Sejumlah siswa cenderung kurang suka lauk, seperti tahu dan tempe, ataupun sayur. Penyelenggara mesti lebih kreatif dalam menyediakan menu yang bervariasi.
07 Jan 2025 07:58 WIB · Nusantara
Tidak semua siswa menikmati menu makan bergizi gratis atau MBG yang disediakan di Palembang, Sumatera Selatan. Bahkan, ada siswa SD yang nyaris tidak menyentuh menu MBG karena tidak doyan lauk tempe. Fenomena itu diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara dalam menyediakan menu MBG yang lebih kreatif agar bisa diterima oleh semua siswa.
Program MBG mulai diterapkan di Palembang di lima sekolah, yakni TK Panca Bakti, SD Negeri 24, SD Negeri 25, SMP Negeri 19, dan SMP Negeri 33, pada Senin (6/1/2025). Ada 2.968 siswa dari lima sekolah itu yang menerima MBG.
Menu yang diberikan kepada siswa TK dan SD, terdiri dari nasi putih, lauk utama tahu isi olahan daging ikan, tempe goreng, sayur buncis, dan pisang. Adapun menu untuk siswa SMP adalah nasi putih, tahu isi/pentol ikan, tempe orek, sayur buncis, dan pisang.
Nyatanya, tidak semua siswa bisa menerima menu tersebut. Saat program MBG dimulai di SD Negeri 25 sekitar pukul 09.00, tak sedikit siswa yang tampak seperti terpaksa menyantap menu yang disediakan. Setelah 20-30 menit waktu makan berakhir, ada sebagian siswa yang tidak menghabiskan menunya.
Bahkan, siswa kelas 3C SD Negeri 25, Gibran Khalfani (8), nyaris tidak menyentuh menunya sama sekali. Gibran hanya menyantap tahu isi olahan daging ikan. Selebihnya, dia enggan mencoba nasi, tempe, sayur, dan pisang yang ada di depan matanya. ”Saya tidak suka tempe dan saya juga sudah makan sebelum sekolah,” ujar Gibran saat ditanya dan dibujuk makan oleh sejumlah guru.
Berbeda dengan Vathan Kusuma Dinata (11). Karena belum sarapan, siswa kelas 5B SD Negeri 25 itu menghabiskan menu MBG yang disediakan. Walakin, ia kecewa karena tidak ada daging dan susu seperti informasi yang diterimanya jauh hari sebelum program MBG dimulai.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/06/e31c9f4a-8563-4c5a-8bdc-df638c72cea1_jpg.jpg)
Porsi menu MBG itu pun dianggap kurang mengenyangkan. ”Rasanya mengecewakan, hambar, rempahnya sedikit. Terus, menunya juga tidak ada dagingnya, seperti ayam goreng dan tidak ada susu. Porsinya juga sedikit, kurang mengenyangkan. Pak Prabowo tolong menunya dikasih ayam goreng dan susu, dan porsinya ditambah lagi,” kata Vathan.
Kekecewaan yang dirasakan Vathan turut dirasakan sejumlah siswa SMP Negeri 19 saat menerima program MBG sekitar pukul 12.30. Siswa kelas 9.6 sekolah tersebut, Zaki Sya’ban (14), mengatakan, dia biasanya membawa bekal yang dimasak ibunya, yakni nasi ayam goreng dan telur. Kalau tidak membawa bekal, Zaki diberi uang untuk membeli makanan di kantin sekolah, seperti nasi ayam goreng seharga Rp 5.000 per porsi.
Bagi Zaki, bekal dari ibunya ataupun makanan yang dibeli di kantin sekolah jauh lebih nikmat dibandingkan menu MBG yang disediakan. ”Bekal dari ibu jauh lebih enak karena lebih gurih dan lebih banyak. Makanan kantin juga lebih enak dan banyak menu yang bisa dipilih. Kelebihan dari menu MBG hanya ada buah saja,” tuturnya.
Ke depan, Zaki berharap menu MBG bisa lebih baik. Setidaknya, ada lauk ayam goreng dan telur serta porsinya lebih banyak. Apalagi di SMP Negeri 19, waktu sekolah berlangsung pada pukul 06.40-14.30 setiap hari dari Senin hingga Jumat.
Dengan waktu sekolah yang cukup panjang, Zaki mengaku butuh makan lebih banyak. ”Kalau bisa, porsi menu MBG ditambah dan ada susu seperti yang sudah dijanjikan. Kalau menunya banyak dan lengkap, saya tidak perlu lagi jajan, duitnya bisa ditabung,” kata Zaki.
Kepala SD Negeri 25 Palembang Wiwin Purwanti menuturkan, penyelenggara program MBG harus bisa memahami psikologi anak. Untuk siswa SD, mereka memang cenderung kurang menyukai menu-menu ala orang dewasa yang berupa lauk-pauk dengan bentuk orisinal, seperti tahu, tempe, atau sayur.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/06/50630d84-f059-4d38-a0a4-d805b7d3b784_jpg.jpg)
Untuk mengakali itu, penyelenggara program MBG diharapkan lebih kreatif dengan mengolah bahan baku yang ada menjadi bentuk yang lebih menarik hati para siswa. Tahu dan tempe bisa saja diolah menjadi nugget yang memang disukai siswa karena sering menjadi bekal yang dibawakan orangtua mereka. Sayur bisa diolah menjadi perkedel sehingga bentuk ataupun rasa alami sayur yang kurang disukai bisa lebih menarik.
”Siswa SD biasanya memang kurang suka makan tahu atau tempe dan sayur. Jadi, mohon kepada penyedia menu MBG agar bisa lebih kreatif dalam menyediakan menu, seperti membuat nugget dan perkedel. Menunya juga harus lebih bervariasi agar siswa tidak bosan. Kalau siswa menyukai menu MBG, itu juga berguna untuk mencegah mereka jajan sembarangan yang tidak jelas higienitas dan kadar gizinya,” pesan Wiwin.
Wakil Kepala SMP Negeri 19 Palembang Mety Susiani memiliki pendapat berbeda. Menurut Mety, wajar kalau banyak siswa yang belum bisa menerima atau terbiasa dengan menu MBG. Pasalnya, siswa tidak bisa memilih menu yang diinginkannya, seperti bekal yang dibawakan orangtua mereka ataupun jajanan yang dibeli mereka. Akan tetapi, lama-lama, mereka pasti akan terbiasa dengan menu MBG.
Penyelenggara juga perlu memperhatikan fenomena masih ada siswa yang menolak menu yang disediakan saat ini. Penyelenggara perlu melakukan penyesuaian agar program ini bisa berjalan optimal.
Hanya saja, Mety tetap berharap menu MBG bisa lebih variatif agar siswa tidak bosan. Selain itu, mungkin perlu dibuka ruang untuk mendengarkan usulan siswa mengenai menu yang diinginkan mereka. Dengan begitu, penyelenggara MBG bisa menemukan jalan tengah untuk merancang menu yang bisa diterima para siswa dengan menyesuaikan anggaran yang ada.
”Yang pasti, program MBG ini sangat bermanfaat untuk anak-anak yang selama ini susah makan sayur dan biasa jajan sembarangan. Dengan adanya MBG, kebutuhan gizi mereka bisa tercukupi. Tetapi, penyelenggara juga perlu memperhatikan fenomena masih ada siswa yang menolak menu yang disediakan saat ini. Penyelenggara perlu melakukan penyesuaian agar program ini bisa berjalan optimal,” terang Mety.
Kepala Dinas Pendidikan Palembang Adrianus Amri tidak menafikan bahwa ada siswa yang tidak mau memakan menu MBG ataupun tidak suka dengan menu yang ada. Maka itu, Amri akan menyampaikan kepada penyelenggara program MBG agar bisa mendengar masukan dari para siswa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/06/7207402b-be9e-4b18-8fd1-bd5c5e1a0b20_jpg.jpg)
”Harapan kami, jangan sampai ada siswa yang tidak menghabiskan menu MBG yang disediakan, terutama sayur. Tetapi, kita tidak bisa memaksa siswa kalau mereka tidak menyukai menu tersebut. Untuk itu, penyelenggara MBG perlu lebih kreatif agar cita-cita dari program ini bisa berjalan sesuai harapan,” ujar Amri.
Bagi Yudeti Agustin (37), ibu Amira Naifah selaku siswa kelas 2B SD Negeri 25, program MBG memiliki tujuan yang sangat baik. Dengan adanya MBG, para orangtua bisa menghemat waktu dan materi dalam menyediakan bekal untuk anaknya. Lagi pula, tidak semua orangtua sempat masak pada pagi hari untuk menyediakan bekal dan tidak semua orangtua mampu membeli bahan baku bekal ataupun memberi uang jajan.
Di sisi lain, program MBG bisa mencegah para siswa jajan makanan kaki lima yang tidak jelas higenitas dan kadar gizinya. Belum lagi, SD Negeri 25 tidak ada kantin sehingga para siswa harus keluar sekolah untuk jajan. Padahal, sekolah itu berada persis di pinggir jalan raya yang lalu lintasnya padat sehingga sangat rawan untuk keselamatan siswa.
”Saya berharap program MBG bisa terus berjalan secara konsisten. Jangan sampai, program ini tiba-tiba menghilang. Tetapi, kalau bisa, menunya terus dimodifikasi agar para siswa menyukainya. Kalau menu terus berubah, anak-anak pasti lebih senang untuk menghabiskannya,” ucap Yudeti.
Fenomena ada siswa yang tidak menyukai menu MBG tidak boleh diabaikan. Penyelenggara program MBG harus menjadikannya sebagai bahan evaluasi agar tidak ada lagi Gibran lainnya yang nyaris tidak menyentuh makanan yang ada di depan matanya.
Penulis:
Adrian FajriansyahEditor:
C. Wahyu Haryo PPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari