Pelajar Dapat Diarahkan Memanfaatkan GenAI secara Bertanggung Jawab

Memanfaatkan GenAI dalam pembelajaran dapat membantu pelajar mengerjakan tugas dan mendapat nilai baik. Pemanfaatannya perlu didukung panduan dan literasi AI.

07 Jun 2025 10:28 WIB · Dikbud

Oleh Ester Lince Napitupulu

Ada banyak spekulasi penggunaan generative artificial intelligence atau GenAI oleh mahasiswa. Namun, sebuah studi baru dari University of British Columbia (UBC) Okanagan, Kanada, menunjukkan mahasiswa dapat diarahkan untuk penggunaan GenAI secara bertanggung jawab.

Oleh karena itu, penting bagi perguruan tinggi dan dosen menawarkan panduan kepada mahasiswa tentang risiko dan manfaat penggunaan GenAI. Kebijakan mengenai penggunaannya dalam pembelajaran merupakan kebijaksanaan dosen atau instruktur masing-masing.

Meaghan MacNutt, yang mengajar etika profesional di Sekolah Ilmu Kesehatan dan Olahraga di UBC Okanagan mengutarakan hal itu dalam publikasi yang diterbitkan di jurnal Advances in Physiology Education yang diakses pada Sabtu (7/6/2025).

Para mahasiswa tampaknya menggunakan GenAI secara bertanggung jawab. Pemanfaatan GenAI sebagai cara untuk mempercepat tugas, bukan sekadar mendongkrak nilai mereka.

Siswa SD mengikuti lomba merakit robot dalam AI and Robotic Innovation Expo di Pluit Village Mall, Jakarta, Kamis (24/10/2024). Kegiatan ini merupakan ajang tahunan yang menampilkan inovasi dan kompetisi dalam dunia kecerdasan buatan dan robotika. Tahun ini, AI and Robotic Innovation Expo menghadirkan berbagai lomba kecerdasan buatan dan robotika untuk siswa hingga mahasiswa. Kegiatan yang berlangsung hingga 27 Oktober 2024 ini juga diramaikan dengan lokakarya dan Young Innovator Award. KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA) 24-10-2024

Dalam tulisan berjudul ”Tugas Menulis Reflektif di Era GenAI: Perilaku dan Sikap Mahasiswa Menunjukkan Kegunaan, Bukan Kesia-siaan”, MacNutt menyatakan temuan ini bertentangan dengan kekhawatiran umum tentang penggunaan AI oleh mahasiswa.

”Alat GenAI seperti ChatGPT memungkinkan pengguna berinteraksi dengan model bahasa yang besar. Alat ini menawarkan janji yang luar biasa untuk meningkatkan pembelajaran siswa, tetapi alat ini juga rentan disalahgunakan dalam penyelesaian tugas menulis,” ujarnya.

Penulisan reflektif dipilih karena digunakan secara luas dalam pendidikan tinggi sebagai sarana untuk meningkatkan dan menilai pembelajaran mahasiswa.

Aktivitas seperti membuat jurnal, membuat blog, dan menulis esai reflektif mendorong mahasiswa terlibat secara mendalam dengan konten mata kuliah dan dengan pengalaman, pikiran, dan emosi mereka untuk mendapat wawasan, membuat makna, dan berkembang sebagai pelajar.

Jenis latihan menulis reflektif ini telah dipromosikan sebagai strategi untuk mendukung kesetaraan dan inklusi dalam pendidikan.

MacNutt memaparkan, banyak mahasiswa berupaya keras mencapai keunggulan. Sering kali mengorbankan kesejahteraan mental mereka. Dalam riset, penggunaan GenAI oleh mahasiswa terinspirasi satu dari faktor berikut, yakni kecepatan dan kemudahan menyelesaikan tugas, keinginan mendapatkan nilai tinggi, dan keinginan belajar.

Siswa SMA Katolik Frateran membuat cerita bergambar dengan aplikasi berbasis kecerdasan buatan di Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya, Senin (10/6/2024). Dalam kesempatan tersebut pelajar yang hadir diberi pengetahuan dasar mengenai aplikasi-aplikasi yang menggunakan kecerdasan buatan. Selain itu pelajar juga diberi arahan untuk bijaksana dalam menggunakan aplikasi berbasis kecerdasan buatan. Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

”Potensi ini telah menimbulkan kekhawatiran tentang GenAI sebagai ancaman serius terhadap integritas akademis dan pembelajaran yang terjadi saat siswa menyusun dan merevisi karya tulis mereka sendiri,” kata MacNutt.

Quote

Alat GenAI seperti ChatGPT memungkinkan pengguna berinteraksi dengan model bahasa yang besar. Alat ini menawarkan janji luar biasa untuk meningkatkan pembelajaran siswa, tetapi alat ini juga rentan disalahgunakan dalam penyelesaian tugas menulis.

Pada studi ini, periset meneliti mahasiswa dalam tiga mata kuliah berbeda yang diikuti hampir 400 peserta. Mereka secara anonim menyelesaikan survei penggunaan AI pada sedikitnya lima tugas menulis reflektif. Ketiga mata kuliah memakai kebijakan AI yang identik dan mahasiswa memiliki pilihan menggunakan alat itu untuk menulis.

Meski hanya sekitar sepertiga siswa yang menggunakan AI, mayoritas pengguna atau 81 persen melaporkan penggunaan GenAI mereka terinspirasi setidaknya satu dari faktor berikut: kecepatan dan kemudahan menyelesaikan tugas, serta keinginan mendapat nilai tinggi dan belajar.

Sekitar 15 persen siswa mengatakan bahwa mereka termotivasi oleh ketiga faktor tersebut. Namun, mayoritas atau lebih dari 50 persen menggunakannya untuk menghemat waktu dalam mengerjakan tugas.

Sebagian besar mahasiswa menggunakan AI untuk memulai makalah atau merevisi bagian-bagiannya. Hanya 0,3 persen tugas yang sebagian besar ditulis oleh GenAI.

”Ada banyak spekulasi tentang penggunaan AI oleh mahasiswa. Namun, mahasiswa dalam penelitian kami melaporkan bahwa penggunaan GenAI lebih dimotivasi oleh pembelajaran daripada nilai. Mereka menggunakan perangkat GenAI secara selektif dan dengan cara yang mereka yakini etis dan mendukung pembelajaran mereka,” kata MacNutt.

Menurut MacNutt, hal itu agak tidak terduga. Persepsi umum menganggap mahasiswa tingkat sarjana semakin berfokus pada nilai dengan mengorbankan pembelajaran.

Berkolaborasi dengan GenAI

Dosen Sekolah Ilmu Kesehatan dan Olahraga di UBC Okanagan, Tori Stranges, memaparkan studi ini memunculkan beberapa peringatan. GenAI dapat menjadi alat yang berguna bagi siswa yang belajar bahasa Inggris atau orang-orang dengan disabilitas membaca dan menulis.

Namun, ada juga potensi bahwa jika versi berbayar lebih baik, mahasiswa yang mampu menggunakan platform yang lebih efektif mungkin memiliki keunggulan dibandingkan dengan yang lain, yang menciptakan ketidakadilan kelas lebih lanjut.

MacNutt mengatakan, riset lanjutan bidang ini hanya dapat memberikan pemahaman lebih baik tentang perilaku dan sikap siswa seiring berkembangnya teknologi GenAI.

Ia juga menyarankan, meskipun AI terus digunakan lebih sering, lembaga dan pendidik mengadopsi pendekatan yang mewujudkan ”kolaborasi dengan” daripada ”pengawasan” siswa.

<p>Perkembangan Kecerdasan Buatan di Indonesia Artificial Intelligence (AI) Infografik Kompas.id</p>

Temuan terbaru dari UBC Okanagan bisa jadi bertentangan dengan kekhawatiran umum tentang penyalahgunaan GenAI oleh mahasiswa secara luas. Penggunaan berlebihan GenAI dapat mengorbankan integritas dan pembelajaran akademis.

”Namun, seiring dengan kebijakan kami, atau cara kami mengajarkan mahasiswa cara menggunakannya, kami harus mengingat bahwa mahasiswa berasal dari tempat amat yang berbeda. Dan mereka memiliki cara berbeda untuk mendapatkan manfaat atau dirugikan oleh teknologi ini,” kata MacNutt.

Selain itu, penting untuk memahami dan menanggapi keberagaman ini untuk mengembangkan strategi inklusif dan adil membantu memaksimalkan manfaat GenAI sambil meminimalkan bahayanya.

Ia juga menyarankan, meskipun AI terus digunakan lebih sering, lembaga dan pendidik mengadopsi pendekatan yang mewujudkan ”kolaborasi dengan” daripada ”pengawasan” mahasiswa.

Secara terpisah, penelitian dari Universitas Monash, Australia, yang diterbitkan di jurnal Nature Human Behavior menyoroti penggunaan GenAI untuk meningkatkan pembelajaran manusia sekaligus menumbuhkan keterampilan berpikir kritis dan refleksi diri pada manusia untuk bermitra secara efektif dengan GenAI.

”Bayangkan siswa berdebat dengan kembaran digital Socrates untuk mengeksplorasi filsafat Yunani kuno, mempelajari teknik melukis impresionis dari mentor robot humanoid dimodelkan Claude Monet, atau memvisualisasikan teori relativitas khusus Einstein dalam realitas virtual,” kata Profesor Dragan Gasevic, Direktur Pusat Analisis Pembelajaran di Fakultas Teknologi Informasi Universitas Monash (CoLAM).

Menurut Gasevic, perangkat AI yang canggih akan menjadi bagian penting dalam masyarakat, mengubah cara kita belajar, bekerja, dan hidup. Teknologi GenAI dapat meresap ke setiap aspek pembelajaran manusia.

Mahasiswa Universitas Atma Jaya Jakarta memprogram robot dalam AI and Robotic Innovation Expo di Pluit Village Mall, Jakarta, Kamis (24/10/2024). Kegiatan ini merupakan ajang tahunan yang menampilkan inovasi dan kompetisi dalam dunia kecerdasan buatan dan robotika. Tahun ini, AI and Robotic Innovation Expo menghadirkan berbagai lomba kecerdasan buatan dan robotika untuk siswa hingga mahasiswa. Kegiatan yang berlangsung hingga 27 Oktober 2024 ini juga diramaikan dengan lokakarya dan Young Innovator Award. KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA) 24-10-2024

Meskipun perangkat AI dapat meningkatkan proses dan kemampuan pembelajaran, kata Peneliti Pusat Analisis Pembelajaran lainnya Dr Lixiang Yan, tetap saja menimbulkan dilema etika terkait dengan transparansi, privasi, dan kesetaraan, serta telah menimbulkan gangguan dalam proses penilaian.

Maka dari itu, menjadi suatu kebutuhan krusial yang harus dipenuhi untuk peningkatan literasi AI bagi siswa dan guru. Hal ini untuk memastikan integrasi AI yang efektif ke dalam pembelajaran manusia.

”Kami mengantisipasi adanya pergeseran peran pendidik. Dengan GenAI yang mengurangi beban penyebaran pengetahuan sehingga guru dapat fokus pada hubungan yang lebih dalam dengan siswa sebagai mentor dan fasilitator,” ujar Yan.

 

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Ester Lince Napitupulu
 | 

Editor:

Evy Rachmawati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .