang tersebut, menurut Said, telah setuju untuk memberikan pesangon karyawannya sebesar 2,6 kali peraturan undang-undang atau 1,6 kali di atas 1 kali peraturan undang-undang.
Adapun pesangon diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 35 Tahun 2021.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/18/fbae3ff0-03cf-48e5-ae40-7b8a4be1c527_jpg.jpg)
Namun, serikat pekerja masih menegosiasikan di atas tiga kali peraturan undang-undang. Alasannya, dengan rata-rata usia yang sudah di atas 40 tahun, pekerja akan sulit mencari pekerjaan baru setelah PHK. Lagipula, perusahaan telah mendapatkan keuntungan besar selama beroperasi di puluhan tahun di Indonesia.
”Kedua belah pihak bersepakat tidak akan melibatkan pihak ketiga, termasuk pemerintah dalam perundingan internal ini,” kata Said.
Tutupnya PT Sanken Indonesia, menurut Said, menjadi alarm darurat ancaman PHK puluhan ribu karyawan di sektor industri elektronik lainnya. Pada akhir Desember 2024 atau awal Januari 2025, perusahaan elektronik asal Jepang lainnya yang memproduksi alat musik dengan orientasi ekspor telah mem-PHK sekitar 400 buruh di Bekasi dan 700 buruh di Jakarta.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/04/869b6410-6bae-4c0c-ac25-04255e1c8bee_png.png)
Atas persoalan PHK besar-besaran di dua perusahaan Jepang tersebut, Said melanjutkan, Partai Buruh dan KSPI menuntut pemerintah untuk mengambil langkah antisipasi terhadap ancaman PHK puluhan ribu buruh di sektor elektronik elektrik dan ratusan ribu buruh yang sudah terkena PHK di sektor tekstil, garmen, dan sepatu sepanjang 2024.
”Bila tidak ada solusi dan langkah-langkah yang jelas dari pemerintah, bisa dipastikan angka pengangguran akan meningkat, PHK terjadi di mana-mana, dan industri nasional terancam bangkrut,” kata Said.
”Industri nasional harus diselamatkan agar terhindar dari PHK besar-besaran,” kata Said.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/07/2f83a707-8b2c-4f9d-9e35-ffb6d7d50692_jpg.jpg)
Sementara itu, Direktur Marketing PT Sanken Argadwija Esmond H Tirtajasa saat dikonfirmasi menegaskan bahwa pabrik PT Sanken Indonesia di Kabupaten Bekasi yang akan ditutup bukan bagian dari PT Sanken Argadwija yang berlokasi di Tangerang, Banten.
Beredar foto di media sosial serta sejumlah media massa elektronik yang menampilkan pabrik PT Sanken Argadwija dengan narasi akan tutup.
”Kami cukup kaget juga dengan berita dan informasi yang beredar dan foto pabrik kami tersebar. PT Sanken Argadwija tidak tutup,” kata Esmond saat dihubungi di Jakarta, Jumat (21/2/2025).
PT Sanken Argadwija, lanjut Esmond, merupakan pabrik yang memproduksi alat alat rumah tangga elektronik, seperti lemari pendingin atau kulkas, mesin cuci, televisi, penanak nasi, dan produk elektronik rumah tangga lainnya.
Penegasan bahwa PT Sanken Argadwija yang telah beroperasi sejak 1995 tidak ditutup ini menjadi informasi penting untuk masyarakat karena bisa membuat bingung masyarakat terutama pelanggan yang menggunakan produk PT Sanken Argadwija.
Esmond meminta pelanggan atau masyarakat tak perlu khawatir karena PT Sanken Argadwija tetap beroperasi sehingga pelayanan konsumen, seperti jaringan servis produk, sama sekali tidak terganggu. Begitu pula penjualan produknya.
Penulis:
Aguido AdriEditor:
Muhammad Fajar Marta